Breaking News

25 January, 2012

JUPITER (bagian 1)


Ini cerbung fiksi lamaku yang ditulis ketika blm punya anak, dan sudah ditolak2 beberapa redaksi.. jadi saya bagikan gratis saja disini deh.. hehe..

JUPITER

Bagian 1
                                      
Lana:
Bunda bukan ibu kandungku. Tapi perhatiannya padaku lebih dari mamaku sendiri. Mama lebih sering sibuk dengan LSMnya daripada mendengarkan curhatku, anak satu-satunya.
Bunda bahkan bukan siapa-siapaku. Kami tak punya hubungan darah. Aku hanya ‘sekedar’ teman dekat mas Sakti, putra pertama Bunda. Tapi Bunda memperlakukan aku seperti putri kesayangannya, bukan cuma calon menantunya.

Aku dan mas Sakti bertemu ketika dia menjadi peserta Seminar Ilmiah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, tempat aku kuliah. Aku ambil Teknik Gas dan Petrokimia, sementara dia adalah mahasiswa S2 Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Dalam acara itu ia menjadikan bahan tesisnya sebagai materi seminar. Aku bertugas sebagai koordinator peserta saat itu. Akibatnya, kami jadi sering mengobrol. Awalnya hanya masalah materi seminar, kemudian merembet ke masalah akademisku, hingga akhirnya dia menawarkan aku main ke Bandung, sekaligus mengumpulkan bahan untuk tugas akhirku di perpustakaan kampusnya.

Kedekatan kami tidak hanya sampai di situ. Setelah acara seminar selesai, kami menyempatkan diri jalan keliling Jakarta dan mengenalkannya pada tempat-tempat gaul di Jakarta. Mas Sakti adalah orang yang serius dalam menjalani hidup, ia bahkan tak pernah tahu rasanya gaul di café. Ia bahkan membuatku tertawa ketika aku mengajaknya ke restoran jepang dan mencoba sushi, dan kemudian ia berbisik, “How am I supposed to eat this..?”

Tapi selera kami dalam soal film sama persis. Jadilah, setiap kali ia berhasil menyempatkan waktu untuk main ke Jakarta, kami selalu nonton berdua di bioskop. Aku punya home theater di rumah, tapi aku lebih menyukai ‘ritual’ menonton di bioskop. Mengantri bersama-sama orang-orang yang unik dan mengamati tingkah laku mereka. Adalah menyenangkan bisa menonton bersama, tertawa bersama, menangis dan menjerit bersama, dengan orang-orang yang sama sekali tak saling kenal. Hanya disatukan oleh beberapa kata-kata bernama ‘judul film’.

Aku mengagumi idealisme mas Sakti. Aku menyanjung kebaikan hatinya. Aku dibesarkan dalam lingkungan yang sangat individualis, dan bersama mas Sakti, aku merasa bahwa dunia terlalu luas untuk dinikmati sendiri, bahwa kita punya terlalu banyak untuk diberikan kepada orang lain.

Kelembutan dan kebaikan mas Sakti, ternyata adalah warisan dari Bunda. Dan ketika pertama kali ke Bandung dan menginap di rumahnya, aku jadi tahu kenapa mas Sakti jarang sekali makan di café. Bunda adalah pengusaha catering yang cukup dikenal di Bandung. Beliau mulai menjalankan usahanya ketika Bapak mulai sakit dan pensiun mengajar di astronomi ITB, kemudian semakin mantap terutama sejak Bapak meninggal dunia 5 tahun lalu.
Dan buat mas Sakti, masakan di restoran manapun tidak akan bisa mengalahkan lezatnya masakan Bunda. Ia memang benar.
Mas Sakti punya satu adik laki-laki. Jupiter namanya. Aku hanya sesekali bertemu dengannya ketika aku ke Bandung, tapi fotonya bisa aku lihat ada hampir di semua dinding rumah. Sejak kecil kata Bunda, Jupiter senang sekali difoto. Dia punya ketampanan yang khas, warisan dari kecantikan Bunda, tapi gayanya yang urakan dan rambutnya yang berantakan seringkali menutupi pesona wajahnya.

