Breaking News

24 January, 2012

KUNIKMATI HARI DAN PERANKU


 
Tentang bagaimana aku harus bersikap adil untuk anak-anakku.

 Ketika anakku kembar dilahirkan, perasaan yang pertama kali muncul dalam benakku adalah, apakah aku bisa menjadi seorang ibu yang baik buat dua anak kembarku.  Aku belum pernah merasakan sebelumnya menjadi seorang ibu dengan satu anak, tiba-tiba Allah memberikan dua sekaligus. Apa aku bisa ? Apa aku mampu ?

Belajar bagaimana harus bersikap adil buat keduanya, adalah pelajaran yang tidak ada habisnya sampai sekarang. Aku dituntut untuk bisa berbuat seadil-adilnya, tidak boleh pilih kasih, tidak boleh membandingkan, tidak boleh membedakan  perlakuan bahkan perkataan sekalipun. Sungguh, pelajaran yang penuh perjuangan. Ibarat dalam cerita dongeng, aku laksana seorang raja yang musti bertindak seadil-adilnya bagi rakyatnya.

Seandainya sedikit lain saja dalam mengucapkan sesuatu, anakku pasti protes. "Tadi mama nggak bilang gitu sama mbak ILA, tadi mama bicaranya pelan !", misal dalam suatu masalah, aku agak sedikit bicara dengan nada agak tinggi ke IZA.

"Mama kok peluk dek IZA, aku kok nggak dipeluk ?", begitu protes mbak ILA suatu ketika.

"Mama kok nggak bilang sayang ke aku, tadi kok bilang sayang sama mbak ILA"begitu terus setiap waktu, tidak pernah ada habisnya setiap hari.

Belum lagi kalau si kembar mendapatkan nilai yang berbeda di setiap mata pelajaran. Aku pun harus bisa menahan diri untuk tidak memberi komentar membandingkan.
Seperti misal suatu ketika anak-anakku menerima raport  semester. Ketika aku lihat hasil nilai keduanya tidak sama, ada selisih jumlah nilai,  aku pun tetap menyatakan bangga pada mereka berdua.
Aku  tidak pernah menuntut anak-anakku untuk menduduki ranking satu, tapi kalau nilai bagus, ada peningkatan dari semester sebelumnya, itu sudah lebih dari cukup, itu sudah prestasi buat aku. Aku harus menghargai hasil kerja keras kami berempat.
Kenapa kami berempat ? karena proses belajar setiap malam adalah kerja keras antara aku, papanya, dan kedua anakku. Menurut aku, kami adalah tim yang hebat.

Apalagi sekarang ada adik mereka lagi yang juga perempuan, IFA namanya.
Wow, mata pelajaran bab ADIL ini, menjadi terasa lebih berbobot. Serasa mata kuliah yang punya bobot lebih dari 4 SKS. Bagaimana tidak ? Setiap kalimat apapun yang keluar dari mulut kami, aku dan papanya, harus siap menuai protes kalau didengar agak lain di telinga mereka.

IFA, si bungsu,  terlalu perasa menurut aku. Yang sering dia katakan adalah, "Mama kok baik sama mbak ILA, IZA ? kok nggak baik sama aku ?", hanya karena aku pernah bilang  "Mbak IFA jangan begitu sama mbak ILA, IZA ya ?,  jangan suka mengganggu ya ?".
Wah, tolooong !
Jadi sekarang ini, tugas buat aku (juga papanya) adalah, harus bisa membagi rata segala sesuatunya untuk  bertiga. Satu dicium, semua harus dicium. Satu dipeluk, semua harus dipeluk. Satu dibilang sayang, semua harus dibilang sayang. Bener-bener harus adil..dil…dil…

Tugas lain adalah, aku harus bisa bertugas sebagai guru privat menemani ketiga anakku belajar dan membantu menyelesaikan  PR, karena sampai saat ini anak-anakku tetap tidak mau aku masukkan ke tempat les atau bimbingan belajar.  Berperan sebagai teman atau sahabat yang harus menemani menonton TV. Sesekali berpartner dalam main game komputer, bahkan kadangkala harus berani beradu bermain PS. Tidak lupa pula, berprofesi sebagai tukang ojek pribadi  karena harus antar jemput sekolah.
Kami , aku dan papanya, menikmati itu semua. Meskipun terkadang bahkan sering kali merasa capek, jenuh, tapi kami yakin bahwa masa-masa seperti ini tak akan terulang lagi.

