Breaking News

30 January, 2012

Nomishita


Nomishita
 oleh : Tiwi Dayang

        "Ma,  haus ,  pulang  Ma", gadis kecil berbaju merah muda dengan boneka beruang di tangan kirinya  memelas, mukanya yang putih bersemu merah terpapar sinar matahari terik  tengah hari.
        "Nomishita, sebentar lagi ya sayang, sabar ya anak mama yang cantik, sebentar lagi kita sampai", bujuk wanita berusia tiga puluhan yang dipanggil mama oleh gadis kecil berbaju merah muda itu.
        "Mama, Cita haus...", gadis kecil itu mulai merengek dan menarik tangannya dari pegangan mamanya. Ia berdiri mematung, menunduk ke bumi sambil mendekap erat boneka di dadanya.
        "Ayolah Nomishita, Mama janji nanti Mama belikan  teh manis kesukaan Shita ya", wanita itu tak bosan-bosan membujuk gadis kecilnya, berlutut ia dan memegang kedua bahu buah hatinya untuk sejurus kemudian membawa si gadis kecil dengan boneka beruang itu ke dalam dekapannya  seakan-akan  takut berpisah. Dan akhirnya wanita muda dengan selaksa peristiwa tergurat di wajah orientalnya, memutuskan menggendong Shita gadis kecilnya, dan Shita bocah berumur empat tahun itu hanya menurut saja sambil terus mendekap boneka kesayangannya.
        "Nah  Shita, kita sudah sampai".
        "Itu bukan lumah Cita,  Cita nggak mau.. pulang Ma...huhuhu".
        Akhirnya tangisan Shita tak terbendungkan lagi, suara nyaringnya terdengar ke seantero penjuru . Beberapa penghuni rumah-rumah sederhana di perumahan sekolah itu melongokkan kepala di jendela, ada juga yang keluar rumah dan berpura-pura sibuk di halaman sambil sesekali melihat ke arah dua beranak itu sepertinya  ingin tahu apa yang terjadi, anak siapa  menangis keras-keras di siang bolong yang terik itu.
        "Ini rumah Pakwo, abangnya papa Hary sayang, cup...cup...diam ya, nanti di dalam ada teh manis kesukaanmu".
        "Cita mau pulang, pulaang, ...huuuu".
        Wanita itu tak lagi peduli, segera diketuknya pintu rumah semi permanen bercat hijau yang tak berpagar seperti rumah-rumah yang lain disitu. Diulangi hingga beberapa kali, barulah pintu berderak tanda dibuka seseorang.
        "Assalamualaikum, ada ibu atau ayah di rumah, Izzah?", wanita muda itu menyapa seorang anak usia kurang lebih sebelas tahun yang  tengah menggendong seorang balita dipinggangnya.
        "Oh, Tante Ivon, ayah dan ibu pergi ke kondangan. Mungkin  sebentar lagi pulang", jawab anak yang dipanggil Izzah sembari membetulkan posisi gendongan adiknya.
        "Kalau begitu, Tante tunggu di dalam boleh ya, di luar panas sekali, kasihan Shita".
        "Iya Tan, boleh, silahkan masuk ".

        Rupanya mendapati banyak teman di rumah sederhana itu, Nomishita tak lagi menangis, bahkan ia asik bermain dan bercanda dengan sepupu-sepupunya yang baru dikenalnya hari itu.       
        "Begitulah Kak Gun dan Uni Ell, dua bulan sejak peristiwa itu, Uda Harry tak pernah satu kali pun mengunjungi kami".
        "Iya, Von, keluarga  besar Yesi sangat marah , dan Yesi saat ini terpaksa dirawat, ia benar-benar terpukul.  Bahkan kami kakaknya sendiri tidak tahu kabar Harry saat ini. Apa benar keluarga besar  Yessi mengancam dan memaksa Harry menceraikanmu ?".
        "Iya, kak. Semua sudah terjadi. Uda Harry sudah menjatuhkan talaknya. Dan anak-anak ...anak-anak...setiap waktu menanyakan papanya", akhirnya wanita itu tak mampu lagi membendung  airmata yang menetes satu-satu dari mata sipitnya dan terpekur menatap hampa ke ubin, kesedihan menggurat jelas di wajah pucatnya .
        Teringat kembali masa-masa indah enam tahun yang lalu, saat ia berkenalan dengan Harry, seorang laki-laki yang baik dan simpatik melalui seorang teman. Ivon, seorang gadis Tionghoa , anak pedagang yang kaya raya itu telah jatuh hati  dan tak ada seorangpun yang dapat menasehatinya bahwa orang yang ia sukai adalah seorang laki-laki dengan seorang isteri dan dua orang anak. Bahkan tak seorangpun dari keluarga besarnya yang dapat menghalangi saat ia menyatakan ingin menjadi mualaf dan menikah dengan sang  kekasih hati. Maka terjadilah yang harus terjadi. Pernikahan itu sah menurut hukum dan agama, tapi dilakukan tanpa seizin dan sepengetahuan isteri pertama. Hari-hari berlalu tanpa masalah yang berarti, semua berjalan sesuai harapannya, kehidupan rumah tangga yang berbahagia menurutnya walaupun sang kekasih hati hanya sekali setiap dua minggu mengunjunginya. Dan mereka pun dikaruniai dua orang buah hati, seorang putera dan seorang puteri yang sehat wal afiat dan menggemaskan.
Ingatan akan kedua buah hatinya menyadarkannya dari lamunan panjang.
        "Uni Ell dan Kak Gun, maafkan bila merepotkan. Saya mohon bantuan uni dan kakak berdua, ini tentang Shita. Mohon Shita diijinkan tinggal di sini untuk sementara. Hanya uni dan kakak yang bisa saya percaya untuk mendidik Shita. Mulai saat ini saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup,  dan mulai minggu depan saya bekerja di Jakarta. Sony abangnya Shita akan saya sekolahkan di salah satu pesantren di Jawa. Mengharapkan bantuan papanya anak-anak sungguh mustahil, benar-benar tak ada kabar berita seperti lenyap ditelan bumi. Saya berjanji tahun depan saya akan menjemput Shita ".

Siang kian memudar. matahari perlahan mulai turun dari singgasananya. Wanita muda itu telah pamit dan meninggalkan putri terkasihnya dalam kedamaian yang berbeda. Shita, masih tertidur lelap dan hanya sedikit menggeliat manakala mamanya mencium keningnya dan membisikkan sebait kata-kata cinta : "Mama sayang padamu Shita. Jadilah anak yang salihah dan patuh pada pakwo dan makwo".

Kini Nomishita sudah beranjak remaja, kesedihan ditinggal pergi sang mama sudah tak diingatnya lagi, tetapi kerinduan pada kasih sayangnya selalu saja membuat matanya berair. Mamanya telah pergi entah kemana, tiada pernah mengirim kabar berita. Hanya sebait doa yang tak putus dipanjatkannya kepada sang Maha Pengasih, agar menjaga mamanya selalu dengan kasih sayangNya dan tetap memberikan petunjuk dan hidayah kepada mama terkasihnya. Dalam sujud-sujud malamnya, hatinya tak lepas berharap dipertemukan kembali dengan sang mama  dalam suasana yang penuh kebahagiaan.
--------------
catatan: uni : panggilan kakak untuk perempuan dalam bahasa Minangkabau
            uda: panggilan kakak untuk laki-laki dalam bahasa Minangkabau
            pakwo: paman, kakaknya ayah (Minangkabau)
            makwa: bibi, isterinya pakwo/kakak perempuan ayah (Minangkabau)

0 komentar:

Post a Comment