Breaking News

17 January, 2012

Impian di Awal Senja


Ini tulisan yang tadinya dikirim ke Stilleto untuk ACOT.  Akibat kelalaian, aku salah mengirim naskahnya :(.  Jadilah naskahku ini kalah sebelum bertanding.  Walaupun belum tentu lolos, tapi sedih juga sudah gugur sebelum waktunya.  Pelajaran untukku dan ibu-ibu semua.  Teliti kembali naskah yang dikirim untuk lomba.  Waspadalah! #Bang Napi mode-on
Tulisannya kushare di sini aja yaa ..., semoga berkenan membacanya :).  Kalau pun tak terbaca tak apa, karena memang cukup panjang ...:) Just want to share ...

*****

IMPIAN DI AWAL SENJA
Oleh :  Rainy Safitri

 Dinginnya suhu kamar membangunkanku. Tenggorokan kering, dan kaki terasa dingin.  Ah, lagi-lagi rencana menulis batal tadi malam.  Padahal, sudah kurencanakan menulis setelah si Kecil tidur.  Semua rencana kandas, karena aku malah ikut tertidur sampai subuh menjelang.  Sang Fajar masih menggantung di langit subuh.  Kubuka laptop, berharap masih sempat menuliskan satu-dua paragraf sebelum adzan Subuh memanggil. Laptop sudah menyala, halaman putih sudah siap terisi.  Namun, jari-jari ini tak juga menyentuh keyboard. Pikiran mendadak kosong, tak tahu apa yang akan kutulis, padahal tadi malam ide-ide itu berkeliaran di kepala.  Keadaan tak berubah sampai adzan subuh berkumandang, aku pun beranjak untuk melaksanakan shalat.

 Kejadian ini terus berulang sejak bulan-bulan terakhir.  Aku belum berhasil menuliskan apapun. Ide yang berkelindan di kepala seakan tak ingin kutuangkan. Macet, tumpat, bergulung-gulung tanpa mampu mengalir keluar.  Keputusasaan mulai menghantui.  Bagaimana mungkin impianku terwujud kalau kondisinya seperti ini?  Hmm ..., impian itu....
Impian yang baru saja kutemukan setahun yang lalu.

 “Bunda, punya impian nggak?” Satu malam anak perempuanku tiba-tiba bertanya.

“Punya dong ..., Bunda ingin Kakang, Ceuceu, dan Adek jadi anak yang sholeh dan sholehah, pinter, juga sukses hidupnya,” jawabku saat itu.

 “Itu kan impian Bunda untuk Kakang, Ceuceu, dan Adek.  Maksudnya impian untuk Bunda sendiri gitu ..., Bunda pengen jadi apa?” lanjutnya.

 “Kan udah, Bunda pingin jadi Ibu Rumah Tangga dan punya anak-anak yang lucu dan baik hati,” kataku sambil membelai rambutnya yang panjang.

 “Aaah ..., Bunda ... maksud Ceuceu bukan gitu.  Beneran mimpi Bunda sendiri, cita-cita Bunda, kayak Ceuceu yang pingin jadi seniman. ” Rupanya belum puas juga dia.  Pertanyaan itu pada akhirnya mengusikku juga.

Sejak lulus kuliah, kemudian menikah, aku mengabdikan diri menjadi Ibu Rumah Tangga.  Saat ini anak dan suami adalah prioritas utama.  Apakah aku masih punya impian untuk diri sendiri?  Impian yang terlintas selama ini hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak dan suami.  Pertanyaan tentang impian itu terus menggelitik hati,  hingga membuat kenanganku melayang ke masa kecil dulu.
Saat di Sekolah Dasar,  pelajaran mengarang adalah jam-jam yang paling kunanti.  Setiap menuliskan cerita, jiwa ini rasanya bebas mengekspresikan diri.  Meski selalu masuk 10 besar di kelas, namun sikap kurang percaya diri seringkali menghambatku  untuk berprestasi lebih. Aku tidak termasuk anak yang populer di sekolah.  Saat menulislah, segala yang ada dalam pikiran ini dapat terungkap dengan lancar.

