Breaking News

25 January, 2012

Klontangan Dini Hari



Malang, 27 Juni 2011, pukul 02:00
Baru satu jam aku tertidur, tiba-tiba.. ‘klontang, klonteng, klontang, preng’ ku dengar suara dari halaman samping kontrakanku. Dalam sekejap rasa panik dan takut berkecamuk. Apa yang terjadi? Dengan gemetar ku ambil senter di mejaku. Ku buka pintu dapurku. Ku nyalakan senterku sambil melangkah perlahan-lahan. Dengan mulut berkomat-kamit, ku baca doa dan surat-surat dalam Al-qur’an seingatku saja. Hingga tanpa sengaja ayat kursi aku sambung dengan surat yasin. Hehehe... saking takutnya. Bibirku tak berhenti membaca doa meminta perlindungan-Nya.

Aku menemukan sebuah kayu balok tergeletak di dekat rak piring. Otakku pun mulai berpikir, “Seingatku tadi sore belum ada kayu di situ. Apa mas yang menaruhnya yah? Tapi perasaan mas tadi habis magriban langsung berangkat kok.”

Teringat pada film detektif di televisi, jangan sentuh bila ada barang yang mencurigakan di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Karena terobsesi dengan cerita itu, ku tinggalkan balok itu. Tiba-tiba... ‘plang... priiieeeng...’, haduh.... suara apa sih itu.

Keringat dingin mulai bercucuran. Bibirku terus berkomat-kamit. Ingin rasanya teriak. Tapi percuma, karena tetangga kiri-kananku baru saja pindah.

Dengan bismillah, ku lanjutkan perjalananku menuju halaman samping kontrakanku. Waktu ku melangkah melewati pintu kawat, tiba-tiba.... ‘bruuuk....’ aku terjatuh, senterku pun mati dalam sekejap.  Panik mulai melanda diriku, dan “huwaaaaa.... ap...ap..ap..apa ini....”.

Ada empat pasang mata yang menatapku. Deg deg deg, begitu kiranya detak jantungku. Dengan reflek ku baca surat An-nas dan Al-Falaq sambil mengutak-atik senterku. ‘Tes.. tes.. tes..’ air mataku mulai mengalir. “Ya Alloh.... lindungi dan tolonglah aku.. hiks.. hiks..” kataku. Seketika itu juga ‘tek’, Alhamdulillah.. akhirnya nyala juga. Kucari empat pasang mata tadi. Seingatku, tadi mereka ada tepat di hidungku.

Kulanjutkan berjalan menuju halaman samping. ‘Klontang, prieeeeng...’ lagi-lagi suara itu. Rasa penasaranku semakin memuncak. Tepat saat senterku mengarah ke jarum jam angka 12, ‘tuing.. gedebug.. prieeeng’, ku lihat gumpalan putih memandang ke arahku dengan sepasang mata berwarna merah. Dia berdiri di atas baskom sengnya. “Fiiuuuh.... ternyata kamu to ‘Poci’, kamu kenapa? Laper yah?”

Dalam sekejap hilang rasa penasaran dan penakutku. Ternyata bunyi ‘klontang-klonteng, prang-prieeng’ tadi, itu suara gesekan dua baskom sengku yang diinjak si Poci dan anak-anaknya.
***

*Si Poci itu nama kelinci betina ku. Dia adalah jenis kelinci ‘New Zealand White’. Kelinci ini biasa disebut sebagai kelinci albino, karena warna bulunya putih mulus dan matanya berwarna merah.








0 komentar:

Post a Comment