Aku, tetaplah seorang mama biasa yang juga masih sering emosi jiwa kalau kalian bertiga bertengkar hebat, rebutan sesuatu yang tidak penting, berdebat tidak ada yang mau mengalah, kemudian  ada yang menangis cengeng karena hal yang sepele. Wuih…adegan ini lebih seru dari adegan sinetron manapun, karena kalian bertiga sama-sama kuat kemauannya. Dalam hal ini profesiku berubah total laksana wasit, yang  tidak boleh memihak siapapun. Dan lagi-lagi, ilmuku soal kesabaran mengalami ujian peningkatan level.

Belum lagi profesi tambahan aku sebagai tukang potong rambut. Ahay...! Asal tahu saja, dari kecil sampai sekarang, aku sendiri yang memotong rambut mereka. Kalau habis potong rambut,  para tetangga biasanya kan komentar, "Wah, Mbak Ila Iza habis potong ya ? di salon mana?", pasti mereka akan spontan jawab, "Di salon mama...",  hehehe...lumayan, buat promosi sekalian. Malah yang terakhir, suamiku minta rambutnya juga, aku yang potong. "Rambut Papa dicukur Mama aja, ya...ngirit, Ma !". Hehehe...bisa nih suatu saat kursus salon.

Tapi lepas dari itu semua, meskipun aku ini kadang-kadang adalah Mama yang suka galak, tapi tetap saja hatiku akan luluh, ketika sebelum tidur, mereka  bertiga selalu berdoa dengan syarat harus di depan muka mama. Kemudian selalu minta cium mama, terakhirnya selalu minta dipeluk mama. Biasanya adegan berdoa, minta cium, minta peluk ini dibarengi dengan rebutan siapa yang minta paling dulu. Ternyata Mama tetap menjadi the most wanted person in the house. Asyiiikk…Serasa terbayar LUNAS capekku seharian. Alhamdulillah... 

Kebahagiaan yang lain adalah ketika sekonyong-konyong Ifa memeluk, menciumi mukaku dan mengatakan "Aku sayaang sama Mama...", "Mama sayang aku nggak ?", dan pasti kubalas pelukan Ifa dengan mengatakan dengan nada yang sama, "Mama sayaaang banget sama mbak Ifa"


Tentang rutinitas keseharianku

Mulai awal bulan Pebruari tahun 2009, aku memang sudah tidak dibantu oleh seorang asisten dalam penyelesaian pekerjaan rumah tangga.
Sempat terjadi diskusi antara aku dan suami, yang mengkhawatirkan “apa mama nggak capek ?”…”apa mama…?”, “apa mama…?” dst dst…

Bismillah, aku niati, aku harus BISA !!!

Adegan dari pagi, ibarat komandan perang yang mulai mengatur prajuritnya. Di  mulai dari mengurus anak-anak mau berangkat sekolah (proses membangunkan tidur, menyuruh mandi, memakai seragam dan sarapan pagi).  Dibarengi dengan menjalankan profesi sebagi chef sekaligus koki, karena musti  membuat  sarapan dan mempersiapkan bekal buat si kecil yang masih Play Group. Masih berperan aktif sebagai tukang cuci karena  dibarengi dengan adegan menggiling cucian. Fyuuhh…

Setelah 3 anak-anakku berangkat sekolah, papanya berangkat kerja, mulailah adegan selanjutnya. Kembali berprofesi lagi sebagai tukang cuci, tukang bersih-bersih, koki. Mulai dari menjemur cucian, bersih-bersih rumah dari menyapu, mengepel, berlanjut masak, mencuci perkakas kotor setelah dipakai masak. Kadang kalau lagi niat setrika ya setrika.  Kalau penyakit males kambuh, ya entar-entar aja deh  nyetrikanya.

