Breaking News

31 January, 2012

Moga-moga terkategorikan sebagai Emak Narsis nih! Sakit Tak Membuat Surut Langkahku ...


Sakit Tak Membuat Surut Langkahku

Januari 2010
Vonis dokter kala itu sontak membuatku shock, walaupun sebelumnya aku sudah mengira.  Tapi takku sangka akan separah itu.  Dokter memvonis aku sebagai penderita sakit jantung CAD((Coronary Artery Disease).  Penyakit yang menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia kini aku idap.  Sedih, galau, putus asa rasaku waktu itu.  Bayangan kematian datang berkelibat begitu saja di benakku.  Aku baru menginjak usia tiga puluhan harus menderita pembengkakkan dan kebocoran jantung.  Aku memberanikan memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung di rumah sakit swasta di kotaku karena sering kali debaran jantung yang tiba-tiba datang menderaku, aku lemas dibuatnya serasa dada dan kepala ini akan pecah.  Kalau debaran itu datang aku hanya bisa berbaring lemas dengan wajah pucat.  Kejadian seperti ini sudah aku rasakan belasan tahun yang lalu semasa kuliah dulu. 
Setelah diperiksa konduktivitas listrik jantungnya dengan EKG, aku disarankan untuk melakukan USG jantung atau echocardiografi karena terlihat ada kejanggalan. Dari sanalah terlihat penampang jantung yang membesar dan kebocoran antar sekat.  “Bu, coba lihat indikator itu yang memperlihatkan kebocoran jantung ibu!” Kata dokter menjelaskan sambil menunjuk ke arah monitor alat USG jantung.  “Pantas keluhan ibu mudah capek, karena memang penderita kebocoran seperti itu rasanya.” Kata dokter lagi, menjelaskan sambil tangannya tak diam mengarahkan alat tersebut ke dada kiriku.  “ Jadi bagaimana Dok, apa yang harus Saya lakukan dengan sakit yang Saya derita ini?” Kataku ingin tahu.  “Ya, Ibu jangan terlalu capek saja, jaga kondisi jangan stres, juga jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang asin-asin, khawatir memicu hipertensi yang menyebabkan kerja jantung dipaksa diluar kemampuannya”. Kata Dokter menjelaskan.  “Sudah punya anak berapa? Bagaimana kelahirannya?” Kata dokter lagi.  “Sudah, dua Dok, dan kelahiran mereka normal tapi nyaris caesar, karena kontraksi sudah 24 jam bayi gak kunjung lahir.  Bahkan saat kelahiran anak kedua istri saya dibantu oksigen karena sesak!” Suamiku angkat bicara.  “Subhanallah, jarang lho kasus seperti ini bisa melahirkan anak dengan normal! Tapi Saya harap tidak nambah lagi yaa ... karena beresiko, kehamilan bisa memperberat kerja jantung.  Ya, Pak! Ujar Dokter sambil melirik pada suamiku.  “Iya, Dok!” suamiku menjawab.
Sepulang dari rumah sakit, hatiku bagai diiris-iris, perasaanku tak menentu.  Anganku melayang pada bayangan yang tidak-tidak.  Aku drop, badan serasa lemah, tak ada gairah hidup lagi...  Keesokan harinya aku izin dari tempatku bekerja, kujelaskan apa yang terjadi padaku, pada atasanku.  Alhamdulillah mereka mengerti, dan mengijinkanku untuk beristirahat beberapa hari.  Istirahat di rumah tidak membuatku lebih baik, selalu terpikir bagaimana kalau hidupku berakhir dalam waktu dekat... Ah tak terbayang rasanya, aku harus meninggalkan anak-anakku yang lucu-lucu  delapan dan lima tahun, tumbuh tanpa ada bundanya disisi.  Dari hari ke hari kondisiku kian memburuk karena pikiranku sendiri.  Suami tercinta, memberiku semangat.  “Ayo Bunda pasti bisa melewati ini semua! Ajal tidak ada yang tahu kapan datangnya, ini kasih sayang Allah untuk Bunda, Bunda diuji keshabarannya, ketawakalannya, lebih mendekat pada Allah atau tidak, kalau Bunda Shabar tentunya derajat Bunda dimata Allah meningkat!” Sungguh kata-katanya membuatku seperti terbangun dari tidur... “Iya, ya... buat apa aku seperti ini, Allah tahu batas mampuku.  Dia tidak akan menguji umatnya diluar kemampuannya!” gumamku saat itu.
Aku bangun dari rasa terpuruk, aku bangkit lagi.  Dua hari aku absen tak masuk kerja,  Kerjaku mengajar di sebuah sekolah dasar inklusi fullday sejak tahun 2004 dengan anak-anak yang spesial.  “Bu, bagaimana kondisinya?” Pak wakasek menyapaku.  “Alhamdulillah baik, Pak!” Jawabku.  “Jaga kondisi Bu, jangan terlalu capek!” Katanya lagi, sambil pamit.  Aku mengangguk sambil tersenyum.

