Breaking News

30 January, 2012

Ibu Tiga Generasi


Mak Anah. Begitu saja panggilannya. Di usia 92 tahun ia tetap terlihat kemilau.  Bukan karena rambut ubanannya, bukan juga  karena putih kulit keriputnya, tapi karena daya hidup yang terpancar dari sorot matanya.     Setiap kali kami datang dan mencium tangannya  ia akan terkekeh-kekeh sambil berurai air mata lalu mengusap bahu kami dan  menyebut nama kami dengan yakin.  Ingatannya masih cukup tajam, sama seperti puluhan tahun yang lalu, saat aku dan sepupu-sepupuku masih bocah dan asyik duduk lesehan di dapur sambil mendengar ceritanya.  Ia bercerita tentang ayah dan ibu kami saat masih kanak-kanak.  Ia bercerita tentang pengungsian di jaman perang.  Ia bercerita tentang daun-daun mahoni yang berguguran di depan rumah yang katanya sudah ada sejak bumi ini ada.  Ia juga membawa kami terbang kea lam imajinasi, saat menceritakan manuk koreak dan kereta api uap yang hilang di terowongan.  Mak Anah dan dapur dengan tungku hawu  adalah  dua hal yang menghangatkan masa kecil kami di rumah nenek.

Ia menyaksikan kelahiran ayahku dan keenam adiknya.  Ia mengasuh ketujuh anak nenek sekaligus mengurus rumah dan memasak, karena nenekku bekerja setiap hari sebagai guru SPG.  Mak Anah hidup sebatang kara, setelah suaminya meninggal tanpa menghasilkan keturunan.  Maka rasa asihnya tercurah untuk anak-anak nenekku hingga mereka dewasa. 

Setelah itu hadirlah kami, generasi kedua.  Generasi yang selalu ramai merecokinya di dapur, meminta sepiring nasi panas dari aseupan dan teh manis buatannya yang entah kenapa selalu terasa lebih enak.  Dialah penakluk anak-anak yang rewel dan susah makan.  Bersamanya, anak-anak akan  terpukau dengan cerita lalu tak sadar menghabiskan makan siangnya.  Di tangannya bayi-bayi tertidur lelap, terbuai senandungnya
Nelengneng kung nelengneng kung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Geura ngabagjakeun indung

Sampai kami tumbuh dewasa tak pernah sekalipun kami melihatnya marah atau mengeluh.  Walaupun punggungnya bungkuk, tapi wajahnya selalu cerah. Mak Anah hanya tertawa terkekeh-kekeh setiap kali nenek memarahinya karena membiarkan kami ngariung di hawu , memanjat pohon jambu atau berpanas-panas memunguti biji mahoni yang sering diminumnya saat sakit kepala.  Mak Anah  yang setia menggunakan kain serta kebaya adalah sosok yang kami rindukan setiap kali kami jauh dari rumah nenek.

Saat nenek  meninggal dunia, menyusul kakek yang mendahuluinya, Mak Anah duduk bersimpuh di samping jenazah.  Masih terbungkuk-bungkuk,  Sambