Breaking News

27 January, 2012

Kenangan


Pernah kah kau berpikir tentang kenangan? Sesuatu yang tak tampak tapi ternyata ada dalam langkah hidupmu. Sesuatu yang kau bicarakan dalam kondisi apapun, pada orang lain ataupun hanya pada dirimu sendiri. Membuka kembali helai demi helai ingatan akan sesuatu, menapak kembali ingatan tentang kisah hidup yang masih melekat di hati dan kepala.

Berbicara tentang kenangan. Itulah yang beberapa tahun ini dilakoni oleh nenekku. Ibu dari ibuku itu menghabiskan waktu tak tidurnya yang tak seberapa dengan selalu berbicara tentang masa lalunya. Bisa dengan siapa saja orang yang ada di sekitarnya, tetapi seringkali hanya sendiri saja. Memang, berbicara sendiri semakin sering dilakukannya, seiring umurnya yang bertambah banyak. Terkadang, beliau seperti sedang berdialog dengan orang lain. Sejenak berbicara lantas terdiam seperti mendengarkan, lalu berbicara kembali bak memberi jawaban atau menyambung percakapan.

Kenanganku, ya kali ini kenanganku sendiri, melayang pada beberapa tahun yang lalu ketika nenek masih bisa mengenal kami dengan baik. Mengingat nama dan mengenali wajah anak-anak dan cucu-cucunya, bahkan kerabat jauh lainnya. Terbaring di tempat tidur akibat patah tulang di pinggul yang tak bisa diobati lagi, nenek mulai tak berdaya secara fisik tapi masih sangat mampu untuk bercerita panjang. Bercerita tentang kenangan. Selalu tentang kenangan. Tentang teman-temannya di kampung, tentang bagaimana anak-anaknya dulu, tentang pekerjaannya, tentang kehidupannya di masa lalu. Setiap kali nenek bercerita, suaranya akan terdengar jelas dan lantang. Menggambarkan semangatnya yang mengalir di tiap patah kata dari bibirnya, di tiap helai dan lembar kenangan yang di kajinya kembali.

Tapi tak seperti nenek yang bersemangat dengan kumpulan kenangannya, aku justru merasakan sebaliknya. Kebingungan karena sering kali tak tahu siapa tokoh yang beliau ceritakan, sekaligus suntuk karena mesti mendengar cerita yang menurutku membosankan. Apalagi, tanpa nenek sadari, berulangkali beliau menceritakan tentang hal yang sama padaku. Berulang dan berulang, bisa dalam hari yang sama atau hari yang berbeda. Ketika pikun mulai angkuh menguasai nenek, bahkan beliau juga bercerita tentang orang-orang yang sudah lama sekali meninggal dan tak pernah kutemui. Orang tuanya, suaminya yang sudah tentu berarti adalah kakekku, yang sudah meninggal ketika bahkan ibuku belum menikah.

Pada titik jenuhku, pikiran membawaku pada satu pertanyaan besar tentang mengapa orang-orang yang telah sepuh sepertinya akrab dengan segala hal yang berbau kenangan. Berbincang tentang kehidupan dulu, mengingat hal-hal yang sudah berlalu, tertawa karena kejadian yang telah lama lewat atau bahkan terkadang menyesali dan meratapinya. Sebegitu akrabnya kenangan dan masa lalu, sehingga perbincangan dengan orang-orang yang sudah tua bagiku menjadi identik dengan kata,” dulu”. Sesuatu yang membuatku memilih tak mau lama berbincang dan mendengarkan cerita nenek. Bahkan terkadang rasanya ingin berucap,”sudahlah Nek, yang lalu biarlah berlalu. Jalani saja yang ada sekarang”.

Kenangan bagiku,cukup lah seperti cerita seorang gadis yang mengingat pacar ter-gantengnya ketika akan menikah dengan seorang lelaki yang berwajah biasa saja. Atau seperti ingatan seorang lelaki akan kesempatannya bertualang ke banyak tempat ketika pekerjaan dan keluarga memaksanya untuk menghentikan kebiasaan itu. Atau seperti ingatan suamiku tentang kesukaannya pada skateboard yang mesti di hentikan karena berbagai alasan baik penting ataupun tak penting. Bagiku, kenangan cukup lah muncul sesekali. Menjadi penyela di antara percakapan yang mulai membosankan, atau pemancing tawa di saat jenuh melanda. Tapi bukan menjadi cerita utama yang di tayang berulang-ulang seperti yang nenekku lakukan.

Dan, tadi malam seseorang mengajarkanku satu hal penting tentang kenangan dan kehidupan manusia ketika sudah tua. Bahwa kenangan lah yang seringkali sesungguhnya menjadi inti hidup bagi orang-orang tua, sesuatu yang membuat mereka lebih hidup. Kenangan lah yang membuat mereka tetap atau semakin bahagia. Kenangan adalah mata batin.

Nek, terus lah berbicara tentang dan dengan kenanganmu. Sesuatu yang sesungguhnya lebih setia dan savar menemani masa tuamu,daripada kami anak-anak dan cucu-cucumu.  

Pekanbaru
-duniaii,08092011-



0 komentar:

Post a Comment