Breaking News

27 January, 2012

narsis ku-Lebih Tegar dari Batu Karang


Lebih Tegar dari Batu Karang
Suamiku pernah bilang “Mi, maaf ya aku belum bisa buat Ummi dan anak-anak bahagia. Masih banyak kekurangan Abi disana-sini sehingga kalian harus begini. Kalian tak sebahagia yang lain” Sekuat tenaga kukerahkan segala daya di dalam hati dan jiwaku untuk membalas kalimat yang sebetulnya sungguh membuatku tersanjung menjadi istrinya, juga ibu dari anaknya. Aku paham. Ia mengatakan hal tersebut tak lain karena menghargaiku dan ingin memberikan yang terbaik untuk kami. Betul, bukan? Akhirnya “Ini baru soal harta, Bi. Tapi…sejatinya Abi sudah memberikan semuanya untuk kami. Cinta dan kasih sayang Abi lah yang lebih bermakna untuk Ummi. Kalaupun sekarang kita masih dalam keadaan susah, maka beginilah prosesnya. Insya Allah Ummi bisa pahami dan tak akan menuntut lebih setiap yang Abi berikan.” Ia lantas menatapku dalam lalu meraih tubuh ini ke dalam pelukannya. Subhanallah, betapa bahagianya bisa selalu bersama jiwa raga dengan orang yang kucintai.
Nelangsakah aku hidup bersamanya kalau harus berpindah-pindah kontrakan dari tempat satu ke tempat lain? Meranakah aku kalau harus makan apa adanya sesuai jumlah uang yang dia berikan? Atau, tak bahagiakah aku menerima kenyataan bahwa aku harus lebih berpenampilan sederhana daripada teman-temanku yang lain yang sudah menikah karena kondisi ekonomi? Jawabannya terang “Tidak!”
Aku bukanlah wanita cengeng yang tak bisa menerima keadaan sulit. Aku bukan wanita super lemah yang tak bisa memahami kondisi pasangan yang telah berusaha membahagiaakanku. Aku bukan wanita tak berdaya ketika ujian-Nya menghampiri untuk menaikkan ‘kelas’ku di hadapan-Nya. Dan aku, bukanlah wanita yang mudah terombang-ambing pergaulan sehingga menuntut pasangan untuk memberikan sesuai yang kuinginkan.
Mengejar ambisi dalam berumahtangga itu memang kadang diperlukan. Tapi untuk hal-hal perjuangan bersama sang belahan jiwa tetap jadi hal yang harus dikomunikasikan dan direncanakan berdua demi tercapainya tujuan pernikahan. Termasuk ketika kesusahan melanda kehidupan rumah tangga kita. Apa jadinya kalau aku dan suami jalan sendiri-sendiri tanpa mengacu pada awal mula kita mengikat janji dalam ijab qobul? Bukankah peristiwa sakral itu tak lain merupakan mitsaaqon gholiidhon (perjajian berat) kepada Sang Khaliq? Itulah mengapa aku bangga menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu rumah tangga.
Berhenti kuliah
Siapa yang bisa sehebat aku? Ia menikahiku ketika aku masih kuliah semester tiga. Pernikahan dini? Hmm, aku pikir sudah bukan saatnya lagi membahas omongan miring orang-orang yang tak sepakat dengan menikah di usia muda. Prinsip lah yang menjadi landasan sehingga aku dan calon suamiku saat itu mantap melangkah. Bahagianya aku menemukan separuh jiwa yang hilang. Hal yang haram menjadi halal, apa yang belum boleh dilakukan semasa lajang tak lain telah berubah menjadi ibadah dimata Sang Pencipta. Subhanallah, indahnya ikatan suci yang kami tegakkan.
Kami menikah, dan kami pun menjalani hari-hari bersama. Kebahagiaan selalu menyertai. Namun dari segi ekonomi, rupanya takdir berkata lain. Allah memberi ujian yang berat sehingga dengan segala keterbatasan ketika usai semester empat, aku mengambil cuti yang entahlah saat itu tak ada kepastian apakah bisa dilanjutkan kembali atau tidak (Hmm, karena memang aku dan suami sama-sama tak bisa memperkirakan). Aku hanya yakin, kalau memang itu yang terbaik menurut-Nya, maka itulah yang harus kujalani. Aku sadar sepenuhnya bahwa pemilik skenario terhebat adalah Allah. Mungkin saat itu badai tengah melanda bahtera rumah tangga yang masih kubangun sehingga aku harus pintar-pintar mencari cara agar tak jatuh ke dalam lautan kehancuran.
Kalau aku bukan wanita hebat, mana bisa menerima keadaan tadi? Tentu setelah menikah aku berharap semua yang kujalani dari segi apapun menjadi kian lengkap dan mudah. Idealnya, kuliah tetap jalan, kemana-mana ada pengawal, minta ini itu tinggal tunjuk, mau beli ini itu pun tak perlu hitung-hitung uang sediri. Tetapi yang terjadi berkebalikan…
