Breaking News

25 January, 2012

• Mari sehat, agar Mereka bersama kita lebih lama

By Vida Robi'ah Al-Adawiyah
Aku terpekur melihat jasad perempuan itu telah terbujur kaku dengan gurat senyum tipis. Diabetes 24 tahun dijalaninya dengan usaha-usaha pengobatan dan ketegaran maksimal. Ia mampu menyemangati dirinya hingga saat fisiknya dan psikisnya  akhirnya menyerah. Beliau telah komplikasi di ginjal dan lambung karena obat, sebelum akhirnya koma selama lima hari. Hujan deras mengguyur Solo sore  itu.Sempat kubacakan Yaasin sampai selesai di naza’nya yang pertama, lalu tenang. Sorenya aku masih memastikan beliau akan baik-baik saja sejenak kutinggal menjenguk anak-anakku. Meskipun dibilik jiwaku aku sudah memasrahkan bahwa mungkin beliau tak kuat lagi menahan semua lara.Ada adik-adik, ayah dan tanteku disana. Sayang, aku pulang. Dan benar, takdir memang tidak memihakku menyaksikan perempuan tegar nan cerdas itu pergi selamanya.Ia wafat 20 menit sesampainya aku dirumah.Perempuan itu : ibuku.Allah lebih mencintainya, mengakhiri segala laranya dengan menjemputnya kembali.

Aku mendengar lagi dilain hari, seorang perempuan harus berakhir pilu, meninggal tergerogoti kanker payudara. Ia enggan diamputasi saat masih stadium awal.Ia TAKUT fisiknya tak lagi sempurna.Kemotherapi dipilihnya untuk sekedar mengikhtiari diri.Padahal, setahuku, saat dokter masih menawarkan amputasi, maka justru kemungkinan kanker belum begitu parah.Apa daya, perempuan cantik tetangga ibu mertuaku itu meninggal.Tak perlu lagi menyalahkan takdir
Lalu, aku terhenyak lagi.

Aku mendengar kabar seorang ibu meninggal saat melahirkan anak kelimanya (yang hidup). Usut punya usut, diusia 8tahun pernikahan hamper setiap tahun ia melahirkan. Dan dari tujuh kelahiran, dua putranya meninggal. Dan ia pun meninggal.

SAhabatku, Aku tak hendak menambah cerita tentang perempuan-peempuan malang disekitar kita. Aku hanya berpikir apakah aku akan menjadi salah satu perempuan yang meninggalkan orang-orang tercinta dengan kematian yang memilukan? Aku tau sakit, mati, luka, lara semua adalah bagian dari garis takdir manusia. NAmun aku juga meyakini bahwa sehat, sejahtera, bahagia, menyenangi hidup, tenang dalam kehidupan adalah hak hidup yang harus kita perjuangkan.

Perempuan adalah makhluk kuat yang sanggup menahan perih dan lara. Ia ditakdirkan menjadi pelahir generasi dan sanggup memikul beban.Aku yakin itu.NAmun, tak jarang diantara kita –perempuan- mengabaikan hak hidupnya untuk sehat, mengabaikan sinyal tubuh yang mulai lelah dan butuh istirahat. Kita abaikan kebutuhan-kebutuhan perawatan kesehatan, merawat diri sendiri, sekedar melepas penat atau sekedar memenuhi kebutuhan nutrisi sederhana. Ibu harus mengalah? Hahaa…tidak segitunya,lagi.

Sehat.Itu yang kita mohon dari Allah.Dan tentunya tak bisa serta merta. Penuhilah, sebab kita berhak untuk itu. Aku sering menjadi sangat cerewet bertanya pada semua teman-temanku yang ahli dan memiliki kapasitas dalam ilmu medis. Apakah itu tentang nutrisi, kesehatan umum, nama-nama obat dan gunanya (kebetulan aku sering membantu di program pelayanan posyandu lansia dari sebuah partai dan darisana aku jadi tau komposisi dan nama-nama obat serta gunanya hehe). Menjadi sehat adalah investasi tak ternilai.

Mungkin sudah saatnya kita merencanakan program sehat bersama suami kita. Kapan kita harus sudah mngurangi gula dan kalori yang sudah  harus dimulai sejak masuk usia 30 tahun, kapan kita besepakat untuk berolahraga bersama, kapan kita melakukan general chek up untuk kesehatan kita, kapan kita HARUS merencanakan kehamilan dan kelahiran agar rahim kita tidak segera ‘aus’.Kehamilan dan kelahiran membutuhkan stamina yang oke, jadi bekerjasamalah dengan suami untuk merencanakannya. Kapan kita harus menganggarkan sarana-sarana kesehatan.

JAngan lagi berpikir cemas bahwa itu pemborosan atau “ah begini saja udah cukup”. Tidak. Sehat dan bahagia adalah invetasi. Kesehatan dan rintisan meraih kesejahteraan adalah wujud dari cinta untuk anak-anak kita, jika kita masih ingin mengasuh mereka dengan optimal. Kesehatan lahir batin, jiwa yang gembira, pernikahan yang menyenangkan akan berpengaruh pada semangat kita mengasuh anak-anak, melayani suami dan mencintai diri sendiri. Mungkin, kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana, sekarang! Mari sehat, agar kita dan mereka yang kita sayangi bisa bersama lebih lama.I love you Bunda!


Cuplikan naskah bukuku "METAMORFOSA PEREMPUAN"
BAb : Bunda Sayangilah Dirimu