Breaking News

24 January, 2012

Lelaki Muda Itu


Lelaki muda itu jalannya terhuyung – huyung, kemudian....gedebrak...jatuh. Aku berlari mendekati , ..astaga pingsan, segera kugotong dibantu Bapak – bapak petugas ronda. Ditengah malam mendekati pagi kubawa dia kerumah sakit. Lelaki muda itu suamiku...
 Ditengah keremangan cahaya lampu rumah sakit, kulihat wajahnya pias, matanya tertutup, tak berhenti kuucapkan Istighfar, memanggil Asma Allah, agar suamiku cepat tersadar dari pingsannya. Napasnya perlahan turun naik, menandakan masih ada denyut – denyut kehidupan. Kupanggil panggil namanya, tidak ada sahutan, kuamati wajahnya yang pucat..., diam tidak bergerak. Tiba – tiba anganku melayang jauh.......

Aku kuliah di Kota Pelajar, suamiku Joni adalah temen satu angkatan denganku. Kalo inget saat itu, rasanya geli, aku dicap suamiku sombong, maklum waktu itu aku sudah skripsi sementara teman – teman kuliahku masih sibuk menyelesaikan mata kuliah.  Aku juga sudah punya pacar, sehingga aku agak cuek sama temen – temen kuliahku yang cowok. Akhirnya aku lulus tepat waktu dengan nilai yang lumayan. Dan aku diterima bekerja di sebuah BUMN yang cukup ternama di Jakarta. Aku kost di dekat kantorku, masuk gang yang lumayan sempit.
 “ Jon...kok kamu tahu kostku sih...”? tanyaku tak percaya saat melihat Joni sudah berdiri didepan kostku yang sempit di Jakarta.
  “ Ya...kan kamu surat – suratan sama Nina kan? Aku tahu alamatmu dari Nina...” katanya. “Ohh......” aku manggut – manggut, ternyata Nina temenku yang masih tertinggal di Kota Pelajar yang memberi alamat. Rupanya Joni juga sudah lulus dan sedang mencari kerja di Jakarta. Dalam hati aku membatin...berani juga dia main kekostku padahal aku sebetulnya nggak begitu akrab. Kami berbincang – bincang seputar teman – teman kuliah, aku melihat  seorang pemuda yang baik dan sederhana.

Aku cerita sama teman akrabku dikantor, kalo aku habis dapat tamu teman kuliahku.              “ Orangnya baik dan ganteng...lho..., mau ngga tak kenalin...?” kataku pada temen kantorku si Etty.    Ya, waktu itu aku belum tertarik sama Joni, karena ada beberapa calon yang membuatku bingung untuk mengambil keputusan sebenarnya siapa yang benar – benar akan menjadi jodohku. Saat itu, setiap malam aku menjalankan sholat malam karena aku ingin Alloh memberiku petunjuk siapa sebenarnya jodohku.
Eh...tiba-tiba aku bermimpi Joni sedang tersenyum melihatku dan aku mendadak terbangun. Aku berpikir kenapa aku mimpi Joni? Apa dia yang akan menjadi jodohku...? aku bergumam dalam hati. Aku tidak percaya dengan mimpiku, kulanjutkan Sholat Istikharoh tiap malam sambil bertanya kepada Alloh siapa sebetulnya yang akan menjadi jodohku Ya ...Alloh..? aku berdoa sembari ingat ibuku yang sangat ingin aku segera menikah.
Aku terkejut saat aku bermimpi Joni tersenyum memandangku. Aku tersadar kayaknya inilah jodohku, Alloh sudah menunjukkan lewat mimpiku. Setelah itu, hubungan kami semakin dekat , dan saat pulang kampung orang tua kami menyuruh kami menikah....
Aku tersadar dari lamunanku. Kulihat mata suamiku membuka dan suara pelan suamiku bertanya : “ Aku dimana...Ma? ayo kita pulang ..“katanya. Aku tersenyum, suamiku memang tidak suka di rumah sakit. Kusuapi air minum dan bubur saring. Tiga hari menginap dirumah sakit dokter mengijinkan pulang.
“ Dokter..sebenarnya suamiku sakit apa...? tanyaku kepada dokter yang merawat suamiku.
“ Bapak ngga boleh stress, capek, ...Bu..” kata dokter. Selama ini memang suamiku sudah tidak  tahan kerja di kantornya, pengen wiraswata saja, jadi selama ini karena stres berat jadi sakit seperti ini. Akhirnya suamiku mengambil keputusan untuk pensiun dini. Jabatan Senior Manager dengan fasilitas yang menggiurkan ditinggalkannya. Dengan semangat yang membara, suamiku tidak lelah mencari klien untuk Konsultan yang didirikannnya. Walaupun agak susah dan kadang nyaris putus asa, aku selalu memberinya semangat.
 Lelaki muda itu tampak agak tua, jalannya tidak setegap dulu, pelupa lagi, walaupun bukan Senior Manager , aku tetap mencintainya, karena dia adalah ayah dari keempat anakku....

Sri Rejeki  Handayani
Medio Mei  2011





0 komentar:

Post a Comment