Breaking News

25 January, 2012

Menjadi Penulis, Siapa Takut?


Ibu-ibu cantik, aku siap dikritik nih. Ini tulisanku yang dikirim untuk lomba "Menginspirasi Dunia dengan Menulis" beberapa hari yang lalu. Memang tidak lolos 10 besar tapi senang aja udah berpartisipasi. Bikinnya SKS alias Sistem Kebut Semalam, wong harus 1,5 halaman aja ......tks.

Menjadi Penulis, Siapa Takut?

“Hahhh! Mau jadi penulis? Apaan tuh, hahahahaha”, ujar adik perempuanku, Kiki, sambil tertawa terbahak-bahak. Gggrrrrr, panas rasanya dibilang begitu. Bercanda memang, tapi semakin ditertawai semakin bulat tekadku untuk menjadi seorang penulis. Aku baru sadar kalau ternyata aku memiliki potensi menjadi penulis, walaupun bukan cita-cita sejak kecil. Gara-gara bergabung dengan salah satu komunitas sosial di dunia maya, sebut saja “IIDN”, dua bulan belakangan ini, aku makin geregetan saja, ingin cepat-cepat menghasilkan buku yang juga bisa menghasilkan uang.
Sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas enam, aku adalah satu-satunya murid yang menjadi wakil untuk mengikuti lomba mengarang sekecamatan. Walaupun tidak menang, aku senang sekali. Oh ya, aku dan teman-temanku saling bertukar buku diary kecil yang berisikan biodata lengkap, juga kata-kata mutiara serta tanda-tangan. Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya.
Aku mulai menulis diary ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas satu. Sempat terhenti pada saat aku merasa tidak punya cukup waktu yaitu saat telah melahirkan kedua anakku sampai sekarang. Saat belajar di Sekolah Menengah Umum (SMU), surat pembaca yang aku kirimkan ternyata dimuat di salah satu majalah remaja terkenal pada masa itu, dua kali malah. Setelah mempunyai anak, dua kali pula surat pembaca dariku dimuat di salah satu majalah parenting. Rasanya bangga luar biasa. Pernah pula mengirimkan kontes cerita sederhana yang disponsori sebuah pasta gigi. Belum berhasil namun aku tidak kecewa.
Keinginanku semakin menjadi-jadi, apalagi kini menulis bukan sekedar hobi dan mengeluarkan isi hati ketika sedang marah, jenuh, bahagia, sedih, namun ternyata bisa menghasilkan uang dan dikenal banyak orang. Aku suka di antaranya Andrea Hirata, Vira Basuki, dan Boim Lebon. Aku senang membaca buku chicken soup. Tertawa maupun menangis sendirian ketika sedang membaca bukan hal aneh lagi bagiku.
Sekedar informasi, aku juga beberapa kali menuliskan surat tiga halaman buat suamiku tatkala selesai bertengkar hebat dengannya. Aku taruh di tumpukan pakaian paling bawah di dalam lemarinya. Alhasil, tak lama kemudian suamiku langsung meminta maaf dan memelukku erat. Ya, damai karena menulis.
Suamiku membelikanku sebuah laptop dan kursi yang sangat nyaman sebagai pemberi semangatku menulis. “Biar tidak sakit pinggang”, katanya. Anak keduaku pernah bertanya,”Mama kapan mau jadi penulis?”. Hmm jadi tambah semangat! Biar semua orang tahu kalau aku, seorang mantan seorangfrontliner  bank swasta, seorang ibu rumah tanggga juga bisa menjadi seorang penulis, kelak. Keluarga merupakan pendorong nomor satu bagiku. Hingga kini aku baru tiga kali mengikuti audisi menulis antologi di dunia maya. Practice makes perfect. Semua butuh proses. Asalkan ada keinginan, ketekunan, dan kerja keras yang kuat, aku yakin, suatu hari nanti buku-buku karyaku akan “mejeng” di toko-toko buku ternama.








0 komentar:

Post a Comment