Dia anak band. Setiap minggu, ia manggung bersama bandnya dari satu pentas seni ke pentas seni lain, mulai dari SMP sampai kampus-kampus. Hari-harinya penuh dengan jadwal latihan di studio. Mimpinya satu, rekaman album dan pindah ke Jakarta. Tapi sudah bertahun-tahun ia jalani, tak satupun kaset demonya mendapat tanggapan.

Jika mas Sakti begitu pintarnya hingga bisa lulus S1 dengan cum laude, dan mendapat beasiswa untuk S2, Jupiter bahkan seharusnya sudah menyelesaikan kuliah S1 tahun lalu. Sarjana mudanya sempat bermasalah, karena ia terlalu sibuk bermusik. Sekarang ia masih harus menyelesaikan 2 mata kuliah tingkat akhir, dan belum memulai skripsinya.
Bunda bilang, Jupiter itu sebenarnya anak pintar. Waktu SMU, ia selalu juara kelas. Saat ujian masuk Teknik Elektro ITB, ia bahkan termasuk dalam 10 besar se-Indonesia. Tetapi sejak meninggalnya Bapak, ia seperti kehilangan semangat untuk belajar. Ia memang sangat dekat dengan Bapak. Dan ia melarikan kesedihannya pada hobinya bermusik.

Sudah beberapa kali aku ke Bandung, dan selalu menginap di rumah mas Sakti. Awalnya untuk mencari bahan skripsiku di kampus mas Sakti, tapi kemudian hampir setiap bulan aku kesana, hanya untuk berlibur, menyegarkan pikiran dan hatiku dari kejenuhan udara Jakarta, dan terutama, kebosanan di rumahku sendiri. Karena kesibukan mas Sakti di kampusnya, aku malah lebih sering menghabiskan waktu bersama Bunda, mengobrol, belanja, mencoba menu-menu baru. Aku adalah pencicip pertama tiap Bunda mencoba resep baru.

Aku sayang Bunda, karena aku menemukan sosok ibu yang sebenarnya aku cari selama ini. Dan Bunda sayang aku, karena sejak dulu ia ingin punya anak perempuan. Terlebih lagi, biasanya ia sendirian di rumah, karena kedua putranya selalu sibuk. Jadi ia senang sekali setiap aku datang. Bunda selalu memanjakan aku dengan makanan enak, yang tentu saja membuatku ketagihan.

Pagi ini aku bangun kesiangan. Aku tiba di Bandung jam 11 malam, dan aku lelah sekali. Aku terbangun pun karena di luar ribut sekali. Pasti Bunda sedang menyiapkan makanan enak lagi. Entah acara di kampus mana lagi yang memakai catering Bunda.

“Eh, gadis Bunda baru bangun..? Capek ya..?”
Aku nyengir. “Iya..”
“Ya sudah, sana mandi.. Bunda sudah siapin makanan nih..”
Masih berusaha merapikan rambutku dengan tangan, aku melongok ke atas meja makan. Baunya harum, masih berasap. Lidah saus putih dan sup baso ikan.
“Yummy…”
“Mandi dulu… nanti baunya pindah ke masakan bunda, kan repot..”
“Ah bunda bisa aja.. Acara dimana lagi nih?”
“Nanti sore di Aula Barat.. Reuninya jurusan Fisika.. “

Setelah mandi, aku menyantap hidangan itu dengan lahap.
“Mas Sakti mana, bun..?”
“Kenapa, kangen ya..? Dia ke kampus, katanya proyek dosennya harus selesai hari Senin, jadi dia seharian harus kerja di lab..”
“Oh gitu..”
“Bunda sudah marahin tadi.. tapi dia janji mau nemenin kamu jalan-jalan besok..”
“Nggak pa-pa kok Bunda.. Kalo mas Sakti sibuk, kita jalan-jalan aja berdua ke Pasar Baru ya.. Lana mau cari baju lagi..”
“Wah.. besok bunda masih ada kerjaan di Fisika.. acara reuninya dua hari.. Maaf ya sayang.. Nanti bunda bilang ke mas Sakti supaya ngajak kamu jalan..”
Aku hanya tersenyum.

