Breaking News

30 January, 2012

My Best Friend






          Namanya MEIDA.Pertama kali mengenalnya ketika sama - sama masuk Sekolah Menengah Kejuruan.Waktu itu dia kehilangan photo hitam putihnya dan kebetulan aku yang menemukannya.
          Hari-hari pertama sekolah dia sempet membenciku.Pasalnya ketika guru mengajukan pertanyaan dan dia bisa jawab,eh konon aku malah bilang "Huh...sok pinter !"
Hehehe... tapi jujur aku sudah ngga ingat kejadian itu.Hari-hari berikutnya dia sudah tidak lagi membenciku.Percuma membenci orang yang orangnya sendiri tidak merasa bersalah,seperti aku ini,begitu mungkin pikirnya.Pertemananku dengannya makin lama makin akrab karena setiap hari ketemu,meskipun kami tidak segenk dan dia belum menjadi my best friend.Kuingat kala itu dalam acara kelas kami pernah berpasangan jadi MC.Sejujurnya aku salut akan kepandaian dan keberaniannya.Di kelas dia langganan ranking satu dan tidak pelit barbagi ilmu pada siapapun tapi agak pelit berbagi contekan saat ulangan,hehehe...
Dengan keberaniannya,pernah dalam pelajaran sejarah tanpa tedeng aling-aling dia membantah teori Darwin yang kontan membuat wajah sang guru merah membara menahan amarah dan berlalu meninggalkan kelas.Menurutnya manusia pertama di dunia adalah Adam.Ngga ada tuh manusia purba yang mirip kera macam Phytecantropus Erectus dan teman-temannya,itu hanyalah karangan kang Darwin semata.Sah-sah saja sih pendapatnya itu,tapi kok ya dengan santainya dia kemukakan itu di depan guru.
          Meida oh Meida... sepintar-pintarnya dirimu ternyata masih bisa kukerjain.Ceritanya begini,ini juga menurut versinya(biasa...yang melakukan suka lupa tapi yang kena batunya akan ingat sepanjang hayat,meskipun akhirnya aku berangsur-angsur ingat) saat kelas dua,dalam pelajaran Pengelolaan Usaha ada tugas membuat suatu barang berguna dari bahan bekas.Kelompokku memanfaatkan kaleng bekas sebagai medianya.Aku tidak sekelompok dengan Meida,tapi kebetulan aku duduk di bangku belakangnya.Entah dari mana datangnya ide jahil itu...aku berdua teman sebangkuku mengikat erat kaleng dengan tali rafia lalu ujung rafia kami ikatkan pada lubang ikat pinggang rok abu-abunya.semua kami lakukan dengan sangat hati-hati sampai tidak ketahuan.Anehnya,seperti sudah disetting,seperti dalam film-film,tiba-tiba guru memanggil namanya dengan lantang "Meida Srikandi!" untuk maju ke depan guna mempresentasikan hasil karya kelompoknya.Dengan gagah beraninya dia maju ke depan dan serta merta... "Gombreng gombreng gombreng...." bunyi gaduh suara kaleng mengikuti setiap derap langkahnya,Meida kaget bukan kepalang,kontan seisi kelas tetawa terpingkal-pingkal.
"Awas ya" katanya pada kami setelah dia kembali ketempat duduknya.
Wah perang besar nih,pikirku.Tapi rupanya dia tidak benar-benar marah karena besoknya kami masih berteman seperti biasa.Oh ya,kerja-mengerjain memang sudah menjadi tradisi kelasku.
          Aku dan Meida memang tidak pernah segenk.Genkku dan genknya selalu bersaing sehat untuk menjadi yang terbaik dalam setiap apapun di kelas.Sebenarnya aku senang berteman dengannya karena enak diajak ngobrol apalagi urusan kerja-mengerjain.Aku selalu menunggu-nunggu dia bercerita setiap hari.Saben istirahat kami sekelas biasanya selalu kumpul bersama berbagi cerita dan dia selalu paling heboh bercerita.
Karena kerja-mengerjain sudah tradisi kelas kami,akupun pernah juga dikerjain Meida.
"Yus,ini lagu Modulus kesukaanmu"katanya serius sambil menyodorkan walkman kepunyaannya padaku.
Langsung saja kuraih benda itu dari tangannya.kupasang headphonenya ketelinga dengan buru-buru karena tak sabar ingin segera mendengarkan lagu Putri Malu (kamu,ya cuma kamu) kesukaanku dari Modulus.Setelah headphone terpasang dengan sukses,ternyata bo'... itu bukan lagu kesukaanku,tapi lagu dangdut pantanganku... dari jauh kulihat dia terpingkal-pingkal.
