Breaking News

25 January, 2012

Mencari Makna


Perkenalanku dengannya sungguh tak terduga dan tak terencana. Melalui secarik kertas memo yang terselip di antara berkas –berkas pekerjaan yang kutemukan ketika merapikan meja. Tereja dalam tulisan tangan yang tak begitu rapi, Afrizal Malna, diikuti tanda seru yang besar. Dan, entah kenapa, aku seolah tersihir dengan nama itu..

Adalah temanku yang menuliskan nama itu dalam kertas memoku. Ketika kutanya, katanya dia didera rasa penasaran yang amat sangat terhadapnya segala yang berbau –malna-. Dan dia sukses menularkannya padaku, rutukku dalam hati. Sejak saat itu, waktu senggangku akan terisi penuh dengan sejuta rasa penasaranku, dengan sejejak pencarianku, mencari Malna…
Mungkin aku terlambat beberapa tahun untuk mengenalnya. Atau mungkin memang dia bukan seseorang yang pernah berkelebatan selintas dalam jejak-jejak perjalananku, atau boleh jadi, aku yang terlalu cuek memburu sesuatu sehingga aku lupa melihat sekeliling, tak menyadari kehadirannya.. atau sejejak saja tentangnya. Dan aku yakin, ketika itu, pasti aku akan berlari, mengejar bayangnya.

Mencari Malna adalah suatu keniscayaan. Walau semua terasa gelap pada awalnya. Tanpa petunjuk. Dan aku mulai sibuk menulisi dinding-dinding, kusiarkan pencarianku atas Malna... Nihil. Dan aku setengah putus asa dibuatnya. Aku tak mengenalnya, siapapun dia. Tetapi namanya telah menyihirku sedemikian rupa, bahkan menelusup dan menikam mimpi indahku di malam malam buta. Membuatku terbangun dan meneruskan pencarianku, jejak demi jejak, di dunia maya.

Medio mei 2011.  Pada google kutemukan sedikit cerita tentang lelaki berkepala licin itu. Sedikit halaman, namun cukup dalam dan mengesankan. Berikan aku cerita tentang tomat…
Pencarianku kemudian mendamparkanku pada suatu kenyataan pahit, betapa puisi telah lama hilang dari diriku. Betapa kata-kata indah telah lama membusuk dalam jurang-jurang hatiku, tertimbun rutinitas harian yang membosankan. Pena usang yang telah kering tintanya, buku-buku berdebu, sepotong hati yang rindu kata-kata melompati kepala dan frasa yang hanyut dalam nadi, terbang menuju langit biru…

Seorang penyair takkan pernah lupa, kata-kata adalah mantra, takkan hilang dalam senyap, takkan usang dalam gelap, dia hanya menunggu, menunggu untuk dibaca, didengar, dan digaungkan, hingga membuat hari menjadi benderang. Dalam kunjunganku ke beberapa situs di dunia maya, aku menemukan kmbali, mantra-mantra yang telah lesap dalam hari-hari masa laluku…

Hari ini, aku mengangkat pena.

meirna yang mencari malna..
kudus, juli 2011

 Catatan: Afrizal Malna adalah seorang penyair yang 'menyihir' (menurutku..), dan aku masih mencari semua karya2nya, buat ibu2 yang di koleksi bukunya ada terselip bukunya Malna, pinjemin yaa... ^_^, eniwey salah satu situs dunia maya itu termasuk IIDN ini lho..akujadi berani menulis lagi... thanks to all...big thanks to @wahidah mizu... yang udah nyemplungin aku ke group ini...








0 komentar:

Post a Comment