Breaking News

24 January, 2012

Menjadi Ibu Bukanlah Akhir dari Suatu Cita-cita


Menjadi Ibu Bukanlah Akhir dari Suatu Cita- cita


Menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama adalah salah satu tugas mulia seorang hamba Allah dimuka bumi ini, tak terkecuali bagi seorang muslimah sekalipun. Para muslim dan muslimah diperintahkan untuk berlomba – lomba dalam kebaikan agar terus beramal baik guna memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Peningkatan iman dan ilmu yang kontinyu akan menjadikan setiap amal kita semakin berkualitas, mampu memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitar.

Hal inilah yang ternyata menjadi dasar pemikiran mengapa para perempuan di era modern terus aktif bergerak untuk belajar dan bekerja guna mengejar cita – citanya. Mereka pun menginginkan peran aktif dalam masyarakat, memberikan kontribusi nyata sebagai pelayan sosial yang dibutuhkan. Tak terbatas hanya sebagai pelayan dalam keluarga. Mereka menginginkan adanya pengakuan terhadap gender feminin yang dahulu sempat dipandang sebelah mata dalam masyarakat. Kini dibawah nama pergerakan emansipasi begitu banyak perempuan tangguh yang mendobrak semua kekakuan itu. Mereka tengah berseliweran dengan segala profesi dan posisi yang penting dalam masyarakat. Begitu haus mengejar ilmu dan akhirnya meraih suatu profesi yang cukup bergengsi.

Semangat perubahan ini rupanya berimbas jua terhadap diriku sebagai seorang perempuan yang tumbuh di abad millenium. Menjadi pembelajar sejati yang siap meneguk ilmu setinggi- tingginya menjadi suatu ambisi dalam hidup. Aku ingin berbuat lebih dari sekedar seorang istri dan ibu yang hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur. “Aku ingin dan aku pasti bisa “ tekadku pun kian mantab, berusaha menyemangati agar mampu meneruskan perjuangan kaum hawa di era terdahulu .

Perempuan dan karier di zaman sekarang ini adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan. Tujuan akhir bagi para wanita muda yang mengenyam bangku pendidikan tidak lain tidak bukan hanyalah sebagai jalan untuk meniti karier yang cemerlang. Mereka dengan segenap perjuangannya berhasil meraih gelar sarjana, master, doktor dan bahkan professor sehingga menjadikan mereka pantas ditempatkan pada posisi penting dalam suatu masyarakat. Bukanlah hal yang aneh lagi, jika kini terdapat banyak perempuan dengan profesi yang beragam. Mulai dari dosen, dokter, manager, direktur suatu perusahaan,anggota dewan, menteri hingga presiden. Semua itu adalah seseuatu yang sangat mungkin untuk di capai bagi perempuan di abad ini.

Tak ada perjuangan yang selalu berjalan mulus. Kerikil – kerikil tajam akan senantiasa mengiringi suatu pencapaian cita - cita. Di tengah – tengah perjuangan menjadi wanita karier terkadang seorang perempuan terbentur dengan peran lain yang sangat penting yaitu sebagai seorang istri dan ibu. Mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit, antara mewujudkan cita - cita pribadi dan keluarga. Disatu sisi, diri sangat berambisi akan pencapaian cita – cita yang sejak lama telah di rajutnya dengan pengorbanan besar. Namun disisi lain keluarga sangat membutuhkan hadirnya peran istri dan ibu dalam keutuhan. Keseimbangan untuk menjaga dua sisi tersebut agar saling mendukung adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Tidak mudah namun mungkin untuk dilakukan.

Kebimbangan seperti itu pun sempat menyergap dalam hidupku. Aku yang sejak awal berambisi dengan karier, kini harus dihadapkan pada sikap tegas untuk memilih antara cita – cita dan keluarga. Jika hanya berperan sebagai istri, mungkin pencapaian cita – cita itu tidaklah menimbulkan banyak halangan. Namun ketika dihadapkan pada peran sebagai ibu, disinilah tarik menarik keinginan itu dimulai.

Peran sebagai ibu adalah anugerah yang diberikan khusus bagi perempuan yang sempurna. Peran yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun juga. Maka jika seorang perempuan lebih cenderung memilih karier maka siapakah yang akan mengantikan posisi ibu bagi anak – anak mereka? Apakah peran seorang ibu mampu digantikan oleh sosok seorang nenek ataupun pengasuh anak? Mhmm..pertanyaan yang sangat menyentil diriku saat itu.