“Fitri, karanganmu bagus sekali.  Kalimatnya baik dan rapi.  Penggunaan kata-katanya bagus.”  Pak Sudarja, guru kesayanganku memuji.  “Anak-anak, coba lihat karangan Fitri , seperti ini kalau membuat karangan,” lanjutnya lagi membuat hati ini berbunga-bunga.

“Terima kasih Pak ...,” jawabku malu-malu.

Pujian itu masih terkenang hingga saat ini.  Namun, seiring waktu,  kegemaran menulis teralihkan oleh berbagai kegiatan lain.  Cita-cita menjadi sastrawati telah hilang dari catatan harianku.  Sampai satu saat fasilitas catatan dalam akun facebook,  membuatku memulai kembali hobi lama itu.
Dalam catatan di facebook, tiba-tiba saja semangat menulis itu tumbuh kembali.  Seringkali kutuliskan kejadian-kejadian sederhana yang terjadi, kemudian membaginya dengan teman-teman facebook.  Memberi makna dalam setiap peristiwa yang terjadi, menuliskannya, dan mendapat respon positif dari teman-teman, sungguh menciptakan kenikmatan tersendiri.  Tiba-tiba,  impian itu melompat begitu saja, betapa senangnya kalau pembaca tulisanku tidak terbatas teman-teman di facebook saja.  Menyebarkan nilai-nilai kebaikan lewat tulisan, dan dibaca banyak orang pastilah menyenangkan.  Menjadi penulis, impian yang datang di usia yang tak muda lagi.  Saat kuceritakan tentang impian ini, anak-anak serta suami langsung mendukungnya.

Aku mulai menjajagi kemungkinan menjadi penulis di sela kesibukan menjadi ibu dari tiga orang anak.  Beberapa komunitas penulis mulai kuikuti, dan berusaha menyerap ilmu menulis setiap ada kesempatan  Ternyata,  mengenal banyak penulis yang berpengalaman membuat semakin tahu bahwa tulisanku masih jauh dari sempurna.  Beberapa cerpen terselesaikan, namun hasilnya masih saja tidak memuaskan.
Semangat menjadi penulis semakin menyala melihat banyak teman di komunitas penulis berhasil menerbitkan bukunya sendiri.  Impianku semakin besar, dari sekedar ingin berbagi makna lewat tulisan, kini muncul keinginan mempunyai buku yang terbit dengan namaku di sampulnya.  Demi impian itu, kucuri-curi waktu untuk mengikuti setiap kajian ilmu kepenulisan.  Sadar bahwa baru memulai mimpi di usia menuju senja, tentu saja semangat dan usaha menuju pencapaian impian itu harus lebih keras.  
Anehnya, semakin banyak mengetahui teori kepenulisan, semakin sulit rasanya menuangkan isi kepala ini ke halaman kosong di laptop.  Hanya terduduk di depan laptop, tanpa menuliskan apapun semakin sering terjadi.  Belum lagi hambatan-hambatan yang berkaitan dengan kewajiban sebagai Ibu Rumah Tangga.  Berbagai deadline lomba lewat begitu saja. Perasaan frustrasi mulai menghantui.  Keraguan mulai muncul.  Bagaimana mungkin mencapai impian kalau situasinya seperti ini.  Meluangkan waktu untuk menulis saja sulit, dan ketika kesempatan menulis itu ada, satu paragraf pun tak bisa kuhasilkan.  Di usia 40 tahun baru memulai belajar, dengan segala keterbatasan waktu yang ada.  Rasanya semakin jauh impian itu bagiku.

Aku mulai mengalami kemacetan.  Sepertinya tak ada lagi keinginan untuk menuliskan sesuatu.  Bahkan menulis catatan di facebook yang biasanya menjadi kesenanganku,  kini tak lagi kulakukan.  Kemarahan dan kesedihan bercampur dalam hati.  Lalu, mulai timbul penyesalan-penyesalan.  Andai aku mulai semuanya lebih awal, tentu tak sesulit ini jalan untuk mencapai impian itu.  Andai aku menulis sejak usia yang masih muda, tentu lebih banyak waktu untuk belajar dan menulis.  Impian itu mulai menjauh.  

