Breaking News

30 January, 2012

Jangan Su'udzon Dong..! :D


Malam itu di sebuah apotik. Sepasang lelaki dan perempuan yang masih terlihat muda berdiri di depan etalase kaca sambil mengamat-amati test-pack yang akan dibelinya.

“Mas, pokoknya harus tanggung jawab lho, kalo hasilnya positif..”

“Ya iyya-lah.. tenang aja.. aku pasti bakal tanggung jawab.”

Si ibu penjaga apotik yang sebelumnya asik membaca koran, seketika menggeser koran yang dibacanya. Sambil mengerutkan kening dan memasang tampang curiga, dia mengamati pasangan muda tersebut, sebelum akhirnya melayani dengan bersungut-sungut.

***

Hehehe.. itu adalah rekaman adegan sekitar delapan tahun lalu. Pasangan muda itu adalah aku dan suamiku, saat kami masih pengantin baru. Kami sedang ‘kumat’ isengnya saat hendak membeli test-pack di sebuah apotik, gara-gara lagak si penjaga yang sok cuek bebek asyik saja membaca Koran walaupun ada pengunjung yang mau membeli sesuatu.

Hingga keluarlah kata-kata dalam obrolanku dan suami tadi. Tentu saja cuma bercanda, dan tentu saja suami akan bertanggung jawab.. lha wong aku hamilnya pas sudah menikah beberapa bulan dengannya. Sama sekali bukan MBA alias Married By Accident, seperti yang di-su’udzon-kan si penjaga apotik tadi.

Setelah transaksi selesai dan kami beranjak keluar dari apotik, lamat-lamat terdengar suara ibu tadi memanggil temannya. Dari luar, mataku masih bisa menangkap mereka berdua bergosip sambil menunjuk-nunjuk arah kami. Hahaha.. pastilah mereka membicarakan kami, mengira kami sebagai pasangan muda yang ‘tersesat’.

Ngomong-ngomong tentang su’udzon dan prasangka orang lain, kami pernah pula mengalaminya di Jogja. Beberapa hari setelah menikah, aku dan suami melewatkan waktu berdua di sana dan menginap di sebuah homestay kecil di salah satu sudut kotanya. Hari pertama menginap, si mas penjaga counter depan bersikap agak kurang ramah terhadap kami. Pandangannya menyelidik dan penuh prasangka. Dalam hati kami bertanya-tanya, ada apa gerangan?

Besoknya dua orang teman kami – Yenny dan Pak Yudha, pasangan suami istri juga – datang mengunjungi kami di homestay tersebut. Berempat kami mengobrol ngalor ngidul di ruang tamu/lobby, termasuk membahas topik acara pernikahan kami yang hampir bersamaan waktunya.

“Wah.. sori ya Fi, kami nggak bisa dateng ke acara kalian di Semarang.. “ ujar Yenny disambut anggukan Pak Yudha, suaminya.

“Hehe.. iya, gak pa-pa.. nyante aja.. yang penting kadonya nyampe,” balasku sambil ketawa-tiwi.

Di sudut ruangan, diam-diam si mas penjaga counter terlihat mengamati dan ikut menyimak obrolan seru kami dari balik meja counter. Ketika mata kami bertemu, si mas itu buru-buru mengalihkan pandangannya, raut mukanya terlihat jengah.

Sepeninggal Yenny dan pak Yudha, aku dan suami kembali ke kamar. Ketika melewati counter.. aha, kami menemukan si mas tersenyum ramah ke arah kami. Hmm.. sikapnya berubah 180 derajat. Dari yang tadinya jutek, seketika menjadi ramah.

Besok paginya, ketika kami check out, mas itu berkata,

“Maaf mas, mbak.. tadinya saya kira mas dan mbak ini bukan pasangan suami istri..”

Hahaha.. lagi-lagi, aku dan suami dituduh yang tidak-tidak. Dijutekin orang gara-gara salah sangka dan su’udzon. Kali ini bukan karena ‘kesengajaan’ dan keisengan kami seperti peristiwa di apotik tadi. Mungkin karena penampilanku dan suami yang (waktu itu) masih terlihat muda sekali dan agak cuek. Hmm.. salahnya juga sih ya, kenapa tidak diminta menunjukkan surat nikah pada saat check in.. :)

Lain waktu di Surabaya. Belum lama, sekitar pertengahan tahun 2010. Aku, yang sedang lanjut studi di Jogja, kebetulan ada perlu di Surabaya. Dari Makassar (tempat tinggal kami), suami menyusulku ke Surabaya, sekedar meluangkan waktu untuk bersama, walaupun cuma dua hari.

Sekali lagi kami menginap di sebuah homestay (hobi amat ya, nginep di homestay. habis murah dan hemat sih, daripada di hotel, hehe). Dalam rangka penghematan pula, suami memutuskan untuk menumpang ojek ketika dia harus ke bandara Juanda untuk pulang kembali ke Makassar.

Nah, si ojek ini mangkalnya tak jauh dari homestay tempat kami menginap. Alhasil, setiap kali mau jalan-jalan, kami pun selalu melewati pos ojek tersebut, sehingga mungkin si mas tukang ojek itu tak asing dengan wajah kami yang seringkali terlihat luntang-lantung jalan kaki berdua.

Sesampai di bandara, suami menelponku. Bercerita tentang obrolannya bersama si mas ojek sepanjang perjalanan ke bandara.

“Mbaknya udah pulang juga ya Mas..?” mas ojek memulai percakapan.

“Iya, dia balik ke Jogja. Naik kereta,” jawab suami.

“Ooo.. Kalau masnya asli mana..?” tanya mas ojek lagi.

“Saya dari Makassar mas.. tapi istri saya itu orang Jawa. Kebetulan dia sedang kuliah lagi di Jogja,” suamiku menjawab dengan santai.

Apa yang keluar dari mulut si mas ojek berikutnya benar-benar di luar dugaan.

“Oo.. si mbak tadi itu istrinya mas to..? Udah nikah..? Pasangan suami-istri..?”

Gubrak..!! Ternyata oh ternyata.. setelah sekian lama, kejadian di-su’udzon-i terulang lagi :D

Masih di telepon, suami melanjutkan ceritanya, dia tak tahu musti tertawa atau kesal karena disangka sebagai lelaki yang pacaran dengan kekasihnya, pakai menginap bareng pula! Hahaha.. berarti selama dua hari si mas ojek sudah mengira yang bukan-bukan terhadap kami berdua.

Walah.. aku jadi ikutan antara jengkel karena dikira sebagai pasangan ‘nggak halal’, tapi juga senang karena itu berarti aku dan suami masih terlihat muda dan mesra layaknya orang yang sedang pacaran.

Jadi.. maaf sodara-sodara, kalau aku dan suami kadang membuat anda su’udzon. Demi Allah, tidak ada maksud jelek. Kami ini pasangan suami-istri resmi -- yang menikah baik-baik, tanpa accident dan incident aneh-aneh sebelumnya -- yang ingin selalu have fun walaupun sudah bertahun-tahun menikah.

Nah, jangan su’udzon lagi ya.. :)


(Rotterdam, 9 Mei 2011)

0 komentar:

Post a Comment