Breaking News

26 January, 2012

KAN KU PERTAHANKAN SAMPAI AKHIR


          Sudah sejak lama, diam-diam kuperhatikan para jilbaber itu. Bermula di pengajian mata kuliah Agama Islam. Mereka tak tahu kalau sudut mata ini menatap keanggunannya. Berharap, mereka tak memberikan penilaian mengecewakan dimataku. Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Anggun dan bersahaja. Tapi…

          Aku tak mengerti Islam secara khaffah.
          Aku tak pandai membaca Al Qur’an dengan tartilnya.
          Aku tak ingin pakai jilbab siang malam, alias sebentar pakai, sebentar tidak.

          Meskipun aku Islam, tak banyak yang kutahu tentangnya. Bagaimana kalau orang lain bertanya sesuatu tentang Islam, tapi aku tak bisa menjawabnya?

          Bagaimana kalau…
          Bagaimana kalau…

          Ah terlalu sesak pikiran ini. Dan terlalu rumit menemukan jawabannya bagiku. Karena malu. Malu bertanya. Malu bercerita kepada mereka yang lebih tahu.

          Ah, mereka terlalu eksklusif. Hanya bergaul dengan sesama jilbaber saja. Nggak merhatiin apa, kalau aku juga ingin seperti kalian? Hooooiiii, ada aku nih disini. Kasih aku jawaban dari tanyaku. Kasih aku clue untuk raguku. Aku ingin seperti kalian. Aku ingin, ingin sekali.

          Habis masa kuliah Agama, waktu pun berlalu. Anganku, tanyaku, raguku, belum terjawab. Hingga terkikis oleh waktu. Yang tersisa hanya sebuah keinginan yang terucap pada sesama teman bukan jilbaber. Bahwa, aku ingin memakai jilbab dan tak ingin membukanya lagi, suatu saat nanti. Entah kapan. Dan keinginanku pun disambut oleh tiga orang sahabatku yang memiliki keinginan yang sama. Dalam hati, ya hanya dalam hati kami berikrar. Suatu saat kami pasti bisa.

                                                                       --

          Masa-masa kuliah berlalu begitu saja. Aku tampil seperti biasa, celana panjang, kadang memakai kaos lengan panjang atau hem. Pakaian kebangsaanku tuh, hehehe…

          Di penghujung kuliah, disisa-sisa tugas akhir, perasaan lima tahun yang lalu kembali membuncah. Ada sesuatu yang menggedor-gedor pikiran dan perasaan ini. Sebuah pertanyaan yang terus mengejarku untuk menemukan jawabannya. Terlebih ketika dikatakan bahwa jilbab adalah wajib. Ada apa ini? Kemana aku harus mencari jawaban semua itu? Terkadang aku mencari celah untuk mencoba masuk ke lingkungan jilbaber, tapi tak bisa, aku tak bisa menembusnya. Mungkin rasa malu yang diatas segala-galanya.

          Dalam galau ku, dalam kesendirianku, aku pun berburu di internet, berburu ke toko buku, ada apa sebenarnya dengan jilbab? Ada apa dengan aku?

          Allah tak tidur, dan tak kan pernah tidur. Diarahkannya aku pada sebuah buku yang mengguncang seluruh adrenalinku.

          Dia wajib dan Al Qur’an yang mengatakannya. Surat cinta Allah itu yang menggetarkanku. Aku pun semakin panik. Kalut akan ketidaktahuanku selama ini. Kenapa baru sekarang…

          Mana lebih dahulu, memahami Islam secara khafah? Ataukah menutup aurat? OMG, pergulatan batin demi pergulatan batin menghentak, menghujam. Sama seperti berada dipermaian pemicu adrenalin, otak dan jantung terus berdebar. Sedahsyat itu kah? Ya, suer. Dan itu berlangsung setiap hari.

          Allah temukan hamba pada penenang jiwa ini. Aku harus mengakhiri galau secepatnya. Kalau bukan aku sendiri yang mengubah pandanganku, kalau bukan aku sendiri yang berinisiatif untuk berubah, siapa lagi yang akan mengubahnya?

          ASAP…
         Dengan hati yang bergetar, kulantunkan kalimah syahadat.

          “Ashaduallaillahaillalloh wa asha duanna Muhammaddarasululloh”
          Bismillahirrohmanirrohim.

          Allah, hari ini aku berikrar dihadapan-Mu. Berharap syafaat Rasul-Mu. untuk mengenakanmu wahai jilbab pertamaku. Allah, jadikan hijabku ini sebagai penawar gundahku, penentram kalbuku. Allah, aku ingin memenuhi panggilan-Mu untuk menutup auratku. Aku bersyahadat atas nama-Mu dan Rasul-Mu, agar kerudung penutup kepalaku, tak sekedar penutup kepala. Agar kerudung ini mengantarkanku pada Islam yang sebenarnya. Aku, menutup aurat demi pemahaman Islam yang lebih baik, hingga menuju khaffah.

      Allah, kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya.

          Butiran bening menetes satu persatu. Seketika itu juga, galau, resah, gundah lenyap, berubah wujud menjadi kedamaian. Damaiiiiii… menenangkan. Allahu Akbar.

          Aku tak perduli orang bilang apa tentang diriku saat ini. Sebuah jasad yang berbalut celana kulot, berbaju lengan panjang kedombrong dan secarik kain persegi empat yang menutup hingga dada. Allah, ampuni hamba kalau saat ini hamba hanya punya 3 lembar kain persegi penutup kepala, karena hanya itu yang hamba sanggup miliki, itupun alhamdulillah hasil keringat hamba sendiri pagi, siang, malam dan menjelma pagi lagi. Berkahi ya Robb. Hamba tak takut besok-besok harus berbusana apa lagi. Hamba yakin KAU Maha Tahu dan Pemberi Petunjuk yang sempurna. Izinkan hamba saat ini menggunakan pakaian penutup aurat ala kadarnya, sesuai dengan kemampuan materi hamba. Hamba yakin, satu saat kelak, hamba bisa berbusana lebih baik lagi dan lebih rapi lagi dibanding saat ini.



Luluh lantak lah semua emosi yang membuncah
Karena Surat Cinta-Mu hancurlah resah

*memori menjelang masa sidang, 1999.






0 komentar:

Post a Comment