Breaking News

01 February, 2012

Ibuku Hebat


Hari ini begitu lelah  kurasa. Demam menyergap ketika ku ingin memulai aktivitas.  Ya Allah beri aku kekuatan  tuk menjalani  ini semua.  Teringat amanah yang  Allah titip  “  Anak didikku ”. Masa  depan mereka lebih berharga dari apapun. Itu yang terpenting. Ku kuatkan kaki melangkah meninggalkan tempat pembaringan menuju kamar mandi yang tidak seberapa jauh dari kamarku.  Aku pasti bisa melawan penyakit yang menyerangku kali ini.  Begitu air ku usapkan di wajah ketika mengambil air wudhu ,  badanku refleks gemetaran.
“ Allah menguji suatu kaum sesuai dengan kemampuannya”. Lirihku.
Tak terasa aku sudah siap untuk berangkat kerja, meski masih  uring-uringan. Ku lihat jadwal kegiatan yang telah aku susun malam tadi. “wow, begitu padat aktivitasku hari ini”  gumamku dalam hati. Jadi teringat kalau hari ini masih hari selasa.  Ku coba tuk mengendarai sepeda motor  dengan  berharap di dalam perjalanan nanti tak ada hal-hal buruk yang menimpaku.
“bismillahirrohmanirrohim, bismillahi majroha wa mursaha innarobbi lagofururrohim” aku berdoa seperti doa yang selalu ku ajarkan pada murid-muridku setiap pagi sebelum memulai pelajaran.

“Alhamdulillah,  akhirnya aku sampai dengan selamat” .  Begitu aku sampai ku cari sosok yang selalu membuatku kuat dan tegar. Ku cari di tempat mereka selalu bermain, namun tak ada satupun muridku yang  terlihat. Aku baru nyadar kalau aku begitu pagi berangkatnya. 
Tak lama setelah kedatanganku, satu persatu mereka merekapun tiba. 
“  Assalamu alaikum ” dengan suara kepolosan mereka,
“  Waalaikum salam “ jawabku.
“  Ibu kok ga turun kemarin? Kami kangen sama ibu.” Tanya mereka.
“  Ibu kan ujian sayang, hari sabtu kemarin kan ibu sudah bilang ” jawabku.
“  Kok muka Ibu pucat hari ini, Ibu sakit ya? Kok Ibu sekolah “  tanya mereka lagi.
Aku tak ingin mereka tau kalau aku memang sakit. Sekuat tenaga aku harus memperlihatkan mereka  kalau aku masih kuat dan semangat. Karena  “semangat, semangat, semangat”. Itulah  yel-yel kami dan anak-anak.
Detik berganti menit dan kemudian berganti jam telah ku lewati bersama murid-muridku. Namun di akhir jam pelajaran, badanku tak berdaya. Aku terkulai lemas. Kepalaku yang terasa begitu berat ku sandarkan dimeja. Ternyata semua murid melihat apa yang terjadi padaku. Namun yang membuatku terharu sayup-sayup  ku dengar mereka berkata:
“ Ibu hebat.  Meskipun sakit dia masih turun sekolah ngajari kita”.   " karena kalianlah anak-anakku Ibu bisa menjadi hebat ". Lirihku dalam hati..

0 komentar:

Post a Comment