Breaking News

30 January, 2012

Non Fiksi: Karena Tuhan telah Berjanji


Tulisan ini terbit di majalah Alia, saya tulis berdasarkan penuturan teman-teman saya saat kami berkumpul bicara tentang Tuhan

Karena Tuhan Telah Berjanji
Oleh: Meidya Derni

            Ruangan itu dipenuhi dengan aroma cinta antar bangsa. Hangat, lembut, bersahaja. Menerobos masuk memenuhi relung-relung hati. Melepaskan belenggu-belengu kerinduan yang terikat dalam jiwa. Kalimat mengalir patah-patah dari bibir-bibir yang tak biasa berucap. Tapi mata-mata itu berkata dengan bahasa cinta dan pengertian.
            Hari itu waktunya bicara tentang Tuhan.  Yang menciptakan wanita-wanita antar bangsa yang hadir pada pertemuan International Ladies Tea.  Tuhan yang membuat hati-hati yang dapat didera kerinduan, kesedihan, kemarahan, keputusasaan. Tuhan yang membuat  jiwa bergelora dipenuhi cinta, kebahagian, kehangatan. Tuhan yang dilupakan lalu didatangi dengan rintihan, sayatan, harapan, derai air mata yang mengalir tanpa henti. Lalu tangan-tangan terangkat, bibir-bibir bergetar meluncurkan senandung doa. Berharap keajaiban terjadi. Karena Tuhan telah berjanji, “… Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…
            Kalimat-kalimat pun mengalir, menebar keyakinan tentang janji Tuhan pada wanita-wanita yang hadir dalam ruangan yang dipenuhi dengan foto-foto penghuni rumah itu.
             “Di tahun 2003, saya datang dari Jordan untuk mengunjungi putri saya Rana. Sudah 5 tahun saya tidak pernah bertemu dengannya. Di benak saya sudah terbayang wajah putri dan cucu-cucu saya yang cantik. Tetapi setibanya saya di Amerika, saya merasakan sakit yang teramat sanggat di dada saya. Lalu Rana membawa saya ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan bahwa dada saya harus segera dibuka, karena ada masalah dengan jantung saya. Memang saya sering merasakan sakit di dada, dan saya tahu ada masalah di jantung saya. Tetapi melakukan operasi jantung di Amerika saat itu, tidak pernah terlintas dalam benak saya. Saya datang ke Amerika untuk bersenang-senang bukan untuk terbaring di rumah sakit. Saya menanggis seketika mendengar keputusan dokter.  Pada malam harinya saya berdoa dengan sepenuh hati pada Tuhan. Saya berkata,” Tuhan, saya butuh bantuan mu saat ini. Sembuhkan saya.”
Kalimat itu saya ulang-ulang sepenuh hati. Saya percaya Tuhan mendengar dan hadir saat itu, untuk menyembuhkan saya. Ketika hari untuk melakukan operasi tiba dokter memeriksa kondisi tubuh saya. Betapa terkejutnya dia melihat perubahan hasil pemeriksaan jantung saya. Dokter tidak menemukan satu keanehan pun di jantung saya, semuanya normal. Saya dinyatakan sehat dan tidak memerlukan operasi. Sejak itu saya percaya Tuhan selalu hadir bersama saya. Jika saya butuh bantuan saya hanya butuh berkata  Tuhan saya butuh bantuann Mu.”
            Kisah lain dituturkan oleh Diane, seorang wanita Amerika yang bertutur tentang kesehatan suaminya. “ Spring break 2007, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami selalu berlibur  di tepi pantai. Sudah satu minggu saya perhatikan kondisi kesehatan suami saya terlihat lemah. Dia terlihat pucat, memegang perutnya, dan sering berbaring. Tetapi jika saya tanya, dia akan berkata saya baik-baik saja. Saat akan pergi berlibur saya tanyakan kembali kondisi kesehatannya. Jawabannya masih sama, dia baik-baik saja.
            Kami pun berangkat menuju penginapan di tepi pantai. Sesampainya di penginapan tersebut, suami saya terlihat semakin lemah. Hal tersebut membuat saya bertanya padanya dengan sunguh-sungguh. Dia pun mengaku bahwa sudah beberapa hari dia mengalami perdarahan saat kebelakang. Pada malam harinya, dia terlihat semakin lemah, saya pun segera membawanya ke rumah sakit. Tetapi dikarenakan malam hari, saya tidak dapat mengemudi dengan cepat, sedangkan kondisi suami saya semakin lemah, untuk membuka mata pun dia tak sanggup. Saya pun menghentikan mobil  di tepi jalan segera memangil  911. Dengan suara berbisik suami saya berkata, “ telepon tim doa.”