Biasanya, aku mulai jemput Ifa pulang sekolah sekitar pk. 09.30.  Naa…ini saatnya aku menikmati waktuku untuk bertemu dengan ibu-ibu lain yang juga jemput anaknya. Namanya ibu-ibu kalau sudah kumpul, mana pernah bisa sepi. Tertawa kalau ada cerita heboh, kadang sampai nangis kalau ada yang cerita sedih, berbagi pengalaman tentang anak masing-masing.  Pokoknya seru ! dan aku sangat menikmati moment begini. Pulang sekolah, Ifa pasti  bobok siang, sambil menunggu si kembar pulang sekolah, aku yang tadinya berniat hanya ngelonin Ifa tidur, jadi bisa ikutan tidur. Lumayaaan….


Tentang aktifitasku di luar rumah

Setelah memutuskan untuk tidak berkarir di luar rumah, aku resign mulai akhir tahun 2001, dengan alasan ingin berkonsentrasi penuh terhadap perkembangan anak-anakku, otomatis duniaku adalah hanya rumah dan di luar rumah (baca : bukan kantor). Haha hihi dengan teman kantor, makan siang di kantin kantor, dimarahin bos, mengatasi problem karyawan, stress kerjaan … adalah masa lalu, sejarah yang tidak akan aku lupakan. 

Maka ketika mulai menikmati hari-hariku sebagai ibu rumah tangga, kegiatan yang paling aku senangi adalah kegiatan PKK. Hehehe…emak-emak banget ya kesannya. Apalagi ketika aku diberi kepercayaan sebagai sekretaris PKK, juga sekretaris DAWIS, kemudian diberi tanggung jawab untuk mengelola mading di perumahan, dari cari artikel, ngumpulin karya dari anak-anak, sampai nempelin di kotak mading.

Aku juga diminta untuk mengkoordinir ibu-ibu latihan suara 2 MARS PKK di rumahku. Masih selalu didaulat untuk menjadi MC di acara-acara peringatan hari besar. Sampai ibu ketua PKK-ku bilang “ MC paling pas itu ya njenengan, Nyah. Ntar kalau njenengan pindah ke Semarang, siapa yang bakal nggantiin jadi MC lagi ?”. Waduhh…jadi Ge eR, aku. Bahkan aku pun masih sering dilibatkan untuk mengkonsep kegiatan-kegiatan di lingkungan perumahan.

Wah, aku bukan main menikmati itu semua. Alhamdulillah, suamiku nggak protes tuh ! Mendukung penuh, malah. Serasa ada energi positif masuk ke ragaku ketika aku berperan aktif di setiap moment. Energi positif ini yang Insya Allah juga memberikan atmosfir positif juga buat orang-orang di sekitar aku. That’s ok, aku seneng sibuk kok, seneng ribet. So, meskipun hanya sebagai Ibu Rumah Tangga, full timer mother & wife, yang pasti, I’m very happy with my life…just enjoy it !!! Enjoy in every moments !!!

Tentang Surprise dari Suamiku

Belum lama terjadi, pagi hari ketika semua anak sudah berangkat sekolah dan suamiku sudah berangkat kerja. Kebiasaanku adalah melongok fesbuk terlebih dahulu. Dan SURPRISE !!! yang pertama aku lihat adalah suamiku men-tagg aku dalam sebuah note yang dia buat, yang judulnya "COBA-COBA NULIS". (Swear...ini sejarah, pertama kalinya setelah 15 tahun mengenal, suamiku membuat tulisan). Isinya, sungguh membuat aku terharu bukan main. Temanya adalah "I'm really proud of you, Mama". Dan bla bla bla...panjang ceritanya. Tapi endingnya bikin aku ngakak. Ketika suamiku membuat  catatan tambahan : "Gimana dengan tulisan Papa ini, Ma ? Mama kan ahlinya...siapa tahu ntar papa bisa bikin tandingan IIDN. Ikutan SI INUL (Suami-suami Ikut Nulis)". Gubraakksss...!!!






1 komentar:

Love Kpop said...

It seems I'm on the right track, I hope I can do well. The result was something I did and was doing to implement it.
http://www.clickjogosclick.com

Post a Comment