“Jupiter nggak kelihatan bun..?”
Bunda mendadak terlihat sedih. Aku jadi merasa bersalah.
“Dia.. sudah lima hari nggak pulang… katanya ada konser keliling Jawa.. Rencananya sih hari ini pulang.. Tapi dia belum telepon lagi..”
Aku mendekat dan merangkul pundak bunda. “Jangan sedih gitu dong bunda..”

Bunda menarik nafas berat. “Hhh.. bukan cuma kesibukan main bandnya yang bikin bunda resah.. Kuliahnya sudah nggak di pedulikannya, sekarang malah sering gonta-ganti pacar..”
“Ah, masa sih?”
“Iya… kamu sih sudah lama nggak kesini… Jupiter sekarang sering bawa temen perempuannya ke rumah.. Tapi baru dua mingguan.. yang diajak ke rumah sudah beda lagi..”
“Cuma teman mungkin bun..”
“Masa cuma teman, tapi nempel terus sama Jupiter.. di depan Bunda juga nggak sopan, berani cium pipi sama meluk-meluk Jupiter..”
“Hehehe.. bunda cemburu ya..”
Bunda tertawa. “Bukan! Tapi bunda inginnya Jupiter itu dapet pacar yang baik, yang dewasa.. bukannya cuma ABG..”
“Pacarnya Jupiter ABG?”
“Iya.. kebanyakan masih SMA, malah pernah bawa anak SMP…”
“Buset… Jupiter itu kan seumuran.. eh, 2 tahun di atas Lana kan?”
“Iya… Makanya Bunda pusing, Lan…”

Terdengar suara ramai di luar. Rupanya Jupiter pulang, diantar rombongan bandnya.
“Bunda..!”
“Disini, nak!”

Ia tampak begitu kusut dan kelelahan, tapi ia masih saja terlihat tampan. Kami sempat bertatapan, tapi kemudian ia melengos dan melangkah tak peduli.
“Sudah makan, Ju…?”
“Udah sarapan di bis.. Jupiter tidur dulu ya Bun…capek..”
“Kok nggak negor Lana dulu..? Dia baru datang lho semalam..”
Ia menoleh sekilas. “Hai Lan..” Dan langsung naik ke atas, ke kamarnya di lantai 2.

Bunda mendesah, membuatku sedih. Aku mengusap-usap punggungnya.
“Sabar ya Bun…”
“Padahal bunda sudah buatkan puding leci kesukaannya..”
“Nanti sore kan bisa.. kalau dia sudah istirahat..”
“Bukan cuma itu… Bunda tahu, ia sedang punya masalah.. Tapi dia nggak mau cerita sama Bunda.. Sudah lama sekali, bunda nggak ngobrol sama dia..”
Aku kasihan sekali melihat Bunda sedih seperti ini.

Bunda akhirnya berangkat ke acara reuni itu. Mas Sakti belum juga pulang. Jupiter belum bangun, atau sudah bangun tapi tidak turun ke bawah, aku tidak tahu.

Aku sedang menikmati puding sambil menonton TV, ketika Jupiter akhirnya turun ke ruang tengah. Ia pasti sudah mandi, karena ia tampak bersih dan segar.
“Hai, Ju..”
“Hai…” Ia mengambil piring dan mengisinya penuh. Ia pasti lapar sekali.
“Sukses konsernya?”
“Yah.. lumayan…”
“Band yang ikut banyak?”
“Banyak..”
“Dari Bandung semua.. atau ada yang dari kota lain juga..?”
Ia menghentikan makannya. “Cerewet banget sih.. gue mau makan nih…!”
“Sori deh..” Aku kan cuma mencoba ramah, kenapa dia harus begitu sewot?