Akhirnya dengan segenap keyakinan aku memilih untuk menyerahkan diri menjalani peran sebagai seorang ibu dibandingkan untuk meneruskan sekolah dan bekerja meraih karier. Aku memilihnya dengan pertimbangan pada saat itu usia anak yang masih sangat membutuhkan hadirnya peran ibu. Anak masih membutuhkan ASI dari ku, masih membutuhkan belaianku, masih membutuhkan perkataan yang mendidik dan menguatkan dari mulutku, masih membutuhkan perlindungan yang maksimal dari pelukanku, dan yang paling penting anakku masih membutuhkanku untuk mengenal tuhannya. Suatu tugas orang tua yang kelak akan di mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Inilah yang membuat langkahku semakin yakin memilih untuk menjadi seorang ibu secara utuh.

Memang setiap pilihan memiliki konsekuensi yang harus di ambil. Apakah harus memilih sebagai wanita karier ataupun seorang ibu rumah tangga masing – masing orang memiliki sudut pandang dan kepentingan yang berbeda. Tak ada yang harus disalahkan namun semua ini berbalik lagi kepada hati nurani seorang perempuan.

Hal ini pun aku rasakan sendiri, perjalanan menjadi ibu rumah tangga tak semudah membalikan telapak tangan, terkadang aku merasa jenuh karena harus terjebak dalam rutinitas keseharian yang membosankan, terkadang aku merindukan aktifitas diluar sana, terkadang ada iri yang menyusup tatkala melihat kecemerlangan wanita karier diluar sana, namun aku kembali berusaha menata niat akan pilihanku ini. Niat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi amanahNya adalah niat yang selalu mengauatkanku. Inilah kemampuan terbaik yang aku bisa berikan, yaitu menjadi seorang ibu rumah tangga untuk mengurus anak dan keluarga.

Begitu banyak pembelajaran yang aku terima dari anak tercinta. Peran sebagai Ibu ternyata tidak mematikan semangat untuk terus belajar dan belajar. Justru aku lebih termotivasi untuk terus mencari ilmu dan menjadi orang yang berkualitas setelah memiliki anak. llmu tentang mendidik anak ini justru akan membuat seorang wanita menjadi seseorang yang lebih berkualitas, karena dengan begitu seorang ibu rumah tangga akan lebih termotivasi mempelajari lebih dalam tentang pengetahuan agama, cara – cara menularkan nilai–nilai kebaikan, memilih makanan sehat dan halal, memahami lebih lanjut tentang dunia kesehatan, teknologi, pendidikan, dsb secara baik. Para ibu rumah tangga akan terus merasa haus ilmu, akan terus berusaha untuk belajar, agar dapat memberikan pengetahuan yang benar dan pengamalan ilmu yang patut dicontohkan kepada anak–anak mereka. Peran sebagai ibu justru menimbulkan semangat bagiku untuk terus melanjutkan sekolah disaat yang tepat nanti, disaat anak sudah mulai bisa mandiri dan tidak banyak bergantung lagi kepada diri ini. Sungguh keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya jauh lebih menggebu disaat peran sebagai ibu telah aku jalani. Luar biasa rahmatMu ya Rabb..alhamdulillah

Dengan menjadi seorang ibu berarti impianku menjadi seorang pembelajar bahagia telah terwujud, bukankah seorang ibu akan senantiasa bersemangat mempelajari ilmu tanpa ada keterpaksaan karena baginya hal tersebut adalah kebutuhan penting sebagai bekal dalam mendidik anak - anaknya. Dengan menjadi seorang ibu berarti impianku menjadi pembelajar sejati telah terwujud, bukankah saat memiliki anak maka peran sebagai ibu akan berlangsung seumur hidupku, tanpa ada batasan waktu yang akan mengakhirinya. Dengan menjadi seorang ibu berarti impianku menjadi seorang peneliti telah terwujud, bukankah seorang ibu akan bergerak tanpa lelah dan bosan mengamati, meneliti,mengawasi,menganalisa setiap gerak – gerik putri kecilku. Terima kasih ya Rabb..Sungguh menjadi seorang ibu bukanlah akhir dari suatu cita – cita namun menjadi ibu adalah cita – cita sejati seorang perempuan yang sempurna.

0 komentar:

Post a Comment