Breaking News

24 January, 2012

KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI





Hei,papa pulang..tu pa,udah mama siapin teh manis panas kesukaan papa.Segera kuletakkan tas kerjaku ditempat biasanya,disebelah meja komputerku yang sedikit berdebu karena sudah lama tidak kusentuh.Aku menuju ke ruang makan,melepaskan sepatu dan kaos kakiku,tak lupa istriku dengan sigap selalu saja menungguku dengan senyum ramahnya untuk mengambil sepatuku dan mengembalikan ke rak semula.Kuambil cangkir teh dan kuseruput isinya,masih panas..namun segar ditenggorokanku dan cukup nyaman untuk menghangatkan perutku yang sudah mulai meronta untuk segera diisi.Ya..aku memang baru saja pulang dari perjalanan yang cukup jauh,pekerjaanku sebagai manager marketing suatu produk elektronik dari Eropa mengharuskanku untuk banyak mengontrol jalannya kinerja dan distribusi produk,dan mobile keluar kota cukup lama dan lumayan jauh,sehingga kesempatan untuk bertemu istriku agak kurang,kalaupun tidak boleh dikatakan sedikit.

Aku telah 10 tahun berumahtangga dengan Prilly,yang kutemui secara tidak sengaja diacara reuni universitasku dulu.Pertama kulihat,aku merasa biasa saja,karena wajahnya memang tidak begitu istimewa menurut wanita cantik idealku,tetapi ada sesuatu yang menarik didalam matanya.Baru kali ini kutangkap sesosok wanita dengan ekspresi mata yang cerdas dan bersahabat,didukung pula dengan pembawaannya yang supel dan ramah,membuat kecantikan didalam dirinya terpancar melebihi kecantikan wanita yang kuidolakan.Memang,inner beauty ternyata bisa berpengaruh sebegitu dasyatnya,dan baru kulihat dari sosok manusia satu ini.Prilly adalah anak orang yang cukup terpandang dikotanya,ayahnya seorang diplomat yang sering bepergian keluar negeri.Sedangkan aku adalah anak seorang pegawai negeri yang jujur mengabdikan hidupnya untuk negeri kita yang carut-marut ini.Nilai-nilai kejujuran selalu mengiringi seluruh perjalanan hidupku,sehingga aku terbentuk menjadi pribadi yang anti ketidak adilan dan memegang teguh prinsip,kalaupun bisa dikatakan sedikit keras kepala.

Singkat cerita,kami menikah dengan resepsi yang cukup meriah dikota metropolitan ini,saat itu aku berumur 28 tahun dan Prilly 24 tahun.Aku bekerja dengan tekun dan sedikit workaholic,tapi kulakukan dengan senang karena itu sudah menjadi pembawaannku dalam menyikapi suatu pekerjaan.serius dan taktis.Begitu pula dengan Prilly,dengan pekerjaannya sebagai penasehat keuangan,yang mengharuskan untuk berhadapan dengan orang dari berbagai kalangan,perusahaan-perusa
haan besar,bahkan ekspatriat.Didukung dengan Karakternya yang supel dan menyenangkan,semakin memuluskan kariernya.Tetapi dia tidak pernah sedikitpun melupakan kewajibannya sebagai seorang istri yang setia dan melayani suaminya dengan sepenuh hati.Walaupun kami belum dikaruniai momongan tetapi kami santai saja,karena mungkin memang belum saatnya,kami pasrahkan saja kepada yang diatas.

Sampai suatu saat,beberapa bulan yang lalu,sinar matanya yang menyala-nyala,kini sudah sedikit meredup.Seperti tidak ada lagi semangat yang kutemukan pada Prillyku seperti dulu.Dia tampak sering termenung,melamun,tanpa kutau sebabnya.Aku memang introvert,dan jarang berbicara,tapi toh dia sudah tau beginilah diriku,walaupun begitu aku sangat sayang sekali kepadanya.Aku benar-benar takut kehilangan dia.Pernah sesekali dua kali kutanyakan,tetapi dia hanya tersenyum,dan menjawab,tidak apa-apa,hanya masalah kantor.O,ya sudah,aku tidak berusaha mengorek lebih dalam.

Suatu hari ketika aku sampai dirumah,tidak kudapati Prillyku,biasanya dia selalu menulis pesan yang tertempel dimagnet kulkas,tetapi,kali ini tidak ada pesan.O,mungkin saja dia lembur.Setelah membersihkan diriku,aku berbaring merebahkan tubuhku sejenak disofa.Tak sengaja tanganku menyentuh sebuah buku berwarna kuning ,dirak buku yang menempel didinding,tepat diatas sofa.ternyata sebuah diary,yang baru kali ini kulihat.rasa penasaran menggedor2 jemariku untuk membuka dan menelusuri isinya,kubaca lembar demi lembar:

Diary,kini aku bahagia,semangatku untuk bekerja menyala-nyala,seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan yang sudah lama dia idam-idamkan.Renzo,lelaki blasteran Indonesia-jepang itu telah memikatku.dia selalu memperhatikanku,menanyakan
keadaanku,memanggilku sayang,dan memberikanku saran yang membuat hidupku lebih berarti.Perhatiannya sampai hal sekecil-kecilnya,seperti ketika tanganku tergores pisau kemarin,walaupun sederhana,dia mengambilkanku obat,dan menanyakan apakah aku baik-baik saja,telah menyentuh hatiku ,bagaikan disiram air yang sejuk.kenapa aku seperti ini,diary?.apakah salah jika aku mendambakan sesosok pria yang lebih memperhatikanku,dan menyayangiku,mengerti aku,dan selalu mengajakku berbicara,mengobrol dengan penuh kehangatan.Aku sayang dia,aku tergantung padanya?..
Aku tersentak,terpekur,ternyata,ini yang membuat istriku berubah,wajahnya tetap saja berseri-seri,tetapi,bukan untukku.Aku merenung,ini memang salahku,kenapa aku tidak banyak berbicara padanya,tidak pernah berkata mesra sekalipun padanya,jarang menyentuhnya dengan ketulusan hatiku walaupun sebenarnya aku sayang dia,tidak pernah menyisihkan waktu luangku untuk berbicara dari hati kehati,memahami perasaannya.Mulai saat ini,aku berjanji,akan kumenangkan hati Prillyku,aku akan berusaha merebut cintanya lagi,aku tidak mau kehilangan dia,aku harus berubah,karena dia belahan hatiku??.

NB:Buat calonsuami2 atau suami yang super cuek,mudah-mudahan bisa mengambil hikmah dari cerita ini,karena cinta itu bagaikan tanaman,harus selalu dipupuk,disirami,ditengok, apakah dia perlu obat,dan disentuh,sehingga dia akan tumbuh subur dan berbunga indah.Karena musuh dari cinta itu bukan benci,melainkan tidak peduli.KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI..











0 komentar:

Post a Comment