            Saya bersama teman-teman memang membentuk kelompok doa, jika seorang teman butuh bantuan, maka secara bersamaaan kami akan berdoa pada Tuhan. Segera saya menghubunggi salah satu anggota, dan yang bersangkutan menghubungi anggota yang lain.
            Suami saya dipindahkan dari mobil saya menuju ambulan, saya mengikuti mobil ambulan cari belakang. Sepanjang perjalanan saya berdoa pada Tuhan untuk menyembuhkan suami saya. Demikian pula tim doa yang berdoa di rumahnya masing-masing, memohon kesembuhan suami saya.
            Sesampainya di rumah sakit, suasana ruang gawat darurat penuh dengan pasien. Suami saya pun harus antri menunggu dokter. Tetapi tiba-tiba suami saya bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri saya. Dia berkata bahwa dia sudah sembuh.  Wajahnya pun tidak tampak pucat lagi dan dia ingin kembali ke penginapan. Tetapi karena kami sudah berada di rumah sakit kami putuskan untuk melakukan pemeriksaan keseluruhan. Ternyata dokter tidak menemukan penyebab suami saya mengalami perdarahan. Dokter berkata suami saya sehat sepenuhnya, tidak ada masalah dalam tubuhnya. Kami pun kembali kepenginapan.  Sepulangnya dari liburan, saya mengajak suami saya kembali ke rumah sakit di kota tempat tinggal saya. Suami saya pun di periksa dari mulai, darah, pipis, kotoran hingga pemeriksaan organ dalam dengan memasukan alat ke dalam tubuhnya. Sekali lagi dokter menyatakan suami saya sehat dan tidak ada gangguan apa pun dalam tubuh suami saya.  Mendengar penuturan dokter saya pun yakin bahwa Tuhan telah menyembuhkan suami saya saat berada di dalam ambulan menuju rumah sakit saat itu.”
            Lain halnya salah satu teman saya yang berasal dari Chili. “ Di tahun 2004 saya merasakan depresi dikarenakan saya merasa hidup saya tidak berguna. Saya tidak memiliki pekerjaan, saya jauh dari teman dan keluarga. Saya ingin berbuat sesuatu agar hidup saya berguna, tetapi saya tidak tahu harus bagaimana.
            Saat itu saya diajak untuk datang ke pertemuan International Ladies Groups, sebelum berangkat saya berkata pada Tuhan bahwa saya butuh bantuannya. Selama ini saya tidak pernah meminta hal tersebut. Tetapi tiba-tiba saja saya merasa ingin meminta bantuan Tuhan.
            Sesampainya di pertemuan itu, saya bertemu dengan seorang wanita yang bekerja di lembaga bantuan wanita. Dia mengajak saya untuk berpartisipasi pada lembaga tersebut. Saat itu saya merasa Tuhan menjawab doa saya.  Sejak saat itu sampai sekarang saya bekerja sebagai tenaga sukarela pada lembaga tersebut. Saya merasa hidup saya berguna dengan menolong wanita-wanita yang datang pada lembaga tersebut. Sejak saat itu saya pun tidak merasa kesepian dan mengalami depresi lagi.”
            Kita sering merasa bahwa Tuhan hanya menolong mahluknya yang sering berbuat baik, yang rajin beribadah sehingga doanya di jawab seketika. Teman saya Thelda, seorang wanita Amerika bertutur pada saya. “Saya dari keluarga yang bermasalah. Saya tahu Tuhan itu ada tetapi saya tidak mengenal Tuhan. Apa sifat Tuhan, bagaimana Tuhan sebenarnya, saya tidak tahu. Hingga suatu hari saat saya remaja, nenek saya meninggal dunia. Saya benar-benar terpukul kehilangan orang yang saya sayangi. Saya menangis setiap hari, hingga suatu hari saya berkata, Tuhan sembuhkan luka di hati saya.
Keesok harinya, saat saya bangun dari tidur saya merasa hati saya begitu damai. Selama itu nenek sayalah yang menyatukan keluarga saya, dan saya merasa setelah kepergiannya, keluarga saya akan berantakan. Tetapi ternyata tidak, Tuhan menghibur saya, Dia tetap menyatukan keluarga saya walau pun nenek saya sudah tiada. Bahkan kini keluarga kami begitu damai dan bahagia dalam kasih sayang Tuhan.”
            Mintalah bantuan pada Sang Pencipta, katakanlah “aku butuh bantuan,” maka Dia akan menjawab. Karena saat berdoa kita bukan berbicara “pada” Tuhan, tetapi kita berbicara “dengan” Tuhan. Dia hadir di hadapan kita, mendengar dan menjawab permintaan kita, terjalin hubungan interaktif.

Mobile, September 2007





0 komentar:

Post a Comment