Dia sepertinya merasa bersalah, karena setelah piringnya tandas, dia pindah duduk ke sofa di sebelahku.
“Kapan datang, Lan..?”
“Semalem…” sahutku ketus.
“Jangan manyun gitu.. jelek tahu..”
Aku tak bisa menahan senyum. Aku ingat cerita Bunda, dulu ketika Bapak masih ada, Jupiter adalah cahaya rumah mereka dengan keriangan dan canda-candanya. Sangat berbeda dengan mas Sakti yang kalem, Jupiter selalu punya cara untuk membuat mereka tertawa.

Tapi baru kali ini aku mengetahui bahwa Jupiter memang mampu membuat dunia lebih cerah hanya dengan senyum dan sinar di matanya.
“Nggak jalan-jalan, Lan..?”
“Nunggu mas Sakti.. dia masih sibuk di kampus..”
“Mas Sakti gimana sih? Pacarnya datang, kok malah ditinggal..”
“Lha, apa bedanya sama kamu? Pacar kamu juga selalu ditinggal kan? Kamu kan selalu sibuk ngeband..”
Dia memangku toples isi keripik kentang keju, matanya terpaku pada TV, tampak tak peduli. “Gue nggak punya pacar.. “
“Alaahh.. bohong… bunda bilang, kamu sering bawa cewek ke rumah..”
“Oh itu.. ah, mereka kan cuma fans..”
Aku tertawa melihat mimik wajahnya. Ia cuma anggota band lokal, tapi tingkahnya sudah seperti artis top. “Belagu..”

Aku baru mengerti kenapa Bunda kangen sekali ngobrol dengan putra bungsunya ini. Ngobrol dengan Jupiter memang sangat menyenangkan, apapun topiknya. Ia menceritakan kejadian-kejadian konyol saat ia manggung, dari mic  yang mati, kabel gitar yang putus, sampai waktu ia jatuh keseleo waktu melompat-lompat di panggung. Ia juga cerita ironinya menjadi band pop yang ketika manggung di kampusnya sendiri, tanggapannya sangat minim, jauh berbeda saat ia tampil di depan anak SMU atau SMP.

Aku jadi tahu, ia sebenarnya sadar, mimpinya untuk menjadi band terkenal dan bisa rekaman sangat sulit untuk diwujudkan. Ia sebenarnya juga ingin segera menyelesaikan kuliahnya.
“Ya udah lah, Ju.. loe istirahat dulu aja bandnya.. konsentrasi ke kuliah dulu..” Aku jadi ikut-ikutan ber’loe-gue’ saking santainya bicara dengan Jupiter.
“Aduh… lagi banyak order nih.. sayang kalo dilewatin.. Lagian, kan udah ada insinyur di rumah ini… Boleh dong gue jadi artis aja..”
“Gimana sih, katanya pengen lulus.. tapi kok males..”
Jupiter cuma tertawa. “Hehehe.. iya nih.. berat banget rasanya ninggalin fans-fans gue.. “
Aku melempar bantal sofa ke mukanya. “Dasar artis..!”
Ia hanya tertawa makin keras.

Jupiter:
Akhirnya bandku mendapat order besar juga. Kami konser keliling di kota-kota besar di Jawa. Dibandingkan gaji kantoran, ‘upah ngamen’ kami memang tak ada apa-apanya, tapi ini jauh lebih baik daripada manggung di SMU yang bayarannya hanya cukup untuk mengganti ongkos, bensin, dan biaya latihan di studio.
Minggu ini sudah cukup melelahkan bagiku. Ajakan teman-teman untuk meneruskan malam ini, manggung di Dago sekalian dugem, aku tolak. Dan aku tahu keputusanku benar, terutama setelah aku tahu, Lana datang lagi ke Bandung.

Aku senang melihatnya ada di rumah siang tadi. Tapi aku terlalu lelah untuk sekedar tersenyum. Untunglah, sorenya kami punya kesempatan ngobrol cukup lama. Sudah sering dia datang ke Bandung, tapi baru tadi sore kami bisa ngobrol selama itu. Dan aku merasa rileks, nyaman saat ngobrol dengannya. Sudah lama sekali aku tidak menemukan orang yang bisa begitu ‘nyambung’ denganku, seperti Lana.

