Breaking News

25 January, 2012

ketika hati terluka...


Aku Gagal Menjadi Penulis
Yurmawita Adismal

            Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah kiriman pesan yang mampir di notes FB ku, isinya cukup membuatku tergelitik untuk mengetahui lebih lanjut. Maka ku baca baris-demi baris isi notes itu, ada info lomba yang diadakan oleh nama yang tertera di sana. Ada beberapa peraturan penulisan yang di tuliskan di pengumuman itu untuk ditaati oleh setiap peserta yang mengirimkan naskahnya. Aku pun mencatat semua aturan yang dituliskan oleh sang penyelenggara lomba di buku harianku.
            Hm…tidak lah terlalu rumit peraturannya, hanya temanya mesti bersifat kedaerahan. Yap. Mulailah aku menggali ide-ide yang akan ku tulis menjadi sebuah cerpen. Ide pertama yang muncul dikepalaku waktu itu adalah menceritakan tentang kehidupan seorang petani karet di daerahku, saat itu memang harga karet sempat menurun 50% dari harga normal sehingga membuat warga kebingungan memenuhi tuntutan hidup yang sangat tinggi. Namun kupikir, tidak terlalu menarik.
            Lalu terbesit pula di benakku ingin menceritakan tentang kondisi alun-alun di kotaku yang saat ini dibongkar habis oleh penguasa tanpa ada usaha untuk memperbaikinya. Ah…kelihatannya juga terlalu menjustice seseorang, lebay istilahnya. Aku tak mau membunuh karakter seseorang dengan ceritaku.
            Sejenak aku berfikir. Mengapa aku tidak menceritakan tentang kehidupan para pemuda di masa kecilku di desa, yah aku memang lahir di sebuah desa di pedalaman, masyarakatku mempunyai beberapa kebiasaan yang tak mungkin dijumpai oleh masyarakat lain pada umumnya. Aku mulai mendapatkan ide tentang itu. Dan mulailah kususun kata-kata untuk kurangkai menjadi kalimat-kalimat  membentuk sebuah cerita pendek.
            Di sebuah desa yang indah, dimana seorang pemuda di lahirkan. Jauh dari keramaian kota, terletak di kaki sebuah bukit yang tak bernama, di tengah belantara hutan yang lebat. Ditemani lengkingan hewan hutan ada sebuah Pohon yang menjadi tumpuan harapan. Pohon itu bernama Sialang.
            Aku mulai menceritakan setting dari cerita yang ku tulis. Sebuah desa di mana aku dilahirkan. Lalu sebuah pohon yang akan menjadi topik ceritaku. Menurut seorang penulis terkenal yang pernah membimbingku dalam sebuah acara pelatihan. Penulisan setting sebuah cerita harus utuh di tulis, dengan penambahan beberapa plot, agar cerita menjadi lebih hidup.
            Sosok pemuda yang tak pernah lekang oleh waktu, meski saban hari harus bergelut dengan cengkraman rasa lapar. Ia adalah pribadi tangguh mengarungi samudera hidup di tengah tawa kemiskinan.
            Inti cerita harus mulai dikenalkan kepada pembaca secara perlahan-lahan. Bawalah pembaca agar terhanyut dengan aroma cerita yang kita tulis begitu pesan seorang penulis yang juga pernah mengisi acara pelatihan menulis yang kuikuti.
            Thamrin, begitu ia disapa. Tangan kekarnya mengelabuhi semua orang yang melihatnya. Semua pasti beranggapan paling tidak usianya sudah diatas 25 tahun, padahal ia adalah seorang pemuda yang baru dilahirkan 16 tahun silam. Mentari menguliti usianya sehingga tampak lebih dewasa. Tandon-tandon Ototnya terbentuk karena hampir setiap purnama menjelang ia bergelayut di Pohon besar di tengah belantara Bukit Gajah Mati. Sarang-sarang lebah yang  menjadi incarannya membangun rumahnya di dahan Pohon Sialang.
            Jemariku menari di atas keyboard layar komputer. Memencet huruf-huruf yang di dikte oleh hatiku. Kadang jika selesai satu paragraph aku melepaskan sentuhan jemariku di atas huruf-huruf abjad itu. Sembari memberikan pijatan halus buat jemariku agar tak kaku.
            Hingga aku menyelesaikan satu buah cerita pendek yang kemudian aku beri judul ‘Di Dahan Sialang’. Ku baca berulang-ulang hasil karyaku, beberapa kalimat yang janggal menjadi korban delet. Beberapa huruf yang tak sesuai EYD ku ganti dan ku susun ulang menjadi sebuah kalimat baru.
            Sampai di sini aku sudah cukup puas dengan hasil karyaku tersebut.  betapa senangnya hatiku saat sebuah cerpen karyaku telah siap di kirim ke alamat email yang dituju. Begitu besar harapanku untuk bisa menjadi salah satu karya yang terpilih.
            Melewati hari-hari sembari menunggu pengumuman pemenang sangat mendebarkan. Setiap ada kesempatan ku baca berulang-ulang karyaku tersebut. Ku pamerkan pula karya ku itu kepada orang-orang terdekatku. Hati rasanya berbunga-bunga saat mereka memuji bakatku. Bayangan menjadi seorang penulispun berkelebat di benakku, punya banyak penggemar, karya ku bisa dibaca oleh semua orang dll.
            Yah…Menjadi Penulis, inilah impianku. Impian yang lama kupendam, dan belum bisa terwujud lantaran terbatasnya fasilitas yang kumiliki. Dulu saat masih mempunyai mesin ketik manual, ide-ideku ku tulis dengan bantuan mesin ketik itu. Namun saat sudah bisa membeli perangkat komputer maka menulis menjadi hal yang mudah bagiku.   
            Tiba saatnya pengumuman pemenang. Sore itu, aku membuka akun Facebook ku, karena kabarnya pengumuman pemenang akan dikirim ke akun FB masing-masing. Beberapa saat membuka-buka status, aku tak menemukan pengumuman itu. Hatiku semakin berdebar-debar.berulangkali naik-turun tanda panah di layar monitor PC ku, tak juga kutemukan pengumuman itu.
            Sampai suatu ketika, aku bertambah penasaran. Ku buka notes beberapa teman-teman di FB ku. Ternyata ada. Dengan perasaan yang tak karuan, aku membaca satu persatu status yang mampir di wall mereka. Dan akhirnya pengumuman pemenang itu pun ku temukan. Tak kutemukan namaku di deretan nama-nama pemenang.
            Hatiku hancur berkeping-keping. Mimpi yang lama menjadi teman imajinasiku, pupus sudah. Aku gagal menjadi penulis, perlahan air mataku terjatuh. Menangisi diriku yang kalah saat mengikuti lomba menulis. sesaat aku membenci kegiatan menulis, aku muak dengan huruf-huruf, dan terutama aku bermusuhan dengan yang namanya tulisan.
            Seseorang menghiburku, ia menyitir perkataanku dulu, saat mengutarakan keseriusanku menjadi penulis.” Bukankah seorang seperti Einstein berhasil menemukan lampu pijar saat ia mengalami kegagalan yang kesekian ribu kali? lha kamu baru satu kali mencoba, sudah putus asa.”
            Huua….
            Aku tak peduli kata-katanya yang ada di benakku saat itu hanyalah “aku gagal menjadi penulis.” Aku juga gagal meraih mimpiku. Hanya kecewa yang bergelayut di hatiku saat itu.












0 komentar:

Post a Comment