Breaking News

01 February, 2012

IIDN is jeblos

 
Beberapa bulan lalu seorang teman menjebloskanku ke grup Ibu-Ibu Doyan Nulis. Dan dengan nilai-nilai keTimuranku ‘gak enak kalau di tolak’, aku setuju saja ikut bergabung. Sempat buka-buka sejenak, merasa tak tertarik, berbulan-bulan tak aku singgahi lagi. Bak kisah tetanggaku, setelah akad nikah si istri ditinggal tak tahu entah kemana.

Ketika kemudian terjeblos ke IIDN Riau, aksi yang hampir sama kembali aku lakoni. Sedikit ada kemajuan, karena sesekali masih kusambangi. Ini mungkin seperti suami yang punya dua orang istri tapi sedang  di tahap (belum apa-apa)sudah bosan. Yang tua tak di acuhkan, yang muda masih (agak) di sayang-sayang.

Sampai  satu ketika pas jam 12 tepat di malam yang gelap, aku seperti mendapat pencerahan. (perumpamaan yang sungguh tak sungguh-sungguh,heeee…). Kali ini si jeblos menjadi mandiri. Ku jebloskan satu tulisan  ke IIDN daerahku. Semakin menjebloskan diri lantas IIDN pusat pun ku jeblos.  Lalu menyusul beberapa tulisan yang lainnya.

Penjeblosan demi penjeblosan tulisan, walaupun tak banyak membuatku menemukan ketertarikan dari “kawah jeblos” (IIDN maksudnya hehehe) itu. Gelegak  panas semangat untuk terus menulis, magma ide-ide yang membuncah, aliran lahar berbagai informasi yang terus mengalir dan gumpalan pekat persahabatan membuat keinginanku untuk terus dan tetap menulis dan belajar menjadi tumbuh subur.

Memang, belum ada tulisanku yang menjadi atau tertulis dalam sebuah buku. Tapi ku yakin satu saat aku akan sampai di titik itu. Dan kelak ketika  aku sudah lansia aku akan bercerita tentang penjeblosan ini sebagai bagian dari riwayat hidupku.





Mulutmu Harimaumu

Anda pernah disakiti?  Aku pernah! Rasanya sakit sampai ke ulu hati.  Dicela, difitnah dan dijadikan tertuduh.  Ugh mengesalkan!  Yang bisa  kulakukan hanya menangis, hihi jurus pamungkas, itu pun  kulakukan di rumah tidak didepannya.  Ketika didepannya, aku hanya duduk manis saja, sambil tangan mencoret – coret buku, menulis apa saja sekena hati asal bisa mengalihkan perhatian tidak terlalu fokus kepada yang sedang berbicara.  Tulisan curhat, menuliskan do’a-do’a  kekuatan hati agar tangis bisa terkendali.

Mulutmu harimaumu, memang benar adanya.  Mungkin orang yang di depanku tadi tidak merasa sedang memberikan bom yang mengoyakkan hati, mungkin ia merasa hanya sedang menyudutkan aku saja, wujud rasa kesalnya.  Ramai teman-temanku mengerumuniku setelah berlalu dari orang itu, “Sabar ya teh….”  Kurang lebih itu ungkapan mereka.  Deuh berarti betul, dia sedang mencercaku, bukan perasaanku saja.  Orang disekitar ku pun ternyata merasakannya.  Kujawab dengan anggukan dan komentar-komentar miring tentangnya pun berhamburan keluar dari mulutku dan teman-temanku.  Ghibah deh! 

Dua tahun sudah berlalu dari peristiwa itu, perasaan sakit sudah tidak ada.  Hanya saja setiap bertemu dengan orang itu ada perasaan yang mengganjal dihati.  Aku ingin bisa memaafkannya, mulut mungkin bisa berkata memberi maaf, tapi melupakan kata-katanya dari memoriku teryata sulit sekali, padahal  mengikhlaskannya akan menjadi sebuah kafarat bagi dosa-dosaku.  Seharusnya aku memahami tabiat orang itu, teman-teman dekatku, yang juga teman dekatnya  sudah dua orang yang menangis tersakiti, belum lagi beberapa orang yang tersinggung oleh ucapannya.  Dia sendiri  biasa saja, tidak ada raut muka permusuhan, yang ada wajah manis persahabatan.  Sedangkan dalam diriku masih saja tersisa noda berkarat. 
Menjadi duri dalam daging, yang membuat perasaanku tak nyaman ketika ia mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya.  Hiks!

Seperti sebuah cerita, kisah seorang yang ingin bertobat, seorang yang ingin terhindar dari dosa datang kepada seorang tua yang arif.  Orang shalih itu mengatakan ketika engkau melakukan dosa tancapkanlah sebuah paku pada sebuah papan dan setiap engkau bertaubat cabutlah paku-paku itu.  Singkat cerita orang tadi datang lagi dan memberikan sebuah papan penuh lubang bekas paku.  “Bapak kini aku telah bertaubat, tidak ada lagi paku di papan ini” kata orang tersebut.  Berkata Bapak sholih yang bijak, “Benar anakku, sudah tidak ada lagi paku yang tertancap, tapi lihatlah lubang bekas paku itu masih tetap berbekas.  Jauhilah dosa anakku, jauhilah menyakiti orang lain, karena mungkin saja engkau telah bertobat, tetapi luka – luka orang yang tersakiti akibat dosa-dosamu akan tetap ternganga”

Sebuah cermin dalam kehidupanku, agar aku lebih berhati-hati dan berbicara dan bersikap, karena mungkin saja  akan banyak orang yang tersakiti karena kekhilafan kita.  Lebih baik diam daripada berkata sesuatu yang tidak perlu, karena bisa jadi itu akan menyakitkan orang lain.

Kini dalam do’a-do’a ku, akan kusebut namanya, kumohonkan maaf untuknya, kumohonkan keluasan jiwaku, agar tidak ada lagi dendam dalam hati yang mengotori hati.  Semoga aku bisa.