Breaking News

30 January, 2012

Kebahagiaan dan Keajaiban Terindah Bagiku dan si Buah Hati


 Kehamilan adalah anugerah yang luar biasa dari Allah SWT, membahagiakan dan dinanti-nantikan oleh orangtua serta sanak saudara. Namun bagaimana bila kehamilan  terjadi di luar dugaan? Itulah yang terjadi pada diriku tahun lalu. Anak pertamaku Rafa Shahira (1;8) sedang manja-manjanya padaku, nempel bagai perangko dan masih menyusui pula.

Sewaktu memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk cek spiral dan papsmear, dengan USG dokter merasakan ada sesuatu di dalam perutku. “Wah Bu, kayaknya hamil lagi nih. Untuk memastikan, coba Ibu cek urine di laboratorium. Kalau sudah ada hasilnya segera kembali lagi ya”, ujar sang dokter. Lalu aku berkata,”Masak sih Dok? Saya kan rajin kontrol.”

Dengan perasaan tak menentu dan tak percaya, aku, suami dan Rafa bergegas ke laboratorium. Suami pun mendukung dan turut bahagia apabila benar aku hamil lagi. Perempuan atau laki-laki toh sama saja. Tak lama kemudian suster memberikan hasil laboratorium sambil berkata,”Ibu Nurul positif hamil”. “Alhamdulillaah”, ucap suamiku. Menurut dokter kandungan, usia janin sudah memasuki minggu keenam. Aku, suami serta kedua orangtuaku awal mulanya terkejut dengan adanya berita ini. Yang pasti, Kami semua sangat bersyukur kepada Allah SWT dan menerima kehadiran sang jabang bayi yang ada dalam perutku.

Setelah sembilan bulan, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Aku harus diinduksi terlebih dahulu mengingat usia kehamilan sudah lebih dari semestinya. Tidak seperti ibu-ibu lain, proses induksi yang kulalui tidak langsung bereaksi dan membuat perutku terasa mulas. Sudah 30 jam lamanya dan diberi empat kali tablet kecil yang dimasukkan melalui vagina. Walau cukup heran, dokter tetap memberikan dukungan moral agar aku tetap tenang. Malah kalau belum mulas juga aku dianjurkan pulang ke rumah.. Ada apa ini? Seluruh keluarga berdoa agar bayi segera lahir. Aku juga meminta maaf kepada ibuku karena aku merasa berdosa sudah berkata yang mungkin menyakiti hati beliau. Begitu orangtua pulang dari rumah sakit, tak lama kemudian aku merasakan mulas kecil di perutku.

Suami dan ibuku memang selalu setia menemaniku ketika aku sedang berjuang melahirkan bayiku. Alhamdulillah, akhirnya aku dapat melahirkan anak keduaku, Muhammad Fakhri, secara normal dibantu oleh dokter kandungan yang sama dan di rumah sakit tempat anak pertamaku dilahirkan. Begitu keluar dari rahimku, dokter langsung meletakkan sang bayi di atas perutku. Aku pandangi wajah dan seluruh tubuhnya yang masih berwarna putih keabu-abuan. ”Laki-laki Bu,”ucap dokter. ”Alhamdulillaah, akhirnya lahir juga,” ujar para suster yang turut menangani dan mengetahui proses persalinanku. Setelah dibersihkan dan sebagainya, bayi langsung diadzani dan disusui olehku.

Fakhri lahir dengan berat badan 4020 gram dan panjang 52 cm pada pukul 19.20 WIB tanggal 18 Maret 2008. Hadirnya kedua buah hati ini (Rafa juga lahir secara normal) membuatku merasa bahwa aku benar-benar berjuang dengan sekuat tenaga dan seluruh jiwa raga. Aku tidak bisa tidur hingga keesokan harinya karena merasa terlalu lelah dan bahagia yang teramat sangat serta tak percaya bahwa aku telah mendapatkan keajaiban dan mukjizat dari Allah SWT karena berhasil menghadapi semuanya.


Tulisan ini dibuat oleh Nurul Sufitri pada tahun 2008, dikirim ke ”My Baby”.