Breaking News

24 January, 2012

Kotak Kenangan

By Deka Amalia

Kotak Kenangan
Dewi K (deka)

Memandang kotak ini selalu saja ingin mengelusnya, kau tahu kenapa? Karena kotak ini begitu berarti bagiku. Sebuah kotak yang telah menemani hari-hariku di masa sekolah dulu, sebuah kotak yang telah memberikan kehidupan bagi ibu dan aku. Kotak itu tersimpan rapi di belakang meja kerjaku yang ber AC, hampir setiap kenalan yang datang matanya selalu terpana pada bentuknya yang kotak dan disisinya terlampir tali dari ban bekas. Apa itu? Apa isinya…selalu kujawab dengan senyum penuh arti, “Kotak kenangan.” Mereka akan memandang dengan sudut mata heran dan aku menambahkan “Untuk mengingatkan siapa diriku agar selalu bersyukur.” Biasanya kami tak meneruskan bahasan itu karena kemudian sibuk dengan percakapan lain yang lebih seru, tentang bisnis dan kerjasama. Biasanya setelah mereka pulang selalu kuelus kotak itu, jika kuceritakan apa mereka percaya jika dulu hidupku dan ibu bergantung sepenuhnya pada kotak ini.

Dulu, setelah bapak meninggal dunia, hidup kami begitu sulit. Bagaimana tidak, bapak bekerja sebagai sopir angkot dan ibu sebagai buruh cuci di perumahan mewah yang membelakangi kontrakan kumuh kami. Semasa bapak hidup saja makan kami sudah sulit karena bapak ngotot anak-anaknya harus sekolah. Kami berdua tidak boleh bekerja, “ Tugas kalian belajar biar bapak dan ibu yang bekerja.” Begitu selalu bapak berkata setiap kali aku minta ijin untuk membantunya menjadi kernet angkot.

Aku tak tega melihat keriput tubuhnya yang semakin terlihat,lebih tak tega lagi melihat ibu yang semakin kurus. Aku tahu ibu mengalah demi kami, kadang ia makan sedikit sekali,”Makanlah, ibu sudah kenyang.” Begitu selalu jawabnya setiap kutanya apa ibu sudah makan. Ibu tahu aku suka merasa sedih. Saat melamun tengah malam, ibu menghampiri aku. Kami selalu tahajud setiap malam. “Nak, jangan memikirkan pekerjaan. Belajarlah dengan baik. Jika kau pandai dan dapat bekerja nanti tentu kau bisa menyenangkan bapak dan ibu. Bapak dan ibu tak ingin hidup kalian seperti kami.”  Aku memeluknya dengan menangis, sebagai laki-laki sulung, aku berjanji, akan menyenangkan mereka jika aku sudah bekerja nanti, hingga mereka tak perlu bekerja lagi.

Tak lama bapak meninggal dunia karena hidupnya yang tak teratur dan begitu banyak penyakit mungkin bersarang ditubuhnya. Batuknya yang tak terobati semakin menggeroti tubuhnya. Maka, jadilah ibu membanting tulang sendiri. Tetap ngotot tak mengijinkan aku bekerja, “ Sudahlah, kau belajar saja, ibu tak mau kau jadi kernet, nanti belajarmu terganggu, ibu masih  kuat.”  Ibu malah menambah jam kerja, dari pagi hingga sore, tidak hanya sebagai buruh cuci tetapi juga membersihkan rumah dan memasak. Bebannya terlihat semakin berat. Aku tetap berfikir jika aku harus membantu ibu tetapi aku belum tahu apa.

Suatu siang sepulang sekolah kudapati adikku menangis, ketika kutanya ia hanya menunjuk ke kamar Bergegas aku masuk dan terlihat ibu terbaring disana. Ibu sakit, kuraba dahinya yang panas. “ Ibu….” Aku menangis memeluknya… “ Ibu tak apa-apa,nak. Nanti juga sehat…” jawabnya lirih. Begitulah ibu selalu berkata tak apa-apa, bagaimana mungkin tak apa-apa  jika suhu tubuhnya begitu panas. “ Nak, uang ibu hanya 5000 rupiah, pergilah beli makan untuk kau dan adikmu.” Besok ibu bisa kerja lagi untuk makan kalian besok, cukupkan uang itu untuk hari ini ya.” Lirih ia berkata.

