Breaking News

01 February, 2012

masih boleh narsikah?

 
Ladang Amalku
(Yurmawita Adismal)
            Merasakan punya anak. Ini luar biasa. Semua rasa bercampur baur kayak gado-gado. Kadang senengnya minta ampun namun keselnya juga tak kepalang tanggung. Kadang hati rasanya tersanjung namun yang kesandung juga tak tanggung-tanggung.
            Tahun 2006 tepatnya bulan Oktober, aku diberikan anugerah terindah yang belum pernah ada sebelumnya. Anak pertamaku lahir, dalam kondisi segar bugar berbobot 3.6 kl. Melalui persalinan normal.
            Hari-hari sejak kelahiran buah hatiku semangat hidupku bagai berada dipuncaknya. Melihat dia bergerak sedikit lalu menangis keras, hati sudah mulai cemas, melihat dia tidur lama juga cemas, takut tidak bangun-bangun. Kadang badannya memerah biang keringat disangka demam berdarah, lalu kalau dia mengeluarkan moek nya habis minum ASI hati tak menentu dikira muntah-muntah, wuiih benar-benar diaduk-aduk nih perasaan dan fikiran.
            Saat  tidur malam tak pernah nyenyak lagi, beberapa kali terjaga oleh tangisan si kecil, ganti popok, haus, hingga ee .  Sekitar umur 5 bulan hingga 1 tahun ia tak mau tidur jika diatas jam 12 malam hingga subuh menjelang. Mending   jika ia sekedar main ditempat tidur, namun maunya digendong hingga matanya terpejam nah, ketika ditaruh di kasurnya, matanya terbuka dan menangis lagi. Digendong lagi, diayun-ayun lalu tertidur, ditaruh di tempat tidur bangun lagi. Begitu seterusnya hingga beberapa kali.
            Hingga adzan subuh memanggil ia baru bisa tertidur pulas. Giliran saya yang ngantuk berat, tapi pekerjaan selanjutnya udah menunggu. Harus mempersiapkan segala sesuatu buat suami berangkat kerja, memasak untuk sarapan kemudian beres-beres rumah, hingga mencuci pakaian. Hingga pagi menjelang saat badan sudah letih karena bergadang semalaman, sudah ada  pekerjaan lain yang menunggu. Tapi mata sudah mengantuk berat. Badan seperti tertimpa ghodam berat. Baru mau beristirahat sejenak giiran bayiku bangun untuk mandi, berjemur, lalu sarapan.
Akibatnya hingga usia bayiku setahun ternyata berat badan ku menurun drastis, 10 kilo. Busyet… tak perlu diet lagi. Aku bersyukur, disaat ibu-ibu berjuang mati-matian untuk menurunkan berat badan, aku tak perlu direpotkan dengan senam aerobic dan sebagainya. Cukup dengan melaksanakan kewajiban sebagai seorang ibu yang seutuhnya saja.
            Saat usianya sudah diatas setahun, baru aku bisa merasakan nikmatnya tidur malam. Meskipun masih harus terbangun juga saat ia mau minta dibuatkan susu. Namun frekuensinya tidak banyak. Hanya satu kali dalam semalam. Ia pun bisa menyesuaikan dengan jadwal tidur normal.
            Tapi kondisi ini tak berlangsung lama, ketika usia anak pertamaku 2 tahun, aku hamil lagi. Wuiih.. terbayang betapa repotnya, saat lagi mabuk berat sang kakak lagi banyak maunya. Main harus ditemani, belum bisa mandiri dan semua harus umi. Akibatnya perhatian pada kondisi kehamilanku tak begitu sempurna. Makan tak terlalu kuperhatikan, yang penting sang kakak bisa nurut dan tidak rewel saja sudah menenangkan hatiku.
            Belum lagi saat pekerjaan dikantor menumpuk, pembantu tidak ada semua serba dikerjakan sendiri. Minta tolong suami iapun mempunyai pekerjaan yang menumpuk di kantornya. Akibatnya semua menjadi kurang perhatian.
            Si kakak dapat perhatian setengah, saat ia mau bermain badan letih, saat suami minta dilayani hati sudah tak mood lagi, saat menyelesaikan pekerjaan rumah bawaannya kesel melulu. Saat kerja pun terbawa-bawa. Emosi labil, isi perut seperti mau keluar semua, badan bak diremas-remas, mata kuyu, wah..pokoknya amburadul. Maunya semua sempurna tapi nyatanya malah menjadi bumerang buat diri sendiri.
            Hingga lahir anak keduaku, aku pun berfikir, jika terus-terusan begini tentu tak baik bagi perkembangan anak-anakku. Maka aku berusaha mencari asisten. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
