Breaking News

30 January, 2012

Lima Belas Tahun Tanpamu


Kutelusuri lorong gelap itu sendiri tanpa sosok seorang suami di sisi. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku pernah mendapat cerita dari seorang teman, bahwa ia terpaksa selingkuh karena tidak tahan harus menjalani hubungan jarak jauh dengan sang suami. Ia tak kuat. Temanku yang lain lagi bercerita bahwa sang suami sudah menikah lagi di perantauan, sedangkan ia ditelantarkan begitu saja tanpa rasa berdosa. Ah… menjalani hubungan jarak jauh dalam waktu yang cukup lama dengan orang yang dicinta memang tak semudah bila berkata-kata. Engkau tahu itu, aku tahu, dan semua orang pun tahu.

Mas, sesungguhnya aku merelakanmu pergi ke tanah rantau yang sangat jauh jaraknya karena terpaksa. Ya, karena terpaksa. Demi sesuap nasi dan masa depan keluarga kita yang lebih cerah, kau terpaksa pergi meninggalkan aku dan kedua putrimu yang kala itu masih berusia 10 dan 1 tahun.

“Kalau aku gak pergi, kita mau makan apa?!” katamu waktu itu meyakinkan aku karena kau melihat keraguan dan ketidakikhlasan dalam sorot mata dan pancaran wajahku.

Usiaku kalau itu masih terbilang muda ya Mas, masih 27 tahun, sedangkan kau 37 tahun. Ya, kita memang berbeda 10 tahun, namun karena pesona ketampananmu perbedaan umur 10 tahun itu seolah-olah tergradasi menjadi 5 tahun.

Jujur, aku takut kau tinggalkan. Boleh kan aku jujur sekarang. Bagaimana tidak takut mas, kau tampan, sangat tampan, kata orang kau mirip artis Franky Sahilatua. Kau juga pandai, pandai bergaul dan berdiplomasi.  Banyak sekali kelebihan-kelebihanmu yang tak mungkin aku tuliskan satu-persatu di lembar putih ini Mas. Terlalu banyak. Itu sebabnya, aku tak rela bila kau pergi ke tanah rantau. Aku sangat takut kehilanganmu Mas.

Ya, aku masih ingat, beberapa hari sebelum kau berangkat, kita terlibat debat yang cukup hebat. Kau menyalahkan aku yang katamu waktu itu sangat pencemburu dan mudah negative thinking. Sedangkan aku menyalahkanmu karena kamu tak pernah tahu apa yang aku rasakan. Kekhawatiranku, ketakutanku, dan segala macam rasa yang menyesakkan di dada.

Walau demikian, pada akhirnya aku merelakanmu untuk pergi. Berbekal beberapa potong baju karena memang yang kau miliki hanya itu, uang yang hanya cukup untuk berangkat saja itupun dengan menjual cincin kawin kita, serta baju milik anak pertama kita Veni yang katamu bisa menjadi obat penawar rindu di sana.

“Jaga Veni dan Mita!!” pesanmu singkat.
“Kalau sudah ada kesempatan aku akan segera mengirim surat!” katamu lagi sebelum kau benar-benar menghilang dari pandanganku.

Hari itu, beberapa detik setelah kepergianmu ke negeri orang, perjuanganku sebagai “single parent” pun dimulai. Veni masih baru saja masuk SMP sedangkan Mita masih baru belajar jalan. Uang yang engkau tinggalkan untukku hanya cukup untuk makan beberapa minggu saja. Aku tak menyalahkanmu mas, sungguh, percayalah, karena memang itu yang kau punya. Sedangkan beragam kebutuhan seolah tak kenal kompromi menjerit-jerit menagih untuk aku datangi. Uang SPP Veni, biaya imunisasi, bayar listrik, dan kebutuhan sehari-hari bulan depan.

Ah… sungguh, tak bisa kubayangkan saat itu aku bisa menjalaninya. Aku hanya menitikkan bulir putih saat melihat dompetku yang dari hari ke hari semakin menipis. Aku juga terpaksa membentak Veni yang ingin membeli buku baru, padahal aku tahu dia sangat membutuhkannya.

“Kamu kan bisa pinjam temanmu!! Jangan minta macam-macam!! Ingat, adikmu sebentar lagi akan imunisasi!! Kau tak minta macam-macam itu sudah merupakan bantuan berharga buat Ibu Nduk!!”
Aku tak tega sebenarnya, sungguh. Tapi aku memang harus berbuat demikian demi kelancaran hidup kita Mas. Kebutuhan yang lain masih berteriak-teriak dan menjerit-jerit minta diladeni.

