Breaking News

27 January, 2012

INDAHNYA MENJADI IBU ( Revisi )


Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa akan menikah diusia yang sangat muda yaitu umur 20 tahun, walaupun dulu pernah bercita-cita menikah diusia muda tapi tidak semuda itu –nah loh- setelah menikah saya memutuskan keluar dari pekerjaan karena langsung diboyong oleh suami kekota lain, begitu juga dengan kuliah. Tapi ternyata dikota tersebut kami tidak lama karena suami kembali dimutasikan ke Jakarta, dalam keadaan hamil muda saya kembali ke Jakarta. Setelah putra kami lahir saya masih tetap fokus menjalani peran saya sebagai seorang istri dan ibu, proses kelahiran putra kamipun terbilang unik karena setelah dua minggu lewat dari perkiraan hari kelahiran si baby masih betah didalam sedangkan air ketuban saya udah merembes keluar, tidak pecah hanya merembes, akhirnya dokter memutuskan agar saya dirawat, setelah dua hari dirawat tidak ada kemajuan yang berarti begitupun ketika dikasih tiga macam induksi yaitu dikasih obat, disuntik yang terakhir diinfus sama saja tidak membuahkan kemajuann yang berarti tetap saja si baby betah didalam, akhirnya pihak keluarga mengajukan kepihak rumah sakit untuk melakukan operasi sesar, suami dari awal memang sudah menyarankan seperti itu tapi saya tetap bertahan pada prinsip dan keyakinan saya bahwa saya bisa melahirkan secara normal, suami pada saat itu benar-benar tidak tega melihatnya tapi saya yakinkan dia bahwa saya bisa melewati masa-masa itu, dan Alhamdulillah keyakinan saya berbuah manis saya bisa melahirkan secara normal tepat di minggu malam pukul 23.55 WIB si baby lahir dengan selamat, tapi pengajuan IMD yang saya minta ke pihak dokter tidak disetujui karena ternyata si baby lahir dengan bilirubin yang cukup tinggi , tubuhnya menguning harus segera dihangatkan. Keesokan harinya saya diinjkan pulang tapi tidak dengan si baby karena harus dirawat sampai bilirubinnya turun sebelum pulang saya sempat menengoknya diruang perawatan ditemanin oleh seorang suster yang dari masa dirawat sampai saya melahirkan selalu setia mendampingi saya, ingat betul ketika suster tersebut berkata pada saat induksi ketiga dilakukan ‘ini dia ibu yang paling anteng” karena katanya tidak ada keluhan, rintihan apalagi teriakan yang keluar dari mulut saya seperti ibu-ibu yang lainnya –bagaimana saya mau berteriak-teriak menirukan apa yang dilakukan ibu-ibu perkasa diruangan itu mendengar jeritan dan teriakan mereka sudah membuat saya pusing tujuh keliling-  tapi sayang sekali saya tidak diijinknan masuk dengan alasan ruangan tersebut harus tetap steril, memberikan ASI pun harus dengan cara diperas atau disedot karena harus diantarkan ke rumah sakit, tapi Alhamdulillah ternyata si baby hanya dirawat dua hari setelah itu diijinkan pulang. Setelah putra kami berumur satu tahun saya barulah saya memulai aktifitas diluar rumah, menerima tawaran mengajar dan melanjutkan kembali kuliah yang sempat terhenti, sebenarnya tidak sepenuhnya melanjutkan tapi baru mulai kuliah lagi karena saat itu saya mengganti jurusan jadi harus dimulai dari awal lagi alasannya saya mencari tempat kuliah yang dekat dari rumah, begitu juga dengan tempat saya mengajar sangat dekat dari rumah, karena dari awal saya tidak pernah bercita-cita untuk kerja diluar rumah saya ingin fokus menjadi ibu rumah tangga, menjalankan usaha dari rumah tapi saya memang bukan tipe orang yang hanya bisa berdiam diri begitu saja. Akhirnya saya terima tawaran mengajar dan melanjutkan kembali kuliah sedangkan jagoan kecil dititpkan ke Neneknya pada saat saya beraktifitas, jagoan kecil kami tumbuh selayaknya anak-anak yang lain cerdas dan lincah, bicaranyapun sangat lancar karena diusia satu tahun gaya bicaranya sudah seperti anak usia lima tahun udah bercas-cus ria dengan orang-orang disekitarnya, jadwal mengajar saya adalah siang hari dengan jadwal mengajar yang tidak terlalu banyak karena memang itulah alasan kedua mengapa saya menerima tawaran mengajar tersebut