Lana itu pacar mas Sakti, tapi menurutku, mereka berdua sangat berbeda. Mas Sakti itu orang yang serius, tenang, tidak banyak bicara. Beda dengan Lana yang ceplas ceplos, riang, dan…. senyumnya manis sekali. Selera musik mas Sakti ‘kelas tinggi’, musik klasik dan jazz. Sementara Lana, dalam hal musik, sangat open minded. Ia bisa mengapresiasikan jazz, menyimak musik klasik, tapi juga bisa mengkritik gaya pop kontemporer seperti yang aku mainkan bersama bandku. Ia banyak sekali hapal lagu-lagu dari berbagai genre, bahkan dari masa sebelum kami lahir.

Ketika kami mengobrol sepanjang sore tadi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa menemukan orang yang  bisa mendengarkan aku. Dan aku jadi membenci saat momen itu harus berakhir, saat mas Sakti pulang. Mereka akan pergi nonton malam ini.

Dan aku harus sendirian lagi. Bunda belum pulang. Memikirkan mas Sakti dan Lana sedang asyik menikmati malam minggu, membuat kepalaku pusing. Biasanya memetik gitar atau bernyanyi keras-keras bisa melupakan sakit kepalaku, tapi kali ini tidak.

Aku bangun kesiangan lagi. Bukan karena aku tidur terlalu malam. Aku tak ingat jam berapa aku tidur, tapi yang jelas, mas Sakti belum pulang juga. Tapi subuh tadi aku terbangun, dan tiba-tiba saja, aku ingin sholat subuh. Entah kenapa. Ketika turun, dapur Bunda sudah penuh para pekerja yang menyiapkan masakan untuk catering. Bunda kelihatan sibuk sekali, jadi aku kembali naik, dan berusaha tidur lagi.

Tapi aku tidur terlalu pulas. Jam sembilan aku baru bangun.

Di ruang tengah sudah ada mas Sakti dan Lana, seperti biasa, sedang menikmati masakan Bunda.
“Bunda mana, mas..?”
“Sudah berangkat lagi.. biasa.. tugas..”
“Oooh..”
“Kamu mau kemana hari ini..?”
“Nggak kemana-mana mas.. mau istirahat aja, masih capek abis konser seminggu kemaren..”

Mas Sakti dan Lana tampaknya akan pergi. Lana bahkan memakai lipstick. Cantik juga.
“Pada mau kemana nih? Rapi bener.. Mau kondangan?”
“Ada nikahan temen.. sekalian mau nemenin Lana jalan-jalan..” jawab mas Sakti tanpa memindahkan matanya dari koran hari ini. “Mau ikut..?”

Aku cuma tertawa kecil. “Nggak ah.. Ngapain ngikutin orang pacaran..? Kurang kerjaan.. Mending tidur..”
“Jangan tidur melulu.. otak kamu nggak jalan kalo kebanyakan tidur..”
Aku tak ingin mendengarkan ceramahnya. Jadi aku mengambil piring, mengambil 2 tangkup pancake, menyiramnya dengan madu. Aku juga mengambil jatah susuku dari meja, dan membawa semuanya naik ke atas lagi. Sebelum menutup pintu kamar, masih bisa kudengar mas Sakti meminta maaf pada Lana atas kelakuanku. Aku tak bisa mendengar respon Lana.

Kenapa mas Sakti selalu bisa mendapatkan semua yang dia mau? Sejak kecil, ia selalu mendapatkan pujian dan hadiah karena ia selalu juara. Bukan cuma juara umum di sekolah, tapi juga juara cerdas cermat, kompetisi bidang studi, karya ilmiah, sampai juara bulutangkis, renang… entah apa lagi. Apa yang aku dapatkan? Sampai aku SMU, hampir semua bajuku, buku sekolahku, adalah bekas milik mas Sakti. Ketika aku meminta motor untuk menghemat ongkos dan waktuku ke sekolah, aku –lagi lagi—mendapatkan motor yang biasa dipakai mas Sakti, sedangkan dia? Dia malah di belikan mobil sebagai hadiah karena –lagi lagi—menjadi juara lomba rancangan pabrik tingkat nasional di kampusnya.