Keadaan memburuk, aku semakin sering  terpaku tanpa menuliskan apapun, seperti sekarang ini.  Tadi malam,  ide cerita berlompatan di kepala.  Saat baru mulai menuliskannya, si Kecil merengek minta ditemani tidur.  Rencana menulis pun tertunda.  Niat dalam hati, segera setelah dia tidur, maka kegiatan menulis berlanjut.  Namun, yang terjadi aku malah tertidur bersama si Kecil, dan baru terbangun menjelang Subuh.  Ide di kepala tadi malam seakan lenyap begitu saja,  tak ada satu pun yang bisa kutuliskan lagi.  Kekesalan karena gagal lagi menulis masih terasa hingga usai melaksanakan shalat subuh.

Laptop masih menyala.  Iseng-iseng,  kubaca lagi catatan-catatan lama yang pernah kutulis.  Salah satunya tulisan  yang  berjudul “Life Begin at 40”.  Dalam tulisan itu, aku menceritakan tentang kegelisahan saat terjebak dalam kebosanan dengan semua rutinitas.  Aku tidak bisa lagi menikmati semua yang kulakukan, dan sering merasa resah.  Sampai pada satu titik, pikiranku terbuka bahwa semua pekerjaan harus dilakukan karena Allah.  Kegelisahan itu muncul, karena segala rutinitas telah membuatku lupa menyertakan Allah di dalamnya.  Saat itu, tepat di 40 tahun perjalanan usia, kesadaran menyentuh jiwa, dan menumbuhkan semangat baru.

Subhanallah, tulisan itu memberikan pencerahan, dan jawaban.  Rasa frustrasi, sedih, dan marah hanya memperburuk keadaan.  Pada awalnya menulis adalah kesenangan bagiku. Tujuan menulis adalah ingin berbagi makna hidup dengan banyak orang.  Kenikmatan membagikan segala hikmah yang terasa, membuat hasrat menulis semakin menggebu-gebu.  Impian menjadi seorang penulis pun bermula dari keinginan membagikan makna hidup itu lebih luas lagi.  

Seiring dengan impian yang semakin besar itu, tumbuhlah harapan lebih untuk menuliskan hal yang hebat dan sempurna.  Ternyata, hal itu malah membuat menulis menjadi beban bagiku.  Aku tidak lagi bisa menikmati kegiatan menulis.  Padahal, pada awalnya semua hanya berisi kegembiraan, saat mampu menuliskan hikmah dari setiap peristiwa.  Dengan kegembiraan itu, maka tak ada bedanya menerbitkan buku atau tidak, yang terpenting adalah aku mampu menuliskan butiran hikmah dalam hidup ini.  Menuliskan hal-hal sederhana dalam keseharian, sehingga menumbuhkan pemahaman baru tentang hidup setiap harinya.

Tersadar aku, impian menjadi seorang penulis telah membuatku mengejar hal yang terlalu besar,  dan menuntut kesempurnaan.  Kegiatan yang biasanya begitu kunikmati terkikis sebuah obsesi tentang kesempurnaan, dan menjadikannya beban.  Aku lupa bahwa menulis hakikatnya adalah sesuatu yang sederhana, mengalirkan kisah dari hati,  untuk disampaikan ke dalam hati pembacanya.  Bila ditulis dengan hati, maka sebuah tulisan akan  mampu menyentuh sanubari, menggetarkan jiwa, dan membangkitkan kesadaran.

Tentu saja menjadi penulis akan selalu menjadi impianku.  Aku sadari kini,  sukses menggapai mimpi bukan disebabkan oleh berapa besar impian yang kita miliki,  tapi sekuat apa kita menggenggam impian itu.  Melalui kesederhanaan yang dirangkai dengan sepenuh hati, ketulusan berbagi,  impian itu akan tetap dimiliki.  Aku harus mendapatkan semangat itu kembali. Menulis dengan keikhlasan,  dan menjalani prosesnya dengan senang hati.  