selain dekat dari rumah waktunyapun siang hari dan jam mengajar yang tidak terlalu banyak, dimana ketika saya berangkat mengajar lebih sering jagoan kecil saya sedang tidur siang dan ketika saya pulang dia baru saja bangun malah kadang belum bangun,artinya saya tetap bisa beraktifitas tanpa harus melewatkan moment-moment berharga bersama jagoan kecilku sedangkan suami saya tetap mendukung aktifitas saya selama tidak terlalu lama meninggalkan buah hati kami, seiiring berjalannya waktu ternyata saya masih saja merasa kurang dengan aktifitas tersebut akhirnya saya mencoba usaha baru yaitu menjadi pedagang busana muslim, saya sendiri yang berbelanja dan yang menjualkannya atau sekali-kali mendistribusikannya kebeberapa tempat, saya juga membawa dangangan tersebut ke tempat kuliah –ini mau kuliah apa mau dagang yah- maksudnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui pada saat jam istrahat saya mempromosikan dagangan tersebut kepada teman-teman kuliah saya yang perempuan karena saya memang khusus menjual pernak – pernik perempuan mulai dari gamis, jilbab, mukenah dewasa dan anak-anak, bros-bros, baju-baju atasan untuk wanita, tapi kadang saya juga membawa baju dan celana untuk pria berdasarkan pesanan mereka,saya juga menawarkan kepada teman-teman mahasiswa untuk menjualkan barang dagangan saya dan ada beberapa yang tertarik jadilah saya sebagai pemasok barang kepada mereka atau melayani pesanan-pesanan dari mereka dengan system membagi keuntungan karena bagi saya mendapat keuntungan kecil tapi modal tetap terus mutar akan jauh lebih baik daripada mendapat keuntungan besar tapi barangnya tidak laku-laku, pernah juga saya menawarkannya kepada dosen-dosen saya – ini nekat namanya :D- walau awalnya saya ragu tapi justru mereka mengacungkan jempol kepada saya sambil berkata “ ini yang namanya kreatif, memanfaatkan kesempatan”, sebenarnya tidak sepenuhnya menawarkan secara langsung kepada mereka karena pada saat itu kedapatan sedang menggelar dagangan depan kampus dan dikrubutin oleh mahasiswa lainnya – Dosen-dosen kira bakal ada demo kali yak, makanya mereka ikut nimbrung :D - pada saat jam istrahat, dengan aksi nekat tersebut menjadi terkenalah saya dikampus bukan karena prestasi tapi karena dagangan saya - tapi nilai akademik saya nggak jelek-jelek amat kok IP masih diatas 3,ini ajang narsiskan hehehe-  saya juga mencoba menjualnya secara online, dan membuat blog khusus untuk dagangan saya walaupun masih menggunakan blog yang masih gratisan dan cara seperti itu ternyata cukup ampuh untuk mempromosikan dangangan saya, paling tidak ada yang memesan dalam jumlah yang besar dangangan saya – memang kalau rezeki takkan lari kemana -  awalanya suami kurang mendukung usaha tersebut karena kurang yakin dengan kemampuan saya, lebih tepatnya suami khawatir karena selama menikah saya belum pernah kemana-mana tanpa diantar olehnya, ketika harus membeli barang dagangan tentu saja saya akan berangkat sendiri dan menenteng barang dagangan satu tas gede –kek orang pulkam aja nih- tetapi setelah melihat hasilnya akhirnya suami mendukung dengan perasaan bangga suami berkata “ ternyata Mama hebat “ aih…dengan tersipu-sipu saya berkata bahwa saya ingin menjadi istri yang mandiri yang tidak terlalu bergantung pada suami tanpa meningglkan kewajiban saya sebagai seorang istri dan dan ibu, prioritas saya tetap keluarga. Lain lagi dengan pujian yang dilontarkan oleh jagoan kecilku, ketika pulang setelah beraktifitas diluar rumah dia akan langsung menubruk dan minta digendong sambil berkata “ Mama cantik “sambil mencium pipi kiri dan kananku. Ah…serasa menjadi wanita tercantik .

Bagaimanapun aktifitasku diluar, tapi saat yang paling membahagiakan tentu saja ketika berada dirumah, cita-citaku memang manjadi seorang Guru bukan hanya diluar tapi juga didalam rumahku sendiri. Tidak hanya sekedar seorang guru yang menjadi pengajar tapi juga yang menjadi pendidik untuk anakku sendiri.













0 komentar:

Post a Comment