Setan terus membisikkan ke dalam dadaku supaya aku meluapkan segala amarah pada suami. Setan ingin ada pertengkaran di antara kami. Ia juga terus membujukku untuk menyesali pernikahan. Pernikahan ini tak lain hanya membuatku sengsara, susah, dan tak bisa menikmati hidup yang Allah anugerahkan. Itulah bisikan-bisikan setan yang terus menggerogoti hatiku yang labil.
Sedih? Tentu. Ingin marah? Tak salah. Berontak dalam hati? Ya! Berkata sejujurnya kepada suami kalau aku kecewa menikah dengannya? Tidak, karena aku adalah wanita yang lebih tegar dari batu karang di lautan.
Special moments
Positif. Bahagia tak terkira kala kabar gembira itu hadir kepadaku. Semakin lengkaplah modalku menjadi seorang wanita dengan titel housewife. Suami senang mendapati istrinya akan memberikan keturunan padanya, keluarga besar menyambut suka cita akan hadirnya anggota keluarga ke sekian dalam silsilah.
Saat itu aku merasa menjadi wanita paling bahagia. Pertama, karena aku resmi menjadi calon ibu. Kedua, Allah telah berikan amanah agung yang jika aku bisa menunaikannya dengan benar, maka aku akan menjadi salah satu wanita yang memiliki keutamaan ketika melahirkan dan menyusui nantinya. Ketiga, Allah berikan nikmat yang hanya dialami oleh wanita. Laki-laki tak hamil, kan? Keempat, Allah karuniakan nikmat yang tak semua wanita pun ternyata bisa merasakan nikmat ini. Syukur kupanjatkan ke hadirat-Nya yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Masa-masa itu adalah masa-masa berharga yang tak mungkin kulupa. Selalu mengajak si janin berbicara, rutin memeriksakan kehamilan ke bidan, juga aktifitas jalan kaki di pagi hari yang makin menguatkan kemesraan antara aku dan suami. Tahu tidak? Kami sering kali mendendangkan lagunya Bang Haji Rhoma yang berjudul ‘kandungan’
Tidakkah kau dengar, bisikan anakmu
Yang kini ada di dalam kandungan
Dia menanyakan, di dalam bisikan
Kiranya ia akan dilahirkan
Tak mau kalah, suami langsung menyambungnya…
Katakan padanya, ayahnya sudah rindu menantikannya
Katakan padanya, kelahirannya akan kusambut mesra..
Serrr..goyang mas…hehehe. Bisa dibayangkan betapa gilanya kami. Ah, bukan gila. Tapi kebahagiaan yang tak terkira karena tak semua orang bisa merasakannya. Aku sampai senyum-senyum sendiri kalau mengingat masa-masa itu.
Namun lagi-lagi apa yang kujalani tak lepas dari ujian kesulitan. Lagi-lagi pula masih berkutat dengan masalah keuangan. Gaji suami yang pas-pasan kadang hanya habis untuk makan kami tiap bulannya. Seringkali pun, aku makan asal masuk perut. Padahal masa kehamilan itu harus lebih berhati-hati dan pandai memilih makanan yang baik karena tak hanya mensuplai diri sendiri.
Kalau banyak pasangan menghabiskan waktu libur kerja suami untuk refreshing ke tempat wisata, menikmati aneka hidangan lezat, kesana-kemari dengan kendaraan masing-masing, tetapi tidak untukku. Aku cukup puas dengan jalan-jalan kami di alum-alun kota sambil menikmati indahnya langit malam yang bertaburan bintang. Kalau lapar, cukup beli bakso atau soto satu porsi ditambah dua piring nasi. Es teh satu gelas untuk berdua. Oh, nikmatnya…
Sekali lagi harus ikhlas. Sekali lagi harus sabar. Sekali lagi harus dewasa menyikapi segala uji. Karena apa? Karena aku adalah wanita yang lebih tegar dari batu karang di lautan.
Berpisah
Ini pun tak pernah ada dalam benakku. Jauh dari suami dalam keadaan hamil, di saat masa-masa sulit yang terus mendera. Setelah banyak pertimbangan, suami pun menyuruhku untuk tinggal dengan ibunya yang juga masih satu atap dengan beberapa saudaranya. Berat sebenarnya karena aku merasa butuh kedekatan fisik dengannya ketika hamil. Aku pun belum terlalu akrab dengan keluarganya sehingga takut-takut banyak salah yang kulakukan nantinya. Belum lagi aku tak bisa membayangkan betapa merananya kami kalau harus berjauhan. Tanganku tak bisa menggenggam tangannya. Tak bisa memijitnya ketika ia lelah, tak bisa mengusap peluhnya. Ah…semua serba tak bisa.
Namun ini sebuah pilihan yang kami rasa paling baik. Biarlah sebagian gajinya bisa ia sisihkan daripada semuanya habis tanpa kami punya persiapan menyambut si kecil lahir. Aku harus rela meninggalkannya tinggal di tempat ia bekerja tanpa bisa melayaninya. “Percayalah, sayang. Kelak kita akan dapatkan balasan yang jauh lebih baik dari ini jika kita mampu mejalaninya.” Kukuatkan suamiku, kuyakinkan ia bahwa ia lah lelaki terbaik sepanjang hidupku.