            Beberapa kali gonta-ganti, berbagai alasan membuat mereka tak betah, mulai dari anak gadis yang masih mau bebas, disuruh kerja ini itu malah manyun di depan televisi.   Di minta nyuapi anak malah dimakan sendiri. Akibatnya bukan malah menolong kerjaan ku tapi malah menambah bebanku , harus memulangkannya, ia minta ganti rugi dan sebagainya. Makan ati….
            Saat anak keduaku mulai mandiri, perlahan aku berfikir mulai menata ruang hidupku. Tak punya asisten tak apa yang penting semua amanahku beres. Pertama yang aku lakukan adalah membuat schedule harian. Kira-kira begini,
            Subuh bangun, solat. Lalu aku merendam cucian (Kebetulan masih pake tangan, habis trauma pake mesin cuci he..he.). saat cucian terendam aku masak. Bahan makanan sudah harus tersedia di dalam kulkas, jadi tinggal nyemplung ke wajan. Sembari masak untuk sarapan,  sempatkan menyapu lantai, membereskan rumah, kemudian mempersiapkan peralatan kerja suami, baju anak-anak dan bekalnya. Masak selesai, lalu mengucek cucian. Cucian sudah selesai, lalu dijemur di pagi buta.
            Saatnya membangunkan anak-anak. Dibantu suami, giliran mereka mandi lalu memakaikan seragam buat si kakak yang sudah PAUD, si adek juga dipersiapkan untuk dititipkan. Setelah semua beres. Tinggal mempersiapkan diri sendiri. Mandi, berdandan. Tepat jam 07.00 semua berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Habis sarapan, piring-piring kotor di taruh dulu di dapur. Kami semua berangkat meninggalkan rumah. Suami mengantar si kakak berangkat ke sekolah, aku mengantar adek di penitipan, setelah itu baru menuju kantor.
            Setelah menjemput si kakak pulang maka  aku kembali bergelut dengan rutinitas  rumah.  Menemani anak bermain, bersantai, sembari mengerjakan sisa pekerjaan yang belum tuntas. Saat siang baru bisa rehat.
            Di sore hari kuajak anak-anak bermain ke tetangga. Dan malam harinya mengajarinya membaca dan menulis, lalu mengantarkan mereka tidur malam sambil membacakan cerita. Saat mereka tertidur giliranku membuka layar monitor PC. Untuk mengembangkan hobi menulis. sembari mendengarkan curhatan suami di tempat kerjanya.
            Itu bisa kulakukan kalau tak ada kerja ‘lembur’ . menjadi tukang urut dan tukang kerok sang suami tercinta. He…he..
            Inilah sekelumit kisahku menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga sekaligus berkarir. Intinya adalah keikhlasan seorang istri dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kalau kita hanya mementingkan diri sendiri, maka selalu ada yang dikorbankan, ya anak lah yang tidak mendapatkan perhatian utuh dari seorang ibu, kemudian suami yang tidak terlayani dengan sepenuhnya , lalu pekerjaan rumah yang terbengkelai atau malah karir yang suram.
            Tentu kita tak mau semuanya menjadi terbengkelai dan akhirnya menjadi bumerang buat kita sendiri kan bu? Oleh karena itu, tak ada salahnya jika kita mengerjakan semuanya sesuai dengan porsi masing-masing.
            Saat bekerja kita melaksanakan dengan sepenuh hati, saat menyelesaikan pekerjaan rumahpun kita lakukan dengan hati riang, saat mengurusi anak-anak juga lakukan dengan riang gembira. Apalagi saat melayani suami, tentu kita tak ingin setengah hati. Dan juga saat kita melakukan hobi kita, tentu ada porsinya agar kita merasa puas dengan hasil yang di dapatkan.
            Jika semua sudah seimbang kita   lakukan. Maka tak akan ada penyesalan dikemudian hari. Tak akan ada kasus anak yang kehilangan perhatian dari orang tua yang sibuk bekerja, tak akan ada pula suami yang punya affair lain gara-gara tak mendapatkan perhatian sepenuhnya dari sang istri, dan kita juga tak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita.
            Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam IBU Hebat!!

1 komentar:

Hilda Vanisa said...

selamat ya sis atas kelahiran putranya, tentu pengalaman yang luar biasaa sekalee..apalagi menyusui sendiri, itu hal terindah bwt kita seorang mommy. sis apa tahu dimana cari baju senam terbaru merk crystal di sby? salam kenal dan sukses selalu eaa :)

Post a Comment