Beruntung, Veni termasuk anak yang pengertian dan sangat mengerti kondisi orang tua. Dia juga sangat sayang dengan adiknya. Mas, sampai kapan kita terus-menerus seperti ini. Aku hanya bisa bercerita kepada Allah saja Mas jika segala macam pikiran negatif itu muncul. Veni masih terlalu kecil untuk aku beritahu tentang kondisi keluarga kita.

Mas, masih ingatkah dirimu ketika bulan pertama berselang dan kau tak juga memberi kabar. Aku masih bersabar dan terus mengharap kedatangan suratmu Mas. Namun, aku tak kunjung mendapatkannya. Bulan pertama berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang berharga tentang dirimu di sana. Bulan kedua datang, harapan muncul. Setiap hari, aku menunggu kedatangan Pak Pos ke rumah sederhana kita. Tapi itupun tak juga aku temukan Mas. Ah… aku masih sabar. Aku berusaha mengerti bahwa hidup di rantau tak semudah hidup di negeri sendiri. Ya, aku berusaha mengerti Mas. Hingga akhirnya bulan ketiga datang dan kau tak jua mengirim kabar. Hatiku mulai galau. Otakku tak mampu lagi berpikir, kali ini aku mesti mencari pinjaman ke mana lagi? Sedangkan pinjaman bulan lalu belum juga aku lunasi! Veni dan Mita, bagaimana aku bisa membiayai mereka.

Kau tahu apa yang aku lakukan Mas? Aku meminjam sekarung beras di toko Akiong, yang terkenal pelit itu. Entah mengapa dia mau meminjamkan berasnya untukmu. Mungkin karena tak tega melihat kondisiku yang terdiri dari tulang yang terbungkus kulit. Entahla. Yang jelas waktu itu aku sangat bersyukur karena masih ada orang yang peduli. Setelah sekarung beras berhasil aku dapatkan, aku lantas menjualnya Mas. Ya, menjualnya ke tempat lain, dengan harga miring agar penjual tertarik. Tentunya, hasil penjualan beras itu aku pergunakan untuk membayar uang sekolah Veni dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Awal bulan keempat mulai datang, dan kabar darimu tak jua kunjung aku dapatkan. Aku mulai pasrah. Aku tak tahu apa yang terjadi denganmu di sana. Entahlah. Aku menyerahkan semuanya kepada Allah. Apa yang akan terjadi terjadilah. Hanya saja, tangisku tak akan bisa aku bendung kalau Veni bertanya kapan kau akan pulang. Sedangkan Mita, dia seperti tak kenal sosok ayah karena sejak kecil sudah kau tinggal.

“Bu, Bapak kapan pulangnya? Lama banget ya di sana?” tanya Veni hampir tiap malam.
Dan aku hanya bisa menjawab dengan kalimat yang sama, “Bapakmu cari uang nduk buat biaya sekolahmu dan adikmu. Nanti kalau uangnya sudah terkumpul banyak ya pasti pulang.”

Akhir bulan kelima, kabar tentangmu baru kudengar ditelinga. Syukur alhamdulillah, Allah mengabulkan doa-doaku dalam setiap sujud malamku. Kau bercerita tentang kondisi di sana, di Pulau Dewata. Kau juga bertanya tentang kondisi Veni dan Mita. Satu lagi, kau berjanji akan segera mengirim uang melalui wesel.
**

Entahlah, lama-lama aku terbiasa tanpamu. Terbiasa menjadi “single parent” dengan segala macam permasalahan yang silih berganti menghampiri. Aku juga terbiasa menalangi uang bulanan yang telat kau kirim dengan uang hasil keringatku. Alhamdulillah, sedikit banyak itu bisa membantu menyelamatkan kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anak. Aku berjualan ikan lele sekarang Mas. Tentunya kau tahu, karena semuanya atas izinmu.
Empat bulan sekali kau pulang. Itupun tak lama hanya seminggu.

“Kalau pulang lama-lama nanti Pak Chandra marah!” katamu waktu itu menjelaskan mengapa kau tak pernah di pulang lebih dari seminggu. Dan untuk yang kesekian kalinya aku harus mengerti. Semua demi aku, anakku, dan demi kita.

Kau pikir hatiku tak pernah bergejolak selama kau tinggal Mas. Kau salah, karena hampir setiap hari bibirku tak pernah berhenti berdzikir dan tanganku tak pernah berhenti menengadah agar kau di sana selamat dari segala macam gangguan, termasuk gangguan yang paling aku takuti selama pernikahan, yaitu “orang ketiga”. Bila aku tak kuasa membendung segala macam beban sendiri, aku pasti akan menangis untuk membuat hatiku ini sedikit lega.

