Breaking News

24 January, 2012

Menjadi ibu yang sukses dan bahagia



Menjadi  istri dan ibu yang sukses adalah cita-citaku. Itulah yang kutanamkan pada diriku dan selalu menjadi prioritas utamaku. Aku sadar sesadar-sadarnya betapa penting hal ini bagi kehidupan rumah tanggaku. Aku pun tahu bahwa hal ini takkan mudah. Sungguh ini tak mudah bagi diriku yang sejak kecil tak kenal berbagai pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, hingga merapihkan rumah. Aku adalah seorang anak perempuan pertama di keluargaku yang tugasnya hanya belajar dan sekolah. Semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua asisten rumah tangga ibuku (ibuku wanita pekerja).  Hasil dari semua itu boleh dibanggakan. Sejak SD, aku memang selalu rangking tiga besar, bahkan menjadi Juara umum saat di SMP dan memenangkan dua Lomba Karya tulis tingkat pelajar di kotaku. Begitupun saat menjadi mahasiswa dan mulai bekerja selepas lulus kuliah. Aku tak sempat menyentuh sapu untuk sekedar menyapu kamarku. Saat pulang ke rumah, yang memang sudah sore menjelang malam, setelah sholat dan bercengkerama sebentar aktivitasku langsung tidur. Hari-hariku disibukkan dengan tugas kuliah ataupun bekerja.
Hingga pada suatu waktu seorang lelaki menyuntingku menjadi istrinya. Baru terpikir olehku semua tugas-tugas rumah tangga itu. Berbekal pengeahuan yang kubaca dari sebuah buku yang amat menginspirasiku, aku bertekad untuk belajar menjadi seorang istri dan ibu yang sukses bagi keluargaku. Aku bertekad akan menghantarkan mereka yang tercinta menjadi orang-orang hebat kelak. Pekerjaanku yang saat itu cukup baik dan menghasilkan rupiah yang tidak sedikit, aku tinggalkan saat kehamilanku menginjak usia empat bulan. Bukan tanpa sebab aku meninggalkannya, itu karena kehamilanku yang teramat payah.Sehingga suamiku memintaku untuk berhenti kerja demi kesehatanku dan bayi dalam kandunganku. Sungguh berat permintaan suamiku. Bahkan di saat terakhi bekerja aku masih sempat ke luar kota untuk memenuhi tugas kantor. Meski sepulangnya,saat di taksi, aku tak kuasa mengeluarkan isi perutku disana. Setelah berhenti bekerja, aku mengistirahatkan diriku sambil belajar menjadi seorang ibu rumah tangga, murni, tanpa sambilan apapun. Masakan pertamaku adalah tumis kangkung, Alhamdulillah suamiku menyukainya. Aku pun mulai percaya diri untuk memasak yang lainnya. Bertanya kesana kemari, bolak-balik melihat resep, semua itu kujalani seperti seorang anak yang mendapat mainan baru. Ketika anak pertamaku lahir, aku memperhatikan cara memandikan bayi, memakaikan popok dan lain-lain yang dilakukan oleh tanteku (adik ibuku). Dua minggu saja semua itu dilakukan oleh orang lain. Selanjutnya aku sendiri yang memandikan dan memakaikan popoknya.alhamdulillah, anakku seperti mengerti akan bundanya, dia tidak menangis sama sekali saat kumandikan, berbeda saat ia dimandikan tanteku. Semua jadi begitu mudah setelahnya. Aku mengurus sendiri  bayi lelakiku, di rumah kontrakan kami, tanpa bantuan siapapun. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga mulai mencuci di pagi hari,menyapu, mengepel  lalu menyetrika. Semua itu kulakukan sendiri hingga bayiku berumur satu tahun.  Aku tak kuasa meninggalkan anakku meski sebentar saja seperti saat aku menghadiri undangan pernikahan seorang teman dan terpaksa menitipkan anakku di rumah ibuku. Di perjalanan tiba-tiba saja airmataku menetes membayangkan anakku. Aku sedih sekali. Tapi rupanya, anakku malah senang berada di rumah ibuku karena bias bermain dengan om kecilnya, adik lelakiku berusia delapan tahun kala itu. Semenjak itu, setiap pagi anakku selalu rewel bila berada di rumah, rupanya dia ingin main ke rumah eyangnya. Setiap pagi ibuku menjemput cucu pertamanya itu sehingga aku selalu sendirian di rumah. Aku bosan sekali, kalau saja saat itu facebook sudah ada mungkin aku takkan sempat untuk bosan ya? Aku pun chatting dengan beberapa teman kuliahku dulu. Tak dinyana seorang teman menawariku mengajar di sebuah sekolah bergengsi di kota ini untuk menggantikannya