Breaking News

25 January, 2012

KUNCI JAWABAN


DITULIS OLEH : ASTRI DAMAYANTI

Sampai detik ini aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini dan kemaren. Saat di mana warga belajar Paket C sedang mengikuti ujian nasional, termasuk warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang aku pimpin.

Seorang warga belajar mengirim SMS padaku. Begini bunyinya,”Bu, semua PKBM ngasih kunci jawaban ke muridnya, Cuma murid dari PKBM ibu aja yang gak dapat, tolong usahakan dong bu.”
Aku tidak mau mau membalas SMS itu, dan hari ini SMS itu kembali dikirim. Dengan kalimat yang berbeda “kode soalku 25, tolong  dibantu jawabannya bu.”

Jujur aku kecewa, sangat kecewa. Aku telah membayar mahal tutor (guru nonformal) untuk membantuwarga belajarku  (murid pada pendidikan non formal) dalam hal pelajaran sebelum ujian, tapi hanya sedikit yang datang. Selebihnya beralasan kerja dan berjanji akan belajar di rumah. Aku memberi ijin, bahkan memberikan contoh soal-soal ujian untuk mereka pelajari di rumah.

Aku tidak mendapat anggaran dari pemerintah untuk membiayai warga belajarku, karena jumlah warga belajar ku sangat sedikit (tidak mencapai 20 orang). Warga belajarku memang sedikit, karena disekitar tempatku juga ada beberapa PKBM yang berani menjamin kelulusan warga belajarnya dengan biaya yang mahal. Anehnya justru ini yang banyak diminati. Calon warga belajar, rela membayar berapapun agar bisa lulus dan mendapat ijasah. Bagaimanapun caranya.

Aku membayar tutor dengan uangku sendiri, hasil kerja kerasku. Aku hanya ingin anak-anak yang putus sekolah dan tidak mampu itu menjadi pintar. Aku juga tidak memungut biaya yang mahal seperti di tempat lain. Aku hanya meminta mereka membayar uang ujian sesuai dengan biaya resmi yang diminta oleh dinas pendidikan kota.

Sebenarnya sudah sejak lama aku mendengar berita tentang penjualan kunci jawaban. Bahkan aku pernah ditawari untuk ikut, tapi aku tidak mau. Untuk mendapatkan kunci jawaban ujian nasional, satu anak dipungut 50 ribu rupiah. Aku tidak mau membuat warga belajarku bodoh. Yang menjadi warga belajarku adalah anak-anak yang ingin melanjutkan kuliah, sehingga mereka punya kesadaran untuk belajar. Mereka tidak hanya menginginkan ijasah.

Makanya aku terkejut ketika aku mendapat SMS tersebut. Ironisnya, yang mengirim SMS itu adalah guruPAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ia ingin mendapatkan ijasah Paket C karena untuk mendapatkanInsentif bagi guru-guru PAUD, persyaratannya harus mempunyai ijasah Paket C.  
Aku semakin kecewa ketika warga belajar ku tadi juga mengirim SMS yang isinya membandingkan PKBM lain dengan PKBM ku. Ia bilang kalau PKBM lain bisa menjamin warga belajarnya lulus.  

Aku sedih, mengapa seorang guru PAUD bisa bertindak seperti itu. Bagaimana dengan moral murid-muridnya nanti. Mengapa seorang guru PAUD hanya memikirkan ijasah untuk mendapatkan insentif yang nilainya tidak lebih dari 100 ribu per bulan, dari pada mendapatkan ilmu dan belajar lagi.

Sebetulnya pemerintah sudah berbaik hati memberikan kesempatan bagi warga yang putus sekolah serta orang-orang yang punya keterbatasan waktu, dengan mengikuti program kesetaraan yaitu Paket A,B dan C. Mereka bisa bebas belajar kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja. Pendidikan Non Formal yang diberikan untuk mereka telah dibuat se fleksible mungkin. Tapi mengapa ini justru disalah gunakan sekedar mengejar ijasah?. Mengapa tidak sekalian menjual ijasah, dari pada hanya menjual kunci jawaban?               



0 komentar:

Post a Comment