Hari-hari tanpamu, terus aku lalui. Anak-anak sudah mulai beranjak dewasa. Veni, sudah bisa aku jadikan teman di kala sepi. Dia anak yang baik dan sangat pengertian Mas. Aku kasihan kadang-kadang bila harus menyuruhnya untuk mengalah demi adiknya. Namun sepertinya dia mengerti akan kondisiku Mas, dan dia selalu mau melakukannya. Ah… beruntung kita mas karena memiliki anak sebaik Veni.

Sedangkan Mita, sekarang dia sudah bersekolah. Alhamdulillah, dari awal sekolah hingga sekarang Mita selalu bisa membuat kita bangga dengan prestasi-prestasi yang diukirnya. Dia juga sering mendapatkan buku gratis dari gurunya karena mampu menjawab soal-soal yang diajukan. Ehm… bahagia ya Mas melihat anak kita seperti Veni dan Mita. Aku sangat bersyukur.

Pelangi cinta itu sudah mulai nampak dalam keluarga kita Mas. Bila dulu yang menulis surat padamu hanyalah aku, sekarang Veni dan Mita sudah bisa mengeluarkan uneg-unegnya kepadamu. Tentunya kau sangat bahagia bukan, karena kedua buah hatimu serasa dekat dengan dirimu meski kenyataannya jauh.

Mita dan Veni juga sudah mulai pandai bercerita Mas, tentang segala macam isi hatinya, tentang uneg-unegnya, termasuk tentang cara mendidikmu yang …. kata mereka … kolot dan keras itu. Maaf ya mas, tapi memang inilah yang mereka ceritakan padaku. Cara mendidikmu keras dan kolot. Mita lah anak kita yang paling sering protes. Yah, dia memang tak seperti Veni yang lebih banyak diam bila tidak setuju. Mita, dia selalu protes dengan apa-apa yang tak sesuai dengan isi hatinya. Tapi, harus aku sadari bahwa dua anak tentunya memiliki dua jenis karakter yang berbeda. Bagaimanapun, pada dasarnya Veni dan Mita adalah anak yang baik dan sangat menyayangimu Mas. Percayalah.

Jauh di lubuk hatiku, aku bersyukur memiliki suami sepertimu. Kau adalah sosok ayah yang sangat baik dan sayang dengan kedua anakmu. Meski hal itu engkau tunjukkan dengan sikapmu yang keras, peraturan-peraturan hidup yang kau tulis di dalam buku yang wajib dibaca oleh kedua anak kita, serta sikap tegasmu yang membuat mereka menghormatimu. Kau, adalah sosok ayah yang excellent.
Lima belas tahun sudah kau meninggalkan aku, Veni, dan Mita. Dan selama itu, lautan duka telah kita arungi bersama, jurang godaan bisa kita hindari meski sesekali kita hampir terjatuh ke dalamnya, dan yang lebih penting anak-anak kita Mas. Yah, Veni dan Mita telah jadi orang, meski dia dibesarkan tanpa sosokmu secara fisik, namun dia telah tumbuh menjadi wanita yang kuat dan membanggakan kedua orang tuanya. Veni, dia memiliki keluarga yang sangat bahagia dan suami yang sangat sayang padanya. Kau senang bukan. Sedangkan Mita, anak bungsu kita yang paling kau sayangi juga selalu membuat kita bangga dengan prestasi-prestasi akademisnya Mas, meski ia dibesarkan dengan fasilitas yang sangat pas-pasan. Mita kini juga telah berkeluarga dan memiliki suami yang sangat mencintainya. Kebahagiaanmu bertambah bukan Mas.

Mas, sekarang kau tak perlu lagi meninggalkan aku bertahun-tahun. Kini aku bisa memandangi wajahmu yang masih tetap tampan meski usiamu sudah lebih dari setengah abad lebih itu. Aku bisa membuatkanmu wedang jahe kesukaanmu setiap hari. Mas, aku bahagia, sangat bahagia. Setiap hari kita bisa berkeliling melihat-lihat kebun kita yang kau beli dengan hasil keringatmu itu. Setiap hari aku bisa mendengar cerita-cerita darimu, dan bersama-sama kita bisa melihat kedua putri kita bahagia Mas. Inikah yang disebut dengan sengsara membawa nikmat. Inikah yang disebut sebagai nikmat Allah. Inikah karunia Allah yang kita peroleh sebagai penebus perjuangan panjang kita di hutan belantara kehidupan selama belasan tahun selama ini. Mas, yang jelas, aku sangat bahagia menjadi istrimu, jauh ataupun dekat, kau selalu di hatiku Mas. Aku berharap, agar kedua putri kita juga bisa merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Aminn.
Teruntuk suamiku tercinta, Mas Rudi. I love you coz Allah.


kisah nyata dari seorang nenek











0 komentar:

Post a Comment