Breaking News

25 January, 2012

MENJADI YATIM? HADAPILAH DENGAN HATI YANG BESAR!!


     Seorang sahabat muda didunia maya, berkeluh kesah dalam statusnya di facebook, sebenarnya tak terlalu istimewa keluhannya, hanya kalimat terakhirnya yang menyentak:"...menyakitkan sungguh menjadi seorang yatim!!" langsung saja puluhan teman berebut masuk memberi komen, sangat beragam, dari yang "ngerih-erih" alias menghiburnya sampai memberinya nasehat, tentu tak ketinggalan aku,..menulis banyak-banyak untuknya, ternyata dia sendiri sangat terkejut dengan respon yang masuk, sambil tertawa-tawa (tentu dalam tulisannya) dia mengatakan; hanya menumpahkan perasaannya yang sesak tanpa bermaksud membuat orang lain tersentak,..wuuah memang gitu ya anak muda..
     Memang, menjadi yatim, bukan merupakan pilihan. Itu sudah sunatullah, kehendakNya tanpa pandang bulu, orang kaya, miskin, apapun bentuk keaadaannya. Yatim,menurut istilah, anak yang ditinggal mati bapaknya ketika belum baligh. Dalam Islam, anak yatim memperoleh kedudukan yang "tinggi", bahkan ada ayat yang menyuruh kita memuliakan anak yatim, menyayangi dan menyantuninya adalah pahala yang ber"upah" Jannah.
     Dan bahkan demi untuk mengamalkan ayat tersebut,  didaerah Muntilan, anak yatim pas mau lebaran mendadak menjadi kaya, karena berebut orang pada memberi uang padanya dengan "ritual" mengelus kepala mereka dan minta didoakan agar mereka lancar rejeki..oh ya lupa doa anak yatim khan tanpa hijab dihadapanNya. Dan pantes aja rambut anak yatim jadi sangat klimis,..lha soalnya berpuluh tangan mengelus kepalanya,..tapi sttt anak tetangga mereka yang sangat miskin hanya bisa menelan ludah, melihat tangan teman yatimnya sampai tak muat menggenggam amplop, sedang untuknya tak serupiahpun didapat!!
     Suatu hari, suami berkata bahwa hari minggu diusahakan kami semua datang untuk menghadiri pernikahan saudaranya." Lha senin anak masuk pak.." kataku agak keberatan soalnya pulang pergi dari  tempat pernikahan itu memakan waktu 7-8jam perjalanan, anak bisa sakit karena kecapean. Ndak apa-apa kata suamiku, katanya pengantin laki-lakinya adalah anak yatim. Hah..apa pengantennya kecil, kok masih disebut anak yatim,.?"kataku bingung. "ya.. tidak tapi khan bapaknya sudah meninggal lama, dan dia dulu anak orang yang nggak punya..jadi kasihan kalau tidak datang..' jelas suamiku.
     "Pak, apakah sampeyan dulu juga mengistimewakan aku sebagai "mantan" anak yatim? waktu bersama dulu sebelum nikahpun, aku juga tak istimewa-istimewa amat dimatamu dan keluargamu. Apa karena "terlihat" aku" mantan yatim" yang berpunya, karena semua saudaraku kuliahan, padahal hidup dilalui dengan 'pincang', mencoba ndak terlihat mengeluh, dengan keluhan "beginilah susahnya jadi mantan anak yatim.."?.kataku seolah protes dengan istimewa saudaranya sebagai yatim.
      Saatku  berumur 7 tahun, bapakku meninggal dalam usia yg masih muda, masih produktif. Dan sungguh, dalam kepalaku dan badanku yang masih kecil, kucoba berbesar hati, tak pernah menangisi ke"yatiman"ku, walau sebenarnya aku tipikal cengeng. Kulalui kehidupan ini dengan "legowo", walau akhirnya ya itu jadi "mata yuyu" alias sering mengeluarkan air mata, kuingat saat harus "eyel-eyelan" dengan ibu saat tak ada uang untuk naik bis kesekolah, yang akhirnya tetangga yang dengar sampai harus mengeluarkan rupiahnya karena kasihan. Belum lagi acara bayar SPP saat kuliah sampai KKN, jurus nangis mesti keluar,..tapi tidak mengungkit tentang penyesalanku jadi si Yatim. Dan selama hidup hampir tak ada yang kasihan pada kami karena atribut itu.
     Namun apapun kisahnya, sebaiknya tak pernah menyesali kodrat yg telah digariskanNya. Juga menjalani sebagai yatim. Jadi yatim yang tegar, dan melaluinya dengan gagah berani (istilah kakakku), dan bagi kita yang berkecukupan, jangan lupa untuk ringan hati dan tangan untuk membantu keluarga yatim yang mungkin kebetulan tak mampu, tapi jangan lupa juga buat simiskin yang malu untuk meminta yang ada didekat kita,..semoga Allah senantiasa beri kekuatan..

0 komentar:

Post a Comment