Breaking News

26 January, 2012

Mereka Sama



Hari ini (29 Juni 2011), tepatnya pukul 17.00 sd 19.00 WIB...
Aku berkenalan dengan seseorang yang mungkin dianggap "tidak jelas" oleh orang-orang pada umumnya. Seseorang yang telah memilih jalan hidupnya sendiri. Seseorang yang tidak perlu malu mengakui kekurangan yang dimilikinya. Seseorang yang tetap mempertahankan eksistensinya dikala semua mata menghujatnya.  Bahkan seseorang yang rela berjuang mempertahankan hidup meski keluarga telah menolaknya.

Aku tak tahu apa yang membuatku tertarik dengan kehidupan mereka. Aku hanya ingin berteman dengan mereka. Dapat menggunakan ilmu yang ku punya, untuk sekedar berbagi pengalaman dengan mereka. Aku sendiri harus meyakinkan diriku. Mengumpulkan segenap keberanianku. Menjaga setiap tutur kataku, agar mereka dapat menerimaku.

Saat pertama kali berjabat tangan dengannya. Ada rasa cemas dalam hatiku.
Apakah aku diterima atau ditolak?
Apakah setelah ini mereka mau tetap berkomunikasi denganku?
Apakah aku harus melakukan sesuatu hanya untuk diterima?
dan semua itu sangat tergantung pada sikapku malam ini.

Melihatnya, aku merasa tidak ada yang berbeda pada dirinya.
Tubuhnya yang lebih gemulai daripada diriku.
Wajahnya yang lebih tampak bersolek ketimbang diriku.
Atau karena bajunya yang lebih seksi jika dibandingkan aku.
Tetapi saat aku duduk berdampingan dengannya. Bahkan bahasa tubuh kami pun biasa saja.
Kenapa masih saja membuat  banyak mata yang melintas di depan kami, akan menolah seketika.
Mata-mata itu tidak akan berpaling hingga kami hilang dari pandangan mereka.

Apa yang salah pada kami? tentu tidak ada...
Orang-orang tersebut tidak berhak menilai kami. Hanya karena alasan tidak sengaja melihat kami dan itu menjadi pusat perhatian mereka.
Ah.... aku tahu. Mungkin karena aku seorang gadis berjilbab, duduk berdampingan dengan seorang waria di pinggir jalan, di dekat sebuah lampu merah perempatan jalan.

Kami tertawa, berbicara banyak hal. Sesekali mendekatkan tubuh kami untuk mendengar suara masing-masing. Yah... itu karena ramainya bis, truk dan kendaraan bermotor lainnya yang melintas di hadapan kami.

Apakah itu yang menjadi pusat perhatian mereka?

Stigma masyarakatlah yang membuat hubungan kami terlihat aneh. Waria masih dianggap sesuatu yang unik di masyarakat. Aku tidak peduli berapa ribu mata memandang kami saat itu. Aku hanya peduli dengan percakapan di antara kami yang semakin malam semakin nyaman untuk dihentikan. Dan menurutku tetap tidak ada yang aneh. Mereka sama dengan orang-orang pada umumnya. Ramah, enak diajak ngobrol, mau berbagi, dan tetap menghargaiku sebagai sesama manusia.

Sederhana... sederhana sekali pola pikir mereka. Disaat semua orang mengagung-agungkan keinginan untuk dihargai dari segi jabatan dan politik. Bagi mereka cukup dengan saling menghargai dan tidak merugikan satu sama lain, tanpa melihat perbedaan apapun maka cukuplah sudah.

Mereka sangat percaya Tuhan telah menentukan jalan masing-masing pada setiap umatnya. Itulah pilihan mereka, tidak ada paksaan, tidak ada hasutan, tidak ada provokasi. Mereka hanya mengikuti apa yang mereka rasakan di dalam hati. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka juga punya pilihan untuk menentukan arah dan tujuan hidup. Walaupun itu harus membuat orang-orang yang mereka cintai akan merasa sedih dan kecewa.

Malam ini, ketakutanku perlahan sirna. Dia sangat menerimaku dan menyambutku dengan baik, dengan tangan terbuka akan membantuku dan meluangkan waktu kapan pun jika aku ingin bertemu. Begitupun diriku juga akan sangat bahagia jika bisa berbagi dengan mereka.

Kami pun, saling mengucap terima kasih dan berjanji akan bertemu kembali minggu depan.
Satu pesan dia malam ini... berteriak dan sambil mengamen di pinggir jalan 

"Hati-hati yah Mba..."

Cukup membekas di hatiku dan membuatku tidak dapat melupakan pengalaman hari ini. 
Seperti apapun bentuk, wujud, serta pilihan hidup mereka. Mereka tetaplah sama, tetap ingin berarti dan berbuat sesuatu untuk orang lain, dengan cara yang paling sederhana yaitu perhatian.






0 komentar:

Post a Comment