Aku tahu aku lebih tampan daripada mas Sakti. Waktu kecil, aku pernah nampang jadi model baju anak-anak di majalah. Beberapa tawaran iklan sempat datang, tapi bunda melarang, karena takut mengganggu sekolahku. Aku kesal sekali waktu itu. Aku tidak tahu lagi dengan cara apa aku bisa membuktikan kalau aku juga punya prestasi. Seperti mas Sakti.

Dan kenapa cewek-cewek selalu menyukai mas Sakti? Apa karena aku nakal, pemberontak, trouble maker? Padahal aku nggak bego-bego amat. Aku juga bisa juara kelas, walau tidak sampai juara umum. Semua cewek selalu bilang, karena mas Sakti itu baik hati, gentleman, sopan, royal? Padahal dia itu sombong, dari sekian banyak cewek yang mengejarnya waktu SMU, tak ada yang dipacarinya. Hanya sekali ia pacaran, waktu ia kuliah. Tapi yang didapatkannya memang selalu yang terbaik. Mbak Titan adalah…. salah satu wanita tercantik yang pernah aku temui. Dia nyaris sempurna. Dia juga sepintar dan sekalem mas Sakti. Aku bahkan harus mengakui, kalau mereka serasi sekali. Tapi Bunda tidak terlalu menyukainya. Bunda kenal dengan orangtua mbak Titan yang sangat kaya itu, dan sepertinya Bunda pernah punya masalah di masa lalu dengan ibunya.

Dan mereka pun putus, tapi bukan karena Bunda. Mbak Titan melanjutkan S2nya ke Jerman, dan tidak mau menikah sebelum lulus S3. Padahal mas Sakti ingin segera menikah, walaupun –untuk pertama kalinya—bertentangan dengan keinginan Bunda. Sejak itu mas Sakti makin pendiam.

Sampai Lana datang. Dan lagi-lagi, mas Sakti selalu mendapatkan yang terbaik. Apalagi sepertinya Bunda juga sudah jatuh cinta pada calon menantunya kali ini.

Cuma Bapak yang paling mengerti aku. Cuma beliau yang selalu mendukungku. Gitar pertamaku adalah hadiah dari Bapak waktu ulangtahunku yang ke 15. Dengan gitar itu pulalah, aku selalu melarikan kekecewaanku, kecemburuanku pada mas Sakti dan juga kegagalan-kegagalanku. Hingga aku sadar, daripada cuma sekedar kumpul-kumpul tanpa tujuan bersama teman-temanku, akan lebih baik jika kami serius menekuni hobi kami bermusik. Dan mulailah kami bermain band dimana-mana, menerima tawaran main dari siapa saja. Responnya cukup bagus, terutama dari para ABG.

Disinilah akhirnya aku merasa ada yang menghargaiku. Aku menikmati cara gadis-gadis SMU dan SMP itu memujaku. Aku merasa berguna buat orang lain. Dan aku tak peduli walau hanya Bapak yang mengijinkan aku meneruskan hobiku ini.

Dan aku akhirnya semakin jauh dari Bunda dan mas Sakti, apalagi sejak Bapak meninggal. Aku merasa terpukul saat itu. Tak ada lagi orang yang bisa mengerti duniaku. Aku tahu Bunda kecewa padaku, tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan agar dia bisa bangga padaku. Jadi aku memilih lari dan hidup dalam duniaku sendiri.

Sampai Lana datang. Dan sekali lagi, aku merasa iri pada mas Sakti. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku sangat suka ngobrol dengan Lana, bercanda, melihat senyumnya yang manis, mendengar tawanya yang lucu. Kami mempunyai selera humor yang sama.

Aku tidak tahu apakah dia tahu bahwa ketika dia pamit untuk pulang ke Jakarta sore itu, aku merasa begitu sedih. Begitu kosong.

--bersambung ke bagian 2--


0 komentar:

Post a Comment