Breaking News

31 January, 2012

Lelah...


Lagi-lagi aku dipanggil ke ruang guru. Aku sudah tahu alasan mengapa aku dipanggil kesana. Pasti tentang uang SPPku yang sudah nunggak hampir 3 bulan. Malu sekali rasanya ditatap para guru dengan pandangan tak bersahabat. Aku bingung, benar-benar bingung. Sudah berulangkali kuutarakan tentang uang SPP itu pada bapak dan emak. Tapi jawabannya selalu sama, “Besok, kalau sudah punya uang lebih. Tau sendiri kan, sekarang tarikan bapakmu lagi sepi, cucian emak juga cuma sedikit!”

Yah...bapakku memang cuma seorang tukang becak, ibuku buruh mencuci. Tapi sekarang tiap orang sepertinya sudah punya motor, jadi becak bapakku jarang laku. Emakku juga menurun jumlah pelanggannya. Mereka lebih suka mencucikan bajunya ke laundry yang lebih cepat kering dan wangi. Sementara emakku sangat tergantung pada cuaca. Kalau musim hujan bisa dua sampai tiga hari baju-baju para langganan selesai dicuci. Akhirnya mereka malas mencucikan di tempat emakku yang tak punya mesin pengering.

Benar saja, Bu Warti sudah menantiku di depan pintu ruang guru dengan raut wajah tak sabar.
“Gimana, mau bilang besok lagi bayar uang sekolahnya? Kamu sudah bilang sama orang tuamu belum sih?”
Aku tersenyum  pahit dan mengangguk.
“Lagian, bapak ibumu itu sudah dikasih surat dari sekolah kok nggak nongol-nongol juga!”
Wajah Bu Warti semakin ditekuk.
“Iya, saya coba bilang lagi nanti Bu...” suaraku sayup-sayup melemah. Kalimat ini sudah yang ke sekian kali kuucapkan di depan guruku.

“Kalau saja kamu pinter, bisa masuk ranking 10 besar, kami bisa mengusahakan bea siswa untuk kamu. Sayangnya...” Bu Warti menggantung kalimatnya walau aku tahu kelanjutannya. Dia akan bilang kalau aku sering tertinggal pelajaran. Ranking 39 dari 40 anak di kelas enam. Dan buntutnya, aku disuruh lebih rajin belajar agar bisa mengejar ketinggalanku dan mendapat bea siswa yang membebaskan aku dari kewajiban membayar SPP setiap bulan.

Sebenarnya aku juga ingin seperti anak-anak yang lain, punya buku pelajaran komplit, bisa belajar tiap malam. Tapi aku sering kelelahan. Pulang sekolah aku harus segera mengurusi keempat adikku, menyuapi, menjaga, dan melerai kalau mereka bertengkar. Sambil memasak nasi, memasak air, dan membersihkan rumah. Agar ketika emak dan bapakku pulang, rumah dalam keadaan bersih. Jangan ditanya kalau mereka pulang dan mendapati rumah kotor. Emak akan mengomel panjang pendek, dan bapak tak segan-segan melecutkan ikat pinggangnya di tubuhku yang kurus. Kadang  jam 10 malam aku baru bisa istirahat, untuk membuka-buka buku pelajaran mataku terasa sangat berat. Apalagi besoknya aku sudah harus bangun pagi-pagi membantu emak memasak dan menyiapkan perlengkapan sekolah adik-adikku.

Kadang aku terpikir untuk berhenti sekolah saja daripada tiap hari didera rasa malu. Tak hanya masalah uang SPP, tapi tas dan sepatu bututku juga selalu jadi bahan olokan teman-temanku.
“Asyik tuh sepatunya Yuni, ada AC-nya!” Budi, si pemimpin anak-anak bandel di kelasku yang paling sering mengerjaiku. Aku cuma bisa diam menunduk, menatap kedua ujung sepatuku yang sudah bolong tepat di bagian ibu jari diiringi derai tawa teman-temanku. Kali lain, mereka mengambil tasku dan meletakkannya di tiang bendera depan sekolah. Jadilah aku bahan tontonan saat dengan susah payah mengambil tas itu dari ujung tiang. Lagi-lagi dengan sorak sorai riuh di belakangku.

Sudah beberapa kali aku meminta pada emak dan bapakku untuk dibelikan sepatu dan tas yang baru. Tak perlu mahal, yang penting tidak dekil dan berlubang seperti yang sering kupakai selama ini.
“Heh, matamu kemana...?”
Aku mengkerut, sudah tahu ke arah mana pembicaraan emakku.
“Nggak lihat emak bapakmu banting tulang biar kita bisa makan?! Boro-boro beli sepatu sama tas, bisa makan tiap hari saja sudah sukur!!”
Lalu aku tak berani meminta lagi. Menelan dengan pahit lagi tatapan teman-temanku yang mencemoohku dari waktu ke waktu.

Suatu hari, saat sedang membersihkan rumah tak sengaja kudengar sebuah berita di televisi. Seorang anak SD gantung diri karena tak diberi uang untuk membayar sekolahnya. Aku merasa mendapat inspirasi. Kubayangkan, aku akan terlepas dari semua beban bila aku mengambil jalan yang sama. Tak ada lagi tatapan marah Bu Warti, tak ada lagi riuh cemoohan teman-teman yang mentertawai kepapaanku, dan yang jelas tak ada lagi omelan emak dan sabetan ikat pinggang bapak di tubuhku.

Tapi aku teringat adik-adikku. Walau mereka sering membuatku repot dan kewalahan, aku sangat menyayangi mereka, terutama si bungsu Umar yang sedang lucu-lucunya. Siapa yang akan meninabobokkannya saat ia mengantuk? Siapa yang akan menyuapinya saat lapar? Emak dan bapakku sibuk mencari uang. Aku menyusut sudut mataku yang tiba-tiba memanas dengan ujung bajuku yang kumal terkena ingus adik-adikku. Kulangkahkan kaki menuju kamar adik-adikku yang tengah tertidur pulas. Umar tampak tampan dengan senyumnya yang menawan. Kuelus pipinya lembut, kuciumi lama hingga ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat, kemudian kembali terlelap tidur. Maafkan kakak, Umar...kakak tidak bisa menjagamu lagi. Kakak ingin pergi, ke tempat yang tenang. Tempat yang penuh bunga-bunga dan senyuman bidadari. Tempat yang damai, tak ada bentakan kasar emak, tak ada suara cambukan bapak, dan tak ada orang-orang jahat yang akan mentertawakan kakak.
Kakak lelah sekali, kakak ingin istirahat.

Aku bergegas ke belakang mencari seutas tali, namun tak kutemukan. Hilir mudik kucoba mencari ke dalam lemari peyot satu-satunya yang ada di rumahku. Nihil. Kutatap tiang-tiang kayu yang menyangga rumah kecilku. Beberapa bagian sudah nampak lapuk, sepertinya tak kuat menyangga tubuhku. Aku memutar otak, mencari jalan lain. Kemudian aku tersenyum kecil, pelan namun pasti kuarahkan langkah kakiku ke belakang, menuju sumur...









0 komentar:

Post a Comment