Dengan derai air mata kugemgam selembar uang lima ribuan, tak tahu apa yang harus kulakukan dengan uang ini. Ibu sakit membutuhkan obat sementara  perutku terasa lapar. Adikku dengan menangis menghampiri aku, “ Kak, aku lapar.” Aku mengelusnya perlahan “ Kau sabar ya dirumah, jaga ibu, kakak pergi dulu, nanti pulang bawa makanan ya.”  Tergontai aku melangkah keluar rumah, tak tahu harus kemana. Langkah kakiku membawa ke terminal bis tempat bapak dulu bekerja. Pikirku siapa tahu aku mendapat pekerjaan disana. Dengan nanar kutatap terminal bis yang semerawut dan suara bising. Kepalaku semakin pusing. Dalam hati aku berdoa, semoga Tuhan memberiku jalan hingga aku bisa pulang dengan membawa obat dan makanan.

“Hai, kau anak Paimo ya.” Sebuah suara mengagetkan lamunanku. Kupandang tubuh kekar dan seram dihadapanku tetapi senyum ramahnya membuatku tak merasa takut, aku mengangguk. “Sedang apa heh kau disini? Bagaimana kabar ibumu?”  “Ibu sakit.” Jawabku lirih menahan tangis. “Hah, sakit?”  Maka, kuceritakan ibuku yang terbaring dan adikku yang belum makan. “ Aku mau kerja,bang.” Jelasku padanya yang tampak begitu prihatin dengan keadaanku. “ Bapakmu pernah bilang tak mau kau jadi kernet. Nanti sekolahmu terganggu. Bapakmu mau kau sekolah.” Ah, bapak suka bercerita soal kami rupanya. “ Begini saja, supaya kau bisa sekolah dan bekerja. Kau mau jadi penyemir sepatu saja ya. Jadi sepulang sekolah kau bisa nyemir. Coba kau lihat disana.”  Tangannya menunjuk pada sekelompok anak yang duduk di emperan terminal, tangan mereka terampil membersihkan sepatu sementara pemiliknya sibuk baca koran atau makan.

Maka, hari itu dengan bahagia dan penuh syukur aku pulang. Ditanganku, sekantong plastik makanan dan obat untuk ibu yang kubeli di apotik tadi. Sesampai di rumah, kami makan dan kuberi ibu obat. Perlahan, ibu kembali sehat dan pada akhirnya ia mengijinkan aku berkerja sepulang sekolah. Setelah aku berjanji untuk tetap belajar dengan baik.Begitulah, hari-hariku kemudian. Pagi aku sekolah, siang aku bekerja di terminal atau pertokoan. Dengan bangga, kutenteng perlengkapan menyemirku, berkeliling menawarkan jasa.. Tak tentu uang yang kubawa pulang. Kadang ada saja mereka yang baik hati menambah uang jasa tip padaku. Terlebih setelah tahu jika aku tetap sekolah. Bahkan, ada beberapa yang sudah jadi langgananku.

Aku bersyukur hingga ibu dapat mengurangi jam kerjanya. Kukatakan pada ibu jangan terlampau lelah nanti ibu sakit lagi. Bahkan kini, aku bisa membayar uang sekolahku dan adiku, membelikan adikku perlengkapan sekolah dan seragamnya. Senang rasanya melihat binar dimata adikku karena seragamnya yang sudah lusuh dan sobek disana sini itu bisa pensiun. Sehabis shalat aku berdoa untuk bapak, kubisikkan padanya jika aku akan selalu menjaga ibu dan adik. Jika aku akan membuatnya bangga padaku. Jika aku dapat mewujudkan keinginannya.

Itulah mengapa, sampai kapanpun kotak ini akan kusimpan. Setelah lulus dan bekerja di perkantoran karirku terus naik. Kubelikan ibu rumah sederhana dan tentu saja ibu tak kuijinkan bekerja lagi. Ia mengisi hari-harinya dengan mengikuti pengajian.. Adikku masih kuliah kini.. Tak pernah kusangka semua impian bapak dan ibu menjadi kenyataan. Tak penah kukira keinginanku yang menggebu uuntuk dapat membanggakan orang tuaku menjadi nyata kini. Tuhan telah menjawab doa kami, sesuai dengan janji-Nya pada umatnya yang selalu bersabar dan ikhtiar.

(berdasarkan cerita seorang teman)







0 komentar:

Post a Comment