Sebelum vonis itu ada, kegiatanku selain mengajar, aku berjualan pakaian jadi pada teman-temanku sesama guru, aku membelinya di pasar dengan harga grosir dan berjualan juice buah-buahan yang aku jual di sekolah. Juice itu  aku siapkan selepas shalat shubuh, aku membuatnya dan suamiku mengemasnya.  Kerja sama yang baik, menghasilkan income tambahan.  Berjualan mungkin turunan karena ibuku berjualan untuk membantu bapak dalam ekonomi, mungkin juga hobi,  karena sejak sekolah menengah pertama aku sudah berjualan membuat makanan sendiri, dari mulai belanja sampai mengolah dan menitipkannya di warung kulakukan sendiri.  Saat sekolah menengah atas, aku berjualan tas kain yang aku buat sendiri dari mulai pemilihan kain, merancang modelnya sampai menjahitnya kulakukan sendiri.  Mulanya kubuat untuk aku pakai sendiri, teman-temanku melihat dan memesannya.  Kubuatkan tas,tempat pensil dan dompet dengan kain yang sama agar nampak serasi.  Ada rasa kepuasan punya uang hasil kerja sendiri.  Saat kuliah, aku mulai merintis usaha jual pakaian jadi dan makanan.  Sampai sekarang hobiku masih kujalankan walau sakit, rasanya susah untuk dihilangkan.  Hanya saja aku cukup tahu diri, kegiatanku tak sebebas dulu.  Jualan juice sudah aku tinggalkan.

April 2010
Aku mendapat sms dari institusi yang mengadakan kuliah akta IV.  Diharapkan aku datang untuk daftar ulang karena perkuliahan akan segera dimulai pada pertengahan April.  Aku memang mendaftarkan diri jauh sebelum vonis itu ada.  Ingin rasanya aku punya sertifikat mengajar, karena dulu sekolahku bukan jalur kependidikan.  Jadi syarat sebagai pengajar harus punya sertifikat itu.  Lama aku tertegun, memandangi sms itu.   Aku berunding dengan suamiku via sms karena suamiku sudah masuk kantor.  “Yah, bagaimana? Bunda dapat sms, kuliah akta IV , akan dimulai pertengahan April ini!” begitu isi smsku pada suamiku.  “Bunda, kesempatan tidak datang berkali-kali, ada sms itu tandanya Allah menilai bunda mampu menjalankannya” begitu kata-kata yang ada di balasan sms suamiku.  “Kuliahnya Jumat dan Sabtu sehari penuh dari jam 7.30-17.30, Bunda mampu gitu, Yah?” Aku meragukan kemampuanku. 
Kalau jadi kuliah, aku harus izin pada ketua yayasan sekolah tempat aku mengajar juga pada kepala sekolah..... Akhirnya kuputuskan untuk kuliah.  Senin-Kamis aku mengajar, Jumat-Sabtu aku harus kuliah dan tersisa hari minggu untuk keluarga.  Terbayang, padat jadwalku... Di rumah aku tak mempunyai asisten, aku hanya membagi tugas dengan suamiku.  Alhamdulillah suamiku pengertian, paham kondisi istri, dia tidak banyak nuntut macam-macam.  Bahkan banyak memotivasi diriku.  Kegiatanku sehari-hari sejak bangun, beres-beres tempat tidur, cuci piring, siapkan baju anak-anak dan membuatkan sarapan, sebelum pergi mengajar.  Sedangkan suamiku membantu memandikan anak-anak, menyetrika dan mencuci  pakaian.
Hari demi hari aku lalui, tiap bulan tetap kontrol ke dokter jantung.  Lelah memang, tapi life must go on.  Aku tak mau terlihat lemah dan cengeng, aku ingin jadi orang bermakna buat diriku dan orang disekelilingku. 