          Ketika tiba detik-detik terakhir sekolah,sempat dalam hati bertanya,masihkah dapat berjumpa dengan dia lagi suatu hari nanti? sungguh aku masih ingin terus dan terus bersama-sama dengannya.Tiga tahun bersamanya membuatku tak mau kehilangan dia begitu saja Oh ternyata,Subhanallah...keajaiban datang.Setelah lulus sekolah kami sama-sama direkrut oleh sebuah perusahaan raksasa pada jaman itu,di luar kota.
Kami berdelapan.Karena tidak menemukan tempat kost yang bisa menampung kami bardelapan,akhirnya kami dibagi dua,masing-masing empat.aku memilih bergabung dengan Meida.Dari sanalah persahabatan itu dimulai...
suka duka kami lalui bersama.Kadang marahan,diam-diaman,nangis bersama,tertawa bersama,lapar bersama dikala tanggal tua.Saat aku sakit dia merwatku,begitupun sebaliknya.Saat dia sedih aku menghiburnya,begitu juga sebaliknya.Seperti ketika aku harus berpisah dengan kekasihku,karena tak ingin melihatku terus-terusan bersedih dia mengajakku ikut tour  bersamanya.Dia bela-belain memohon-mohon pada atasannya agar memberiku tiket tour yang sebenarnya aku tidak dapat jatah.O...o...Meida,aku terharu biru...
          Suatu hal yang tak diinginkan terjadi.Setelah dua tahun bercokol di tempat kost yang nyaman itu,aku dan teman-teman harus pindah karena akan digusur untuk pelebaran jalan.Aku harus berpisah dengan Meida.Di tempat kost yang baru aku merasakan sepi dan sepi.Aku teringat terus akan Meida yang jauh.Aku hanya ketemu dengannya di tempat kerja,itupun cuma sebentar,ketika jam istirahat.Karena aku dan dia beda bagian.Setiap jam istirahat kami pasti menghabiskan waktu bersama,makan siang dan ngobrol-ngobrol.Kami tak ubahnya seperti sepasang kekasih,malah sering salah satu dari kami bilang "kalau kita beda jenis pasti sudah pacaran".
Ternyata di kostannya,diapun merasakan hal yang sama,sepi tanpaku.Dan ketika kukemukakan padanya bahwa aku tidak betah di tempat kostku,dia menawarkan tempat yang kosong di sebelah tempat kostnya.Bak gayung bersambut ,aku langsung meluncur ke tempat yang dimaksudnya.Keceriaan kembali terjadi,hari-hari kulalui bersamanya lagi.
          Tapi itu tak lama.Karena tunangannya mengajaknya nikah.Lagi-lagi aku harus berpisah dengannya.Air mataku tumpah ruah,tapi aku bahagia Meida kamu laku,hehehe...
Dan tak apalah,toh masih bisa ketemu di tempat kerja.Sungguh beda Meida yang dulu dengan yang sudah jadi nyonya.Tentu saja dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama suaminya,aku tergusur...
Apalagi sejak ada janin di kandungannya dan suaminya memintanya untuk keluar dari kerja.Duh Gusti... rasanya diri ini seperti disengat berjuta-juta lebah...
Aku tak sanggup...
Masih kuingat,di pantry tempat kerja aku menangis sejadi-jadinya.Bukannya aku tidak punya teman lagi selain dia.Banyak teman yang kumiliki.tapi aku tak sanggup kehilangan seorang Meida,teman terbaikku...
          Setahun berikutnya akupun menikah dan keluar dari tempat kerja.Aku diboyong suamiku ke Bandung.Sedangkan Meida bersama suaminya tinggal di Pemalang.Kami sama-sama dikaruniai mutiara yang lucu-lucu.
Meskipun terpisah oleh jarak,tapi persahabatanku dan Meida tetap kokoh hingga kini.Kami masih sering telpon-telponan,bersms ria,bercanda lewat facebook dan kadang kala kerja-mengerjain masih kami lakukan.
Dia tetap Meidaku dan aku tetap Yusnianya.Takkan luntur,takkan pudar dan takkan legam oleh jaman.
Persahabatan kami sungguh luar biasa indahnya......

menyimpan berjuta kenangan
Yusnia Afrilia

0 komentar:

Post a Comment