Breaking News

30 January, 2012

Oh, Seperti Ini Tho Rasanya “Susah”


Sakura kutinggalkan begitu kuncupnya muncul. Sementara, melati di depan pagar tetanggaku meliuk dengan kuncupnya yang hampir mekar. Aku masih bersorak di tiga-empat hari awal kepulanganku ke tanah air: udara bersahabat dan suhu di kisaran 28 derajat! Hore!

Tanpa bermaksud menjadi tokoh antagonis, hari-hari berikutnya memang terpaksa harus kuiringi dengan keluh kesah lantaran 'beringasnya' polusi ibu kota. Langit juga entah kenapa begitu betah menahan uap airnya hingga beberapa hari--sebelum akhirnya diguyurkan dari atas sana--hingga pengap, penat, dan panas udara terkadang membuat sesak nafas. Kalau sudah begini, mana bisa tahan untuk tidak merutuki si kota 'J' ini.
                              
Rumah cukup rapi ketika pintu kubuka pertama kali. Bukan karena si Dia rajin beres-beres, tapi karena rumah ini ketempatan sebagai tempat rehat orang tuaku sebelum mereka berangkat ke Jepang akhir Maret lalu. Dapur bersih, kamar mandi kinclong, kamar tidur rapi. Cukup, bukan?
Masalah yang kuhadapi pertama kali bukanlah koneksi internet yang super lelet itu. Itu sih, aku sudah terbiasa ketika berkali-kali mudik rutin tiap libur smester. Bukan juga sakit perut akibat jajan di pinggir jalan yang sudah ketahuan tidak higienis tapi tetap dibeli itu. Bukan juga masalah karena kehilangan 'cozy places' buat belanja-belanja, lho. Masalahnya juga bukan transportasi. Memang mengganggu dan tidak nyaman, sih, apalagi buat pengendara pasif dan penumpang aktif macam aku.

Ada yang hilang beberapa hari setelah ajeg dengan 'keberduaan' kami. Sepi. Dua puluh empat jam kali sepuluh hari yang kami habiskan berempat benar-benar membuatku rindu. Aku, suami, Mama, dan Papaku. Baik di Jepang maupun di Jakarta. Baik selama maupun setelah kunjungan mereka untuk wisudaku. Hoo uwo, aku rindu!

Mama yang terbalut baju berlapis makin terlihat gemuk dengan warna-warni berlembar-lembar pakaiannya. Ia menjejak ragu-ragu di Chubu International Airport. Bandara yang mewah berdiri di salah satu kota industri besar di Jepang, Nagoya. Mukanya kian membundar dengan topi dan syal rajutnya. Ealah, Ma, ini kan musim semi. Gimana kalau datang pas musim dingin kemarin, coba?

Dia mengabaikan celotehku tentang udara yang sudah dapat dikategorikan hangat ini. Mama, diikuti Papa, lebih sigap untuk buru-buru membenamkan diri dalam futon, selimut musim dingin tebal khas Jepang. Tak peduli pakaian lengkap, tebal, dan berlapis yang membekapnya, dengkuran halus sekonyong-konyong berkicau di flatku. Melupakan semua obrolan tentang rencana jalan-jalan hari itu.

Mama, yang pada dasarnya rentan suhu dingin, bilang tidak akan mandi meski tiga hari hari sudah ia di Jepang. Pintarnya, dia membolak-balik urutan baju-baju yang dipakainya. Aha! Dua hari lalu urutannya: putih, coklat, abu-abu, ungu. Kemarin: abu-abu, coklat, putih, ungu. Hari ini si coat panjang ungu digantinya coat panjang sepaha warna krem. Masih dipadu syal warna senada pula. Tentu saja, selain kami bertiga yang terkikik-kikik melihat strategi bertahan Mama dari air, tidak akan ada yang tahu rahasia ini. Mama apik memadu-padankan jilbab dan syalnya. Dia menyemprotkan parfum kesukaanya.

Mama tetap dengan anti airnya. Pun, ia tetap abai pada semua bujuk rayuku untuk membuatnya mau menyntuh air. Ya ampun, Ma, shower dan keran airnya kan bisa mengeluarkan air panas juga kali! Tapi dia menggeleng cepat, ”Gak ah!”

Aku berhenti berceloteh. Toh, Mama tetap akan menjauhi air seolah benda itu musuh bebuyutannya. Toh, dia tambah jago mengatur-atur urutan bajunya yang berlapis-lapis itu.

Hari keempat, suhu udara meluncur bebas. Turun tidak tanggung-tanggung. Hujan turun separuh beku ketika menyentuh tanah. Kuintip, lampu kamar mandi hidup dengan sesorang di dalamnya. Papa online dari laptopku, suamiku asyik dengan takoyakinya. Loh? Kalau begitu, yang di dalam itu?

Mama!

Setelah bau harum shampo dan sabun membalut tubuhnya, Mama duduk manis di pinggir ranjang. Kami tak perlu bertanya lagi. Ia membaca mata kami yang membundar dengan keheranan luar biasa di wajah kami. ”Mama gak mau kayak orang susah,” ia membuka diplomasinya. Susah? Apanya, sih?

Tak lama, ronanya mendadak sendu. Serius sekali. ”Rupanya begini rasanya orang-orang yang mandi seminggu sekali, ya. Badan lengket, tapi gak bisa bersihin badan. Mereka yang hidup di jalanan, yang gak punya rumah, yang gak punya kesempatan mandi.”
Oalah! Itu tho sebabnya. Kami menahan geli. Bukan karena simpati Mama, tapi karena ternyata alasan itulah yang mendorongnya untuk mandi. Bayangkan!

”Mama juga jadi tahu, deh, rasanya orang yang gak punya baju. Gak mampu beli baju. Seminggu pake baju itu-itu melulu. Gak ganti-ganti. Bau asem. Kotor. Gak punya baju lain.”

Sampai di sini kami tidak tahan untuk tidak tertawa. Mama kan punya air hangat di kamar mandi yang sangat nyaman. Mama juga sudah kusediakan berbagai model dan warna baju hangat. Jadi, bukan karena Mama orang ”susah”, tapi lantaran gigitan udara yang menahan mama keluar dari futonnya setiap pagi. Lantas, sukses menjauhkannya dari air selama berhari-hari itu loh!