Oktober 2010
Aku tak menyadari tubuhku amat sangat lelah,  selepas shalat magrib sepulang kuliah, waktu itu hari Sabtu mendadak jantungku berdetak kencang sekali, lebih dari 120 detakan per menit.  Dadaku sesak, kepala serasa akan pecah.  Aku sms dokter jantung, beliau menyarankan untuk baring dan istirahat serta minum lasik, obat yang mengeluarkan cairan dari jantung agar jantungnya tidak terlalu kencang memompa, istirahat sudah aku lakukan sejak pertama detakan jantungku berubah mengencang, lalu aku ikuti saran dokter minum obat itu.  “Jika satu jam tidak ada perubahan, lebih baik Ibu ke RS” Nasihat dokter sebagai balasan smsku.  Setelah minum obat, aku terus-terusan buang air kecil sampai sekitar jam 22.30.  Sejak saat kejadian magrib tadi, kuhitung sekitar dua puluh kali aku buang air kecil, dan setiap buang air selalu banyak.  Sampai pada akhirnya aku tak kuat lagi, dari kamar kecil aku teriak, “Ayaaahhh!! Bunda gak kuat!” aku keluar kamar kecil sempoyongan, nyaris jatuh tak sadarkan diri.  Aku, lemah sekali saat itu, suamiku membopongku, untung kamarku tidak jauh dari kamar kecil.  Dibaringkannya aku dikasur, aku nyaris hilang kesadaran, tanganku tergolek di samping tempat tidur pun tak bisa aku gerakkan sendiri, dada, perutku sakit, kaki dan tanganku dingin, aku hanya mengerang kesakitan dan air mata meleleh di pipiku, Ibuku menciumi, menagisiku sambil baca-baca mohon Allah menyembuhkan aku.  Suamiku telpon ke mertua, dan kakakku agar datang ke rumah, mengabari aku kritis.  “Mungkinkah sekarang aku akan diambil-Nya” perasaanku saat itu.  Aku akan dibawa ke RS tempat aku biasa kontrol, tapi...aku tak mampu untuk menggerakkan badanku sendiri, suamiku akan menyiapkan kendaraan, yang jadi masalah dengan apa aku dibawa menuju mobil? Aku tak bisa menyangga tubuhku sendiri dan badanku tidak kecil.  Rumahku berada di gang sedangkan mobil dititip di garasi sekitar 100 meter dari rumah. Akhirnya suami minta ambulans menjemput, bisa bawa aku pakai blankar.  Seumur-umur baru pakai ambulans, hiii ngeri juga.  Pukul 02.00 minggu dini hari, aku sampai di  RS.  Aku setengah sadar, sesampainya di IGD, aku diinfus, direkam jantung, ditensi, pantas saja lemah, tensiku waktu itu hanya 80/60.  Dokter yang menanganiku ditelpon fihak rumah sakit untuk mengetahui tindakan apa saja yang akan dilakukan padaku.  Suamiku pesan ruangan selama aku di IGD, akhirnya aku masuk ke ruangan.  Waktu terus berjalan, namun saat itu mata tak jua terpejam.  Aku tak bisa tidur, namun jantungku sudah mulai agak tenang. 
Empat hari, aku dirawat di RS, akhirnya dokter memperbolehkan aku pulang.  Selama di RS, teman-teman, orang tua murid-muridku banyak yang menjenguk, bahkan teman-teman kantor suami pun banyak berdatangan.  Mungkin karena sakitku termasuk yang parah dan mengagetkan karena diderita oleh seusia aku.
Keluar RS, hari kamis, jumat siang aku sudah masuk kuliah lagi, khawatir tertinggal materi karena sangat padat, suamiku melarang aku untuk pergi, tapi aku bisa meyakinkannya, bahwa aku akan baik-baik saja.  Akhirnya suamiku melepas aku untuk pergi dan mengantarku ke kampus. 
Seminggu kemudian, aku mulai beraktivitas di sekolah lagi.  Rutinitas sehari-hari aku jalani seperti biasa.  Pulang sekolah harus on lagi untuk anakku yang bungsu, karena anak sulungku sudah bersekolah bersamaku kini ia duduk di kelas dua.
Desember 2010
Tak terasa waktu kuliah sudah memasuki masa praktek mengajar, duh lumayan menyita waktu dan tenaga, aku harus tetap mengajar di sekolah dasar dan praktek mengajar di sekolah menengah atas yang materinya jauh berbeda.  Harus menyiapkan perlengkapan mengajar, dan segalanya.  Kadang hopeless, rasanya ingin mundur saja.  Apalagi aku harus ditinggal suamiku selama dua minggu ke luar negeri untuk dinas kantor. Sangat-sangat berat kurasakan.  Tapi kalau mundur sungguh aku termasuk orang yang kalah.  Aku tidak boleh menyerah, semua pasti bisa dilalui, “badai pasti berlalu” itulah semboyan yang selalu aku ucapkan untuk memotivasi diriku jika aku lemah.
Januari 2011
Akhirnya, aku ujian praktek mengajar.  Dan di bulan ini aku dinyatakan lulus.  Tepat setahun setelah aku divonis dokter sebagai penderita CAD.  Ahh, alangkah bahagianya aku, aku bisa mengatasi semuanya dengan memberikan prestasi lebih. Walau sakit aku tetap semangat, menyongsong hari esok.  Maut tak seorang pun tahu kapan datangnya.  Yang kuingin, ingin mempersembahkan yang terbaik.  Ingin jadi contoh buat anak-anakku, bahwa bundanya tegar, tidak cengeng.
Kini saat aku menulis cerita ini, saat usia pernikahanku hampir menginjak sembilan tahun, aku bahagia.  Terima kasih cinta!!.. Untuk suamiku yang telah mendampingiku dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, yang telah memberiku kebahagiaan yang tak terkira dengan memberiku dua bidadari kecil yang cantik dan lucu.  Semoga umurku panjang, bisa mememani kalian hingga kelak kalian dewasa.  Aamiin














0 komentar:

Post a Comment