yang harus pergi ke luar pulau mengikuti suaminya yang diangkat menjadi PNS. Jadilah aku mengajar di sekolah tersebut. Lalu bagaimana dengan anakku yang baru berusia setahun?Dia cukup senang dan nyaman berada di rumah ibuku. Sorenya, jangan ditanya, begitu kujemput maka tidak seorang pun yang dia inginkan untuk menggendongnya kecuali bundanya. Anakku ini begitu pengertian. Lagipula aku tidak mengajar setiap hari, Cuma tiga hari dalam seminggu. Ibuku juga senang, karena beliau memang menginginkan aku bisa bekerja kembali. Hal ini dapat kumaklumi, karena aku adalah putri pertamanya yang tentu amat dia banggakan.  Untung saja, suamiku cukup mengerti dan membolehkanku untuk mengajar.
            Bekerja dan menjadi ibu rumah tangga memang bukan hal mudah. Membagi waku antara pekerjaan rumah tangga dengan tugas-tugas di sekolah tanpa ada asisten rumah tangga membuatku cukup kelelahan hingga akhirnya jatuh sakit. Berawal dari jadwal makan yang tidak teratur dan  tidur larut malam.  Yah, akupun terkena typhus dan dirawatdi rumah sakit. Rasanya tidak enak sekali, meski sakit aku sulit tidur karena memikirkan anakku yang tak dapat kujumpai selama di rumah sakit. Hiks sedihhh…..  selama seminggu aku dirawat dan seminggu beristirahat di rumah. Ibu dan bapakku menjadi sangat khawatir sehingga mereka mengirimkan seorang asisten rumah tangga untukku. Pasca sakit,aku kembali ke rutinitasku semula tentunya dibantu oleh seorang ART yang datang tiap dua hari sekali. Aku merasa lumayan terbantu, apalagi ART-ku ini baik sekali pekerjaannya. Rumahku menjadi rapih.Akupun jadi lebih bisa memperhatikan anakku. Di tahun kedua anak pertamaku, aku mulai hamil anak kedua. Saat itu aku adalah seorang ibu rumah tangga yang juga mengajar paruh waktu. Untungya , waktu sekan berpihak kepadaku. Menjelang kelahiran anak keduaku, tugasku mengajar di sekolah sudah selesai sehingga tanpa cuti akupun tak perlu ke sekolah.  Bahagianya menjadi seorang ibu rumah tangga adalah, bahwa tak ada satu momen pun yang terlewat dari pandanganku,saat anakku pertama kali tengkurap, saat ia merangkak,berjalan dan mengucapkan kata pertamanya. Semuanya kusaksikan sendiri dan yang pertama kali. Saat mereka sakit adalah hal paling menyedihkan sekaligus melelalhkan, apalagi bila berbarengan seperti saat itu. Kedua anakku sakit panas dan diare. Keduanya ingin digendong bundanya, tidak ada yang mau mengalah. Sepanjang hari menangis tanpa mau minum susu ataupun makan. Hanya mau digendong, bahkan saat tidur tak mau lepas dari pelukanku. Rasanya kepalaku mau meledak karena bingung harus bagaimana saat kedua anakku (3 tahun dan 1 tahun) terus merengek kepadaku. Meski begitu, aku tetap berusaha merawat mereka sebaik-baiknya dan tetap menjaga kondisi kesehatan. Aku tidak boleh jatuh sakit, aku harus kuat. Beruntung suamiku membantu menjaga anak sulungku, sehingga kami dapat membagi tugas. Alhamdulillah kesehatan mereka berangsur pulih dan kembali ceria. Pernah seorang teman kantorku dahulu berkata menyayangkan keputusanku untuk keluar dari pekerjaan lamaku. Dia bilang di zaman sekarang ini tidak cukup sekedar suami yang bekerja mengingat kebutuhan rumah tangga yang banyak. Namun bagiku saat ini yang kuinginkan adalah melihat tumbuh kembang kedua balitaku. Selalu ada aku dan anakku yang menyambut dan  menunggu suamiku pulang kemudian menyampaikan semua perkembangan terbaru anak kami. Kebahagiaan dan kebanggaanku saat orang memuji kesehatan kedua anakku. Memuji postur badan dan  kecerdasan  mereka yang sesuai dengan usianya, Kakak iparku pun turut memuji menyatakan bahwa ia tidak menyangka aku yang tadinya tidak bisa apa-apa kini bisa mengurus rumah tangga dengan baik. Itulah kepuasanku dan aku tidak merasa terpaksa menjalaninya. Aku bahagia dengan hidupku saat ini dengan berbagai anugerah terindah yang diberikan Allah subhanahu wata’ala untukku. Mungkin aku bukanlah ibu rumah tangga terbaik tapi aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi suami dan anak-anakku.
















0 komentar:

Post a Comment