Aku teringat kembali percakapan dengan anak perempuanku di satu sore. Saat itu aku sedang asyik menulis,

“Nda ..., kenapa sih Bunda mau jadi penulis?” tanyanya.

“Hmm ..., karena Bunda ingin berbagi dengan orang banyak,” jawabku singkat.

“Kenapa Bunda ingin berbagi dengan orang banyak?” tanyanya lagi.

“Bunda ingin bermanfaat bagi banyak orang Ceu ..., kan sebaik-baik hamba Allah adalah yang paling banyak manfaatnya, jadi Bunda ingin menebar manfaat lewat tulisan-tulisan Bunda,” jelasku untuk menutup rasa penasarannya.

 “Terus, apalagi Nda ...?” Ternyata belum selesai pertanyaannya.

 “Apalagi apanya ... Ceuceu ...?” tanyaku mulai tak sabar, karena merasa konsentrasi menulis jadi terganggu.

“Apalagi harapan Bunda?” lanjutnya.
Aku terdiam,  berhenti menulis, dan berbalik menghadap anak perempuanku yang selalu ingin tahu itu.

“Bunda pernah dengar ada penulis yang bercita-cita mewariskan buku hasil karyanya untuk anak-anaknya.  Bunda juga ingin seperti itu sayang ..., mewariskan buku karya Bunda.  Tentu saja bukan hanya bukunya, lebih penting dari itu adalah nilai-nilai kehidupan dalam tulisan Bunda, itu yang ingin Bunda wariskan pada anak cucu Bunda.”  Aku menatap gadis kecilku. “Bunda akan berusaha mewujudkan itu untuk Kakang, Ceuceu, dan Adek,” lanjutku.
Percakapan itu selesai sampai di situ, namun semangat dalam hatiku mulai menyala .  Sejak saat itu aku semakin yakin itulah impian yang harus diperjuangkan.

Panggilan  “balita ganteng” dari dalam kamar, membuyarkan lamunanku.  Ups, ternyata matahari pagi sudah mengintip di balik tirai.  Tandanya rentetan tugas pagi menunggu untuk kujalani.  Ya, satu lagi yang tak boleh kulupakan.  Impian utama dalam hidupku adalah menjadi tonggak  utama pendidikan anak-anak.  Beberapa waktu lalu,  aku merasa impian jadi penulis sulit tercapai, karena terhambat dengan semua kesibukan mengurus amanah, dan anugerah terindah ini.  Pagi ini, Allah telah memberikan pelajaran terbaik-Nya.  

Selama ini justru kehebohan, kemanjaan, dan kecerewetan anak-anaklah yang membuat hidup lebih berwarna.   Kisah-kisah sederhana yang selalu kurangkai pun berkisah tentang mereka.  Keluarga adalah sumber inspirasiku.  Impianku menjadi penulis berjalan seiring dengan kisah suka, maupun duka yang terlalui bersama suami dan anak-anak.  Entah apakah impian itu akan menjadi kenyataan, atau tidak.  Namun,  keyakinanku penuh pada Allah.  Tugasku hanyalah belajar,  dan tak berhenti membagikan hal sederhana dengan menulis.  Usiaku memang sudah di awal senja, tetapi tugas di dunia ini belum selesai.

Aku harus terus belajar menjadi hamba yang lebih baik,  berusaha memberi manfaat sebanyak-banyaknya, dan mengabadikannya dalam tulisan-tulisan.  Aku ingin jadi penulis.  Impian di awal senja itu tentunya jadi impian terindahku.  Impian yang harus terus kugenggam erat,  hingga Allah menetapkan saatnya tiba masaku.  Akan kutulis apapun dalam hidup yang terlalui, hingga tiba saatnya senja kan tenggelam.  Manakala itu terjadi, berarti masa belajarku di Universitas Kehidupan ini telah usai.   Impian di awal senja, akan selalu jadi temanku meniti hari demi hari.  Hingga detik-detik menjemput masa,  dan senja berganti kelam malam nan sempurna.

1 komentar:

www.bacawajah.blogspot.com said...

nice story...

Post a Comment