Tentu tak nyaman dalam kondisi itu. Aku kepayahan, namun aku tak mau suamiku merasa berat berpisah. Aku tak mau ia merasa telah menelantarkanku. Aku ingin ia berbesar hati dan tetap bangga menjadi suamiku, karena aku pun bangga menjadi istrinya. Terbayang bukan bagaimana beratnya menahan rasa padahal hasrat untuk bersama kian menggebu?
Tak jadi masalah. Tak jadi hal besar yang musti kupermasalahkan. Tak perlu aku marah-marah pada suamiku karena ia terus menerus ‘mengajakku’ hidup susah. Bayangan awal menikah hingga saat itu terus menari, seolah memberikan luka kalau kami belum bisa menuai sukses atas kebersamaan yang kami jalani. Huh! Tak lain itu hanya godaan setan yang kembali menggerogoti hati. Aku tak boleh goyah! Karena aku adalah wanita yang lebih tegar dari batu karang di lautan.
Terjawab
Kini situasi telah lain. Dengan adanya putri kecilku yang berumur dua tahun, ditambah kehamilan kedua yang makin menua ini makin menambah kebanggaanku menjadi seorang ibu sejarah telah terukir, dan waktu yang telah menjawab. Lika-liku yang dijalani lebih dari tiga tahun bersama suami tercinta telah menuai banyak hikmah untukku.
Memang, baru tiga tahun. Dan aku pun tak menganggap bahwa waktu tersebut sudah cukup membuktikan ketegaranku menjalani semua karena aku tahu pasti jalan di depan masih berliku. Namun inilah yang menenteramkanku. Segala uji mampu terlewati dengan baik, dan sekarang aku bisa kembali bersama dengannya dalam kondisi yang lebih baik. Insya Allah.
Bayangkan jika aku bukan wanita yang tegar! Bayangkan jika aku bukan wanita yang kuat! Bayangkan jika aku hanya wanita yang mudah menangis saat kesulitan menghadang dalam rumah tangga! Aku yakin waktu tiga tahun ini belum tentu bisa kami jalani bersama-sama.
Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati ketika telah menerjunkan jiwa raga untuk sebuah profesi ibu rumah tangga. Wanita punya peranan penting dalam kelangsungan di dalamnya. Selain jadi tulang rusuk dari pasangan masing-masing, ia pun sering kali harus menjadi dahan yang kokoh bagi pasangannya supaya pasangan tetap bisa mengepakkan sayapnya. Selain jadi seorang istri yang menjadi makmum bagi suami sebagai imam, ia pun harus turut andil dalam mengambil keputusan. Selain ia punya hak untuk dinafkahi, ia pun boleh mengekspresikan minatnya dalam bidang apapun yang sekarang tak jarang wanita memiliki pemasukan keuangan yang besar dalam keluarga.
Suami memang hebat! Tetapi tanpa peran istri hebat di belakangnya, biasanya tak akan berjalan mulus. Aku pun yakin, akulah istri hebat bagi suamiku. Siapa yang mengurus anaknya ketika ia bekerja? Siapa yang mencuci pakaiannya? Siapa yang menyelesaikan semua tugas rumah tangga? Siapa yang memberi motivasi ketika ia terjatuh? Siapa yang dengan setia mendampinginya dalam kondisi yang tak bisa ditebak? Itulah aku. Aku, istri pilihan untuk orang pilihan seperti suamiku.
Tak ada yang sia-sia atas segala macam ikhtiyar. Kata-kata menyejukkan dari suami makin membuatku melambung tinggi sebagai pendampingnya. “Ummi, terimakasih ya untuk pengorbanan selama ini. Selamanya, kau akan tetap sebagai mawar merah di tepi jurang buatku.”
Hmm, mengapa ia menyebutku mawar merah di tepi jurang? Sebelum ia menikah ia telah bertekad mencari mawar yang luar biasa, yang tak lain ialah mawar yang berada di tepi jurang. Mawar di taman boleh siapapun mencium semerbak harumnya. Mawar di tepi jalan, boleh siapapun merampas dan memetiknya. Mawar di pekarangan rumah, boleh siapapun meminta. Tetapi mawar di tepi jurang, yang masih alami dengan duri pelindung yang tajam, hanya pemuda pilihan yang bisa memetiknya. Ia harus berjuang keras mendapatkan agar tak terjerumus ke dalam jurang. Dan, akulah mawar itu. bahagianya aku.
Sekecil apapun, kita punya peran dalam rumah tangga. Sesedikit apapun, ada alasan supaya kita tetap bangga dengan profesi kita sebagai ibu rumah tangga. Jangan merasa terkekang yah! Kita bisa mengaktualisasikan diri kapanpun dimanapun. Tetap berkarya, dan jadilah lebih tegar dari batu karang di lautan!














0 komentar:

Post a Comment