Breaking News

30 January, 2012

Nagoya: Jelang Tutup Buku


Ibu-ibu yang jempolan. Saya setor tulisan perdana di group ini, yah. Monggo yang mau memampirkan matanya hingga abjad terakhir. Saya copy-kan dari kumpulan tulisan sederhana di blog MP/FB saya. Terima kasih sebelumnya.

*****

Nagoya: Jelang Tutup Buku
(Ryka Lolita)


Agak aneh memang, tapi aku sedikit menyukai aroma khas perpisahan. Segala yang berbau sendu itu, kadang mampu mengetuk-ngetuk pintu entah sebelah mana--entah di kepala atau di hati--dari sisi yang tak terduga. Aspal hitam mulus yang sudah kesekian kali dilewati tanpa bersitan rasa sedikit pun, tiba-tiba menjelma bak lorong penuh warna dengan potongan-potongan gambar memukau di sisi kanan kirinya. Entah itu apartemen tua, entah itu rumah berpagar tinggi, entah itu lapangan bermain anak, entah itu orang-orang aneka rupa yang bersliweran. Entah itu segala remeh-remehnya.

Aku suka menghirup udara dalam-dalam pada pukul satu siang, seakan udara dengan rasa yang sama tidak akan tercium lagi esok. Yap, besok, pasti sudah ada rasa lain pada udara yang kuhirup. Dengan tambahan bau asap knalpot, misalnya. Atau dengan tambahan bau cat basah rumah-rumah yang baru dibangun dan bau plitur perabotnya.

Aku suka silau matahari yang menggantung tanggung pada pukul lima sore; dengan ungunya, dengan kuning keemasannya, dengan merahnya. Dengan semburat antara terang dan gelapnya. Yap, kolaborasi gradasi sempurnya hari ini tidak akan pernah persis sama di hari kemudian. Besok, lusa, seterusnya, entah warna mana yang akan muncul dominan di ufuk sana. Entah siluet pohon yang bagaimana yang akan menyempurnakan jejak sepenggal sore berikutnya. Entah.

Aku suka gigitan dingin yang tak lagi terlalu menusuk di akhir Februari; dia meninggalkan belaian eksotis! Yang tak panas dan tak dingin itu, benar-benar menyulut semangat untuk mengumpulkan memori-memori sebanyak-banyaknya: di tempat biasa yang jadi luar biasa, dengan orang-orang biasa yang--juga mendadak--jadi luar biasa. Ia memberi kekuatan pada kaki untuk menjejak tanpa lelah, pada mata untuk menangkap semua pelangi, pada hidung untuk menagkap semua bau, pada telinga, pada... . Ah, ya, pada seluruh indera dan setiap bagian tubuh untuk secara total menangkap remah kisah pada sisa penggalan hari yang tak lagi panjang itu.

Tanpa limitasi bernama "jeda", baik itu ruang dan waktu; udara, cahaya, suhu, tempat, dan "mereka" tidak akan pernah terasa demikian berarti. Tanpa hitungan mundur untuk kemudian meninggalkan dan menanggalkan satu fase lagi dalam hidup, tidak akan ada rekaman lengkap yang di kemudian hari akan menghadiahi isi kepala dengan lompatan-lompatan ajaib yang berputar, menari, dan maju-mundur sekenanya. Tanpa perpisahan, akan sangat sulit untuk memaknai pertemuan. Klasik memang.

Aku agak sulit untuk mengingat detil, yang kecil-kecil dan mungil-mungil. Butuh waktu harian untuk mengingat letak. Butuh waktu mingguan untuk mengingat nama dan wajah. Butuh waktu bulanan dan tahunan untuk memilah dan memasukkan potongan-potongan kejadian--beserta "mereka" di dalamnya--ke dalam laci-laci memori. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk memaknai detil itu? Aku angkat tangan. Aku cuma percaya, bilangan waktu akan selalu bicara jujur tentang setiap fragmen hidup. Dia tidak bisa bohong meskipun bisu. Dia tidak bisa kosong meskipun sendu.

Dan, hitungan mundur selalu mampu untuk memaksaku:  menyimpan potongan pelangi di kantong-kantong ingatan.







0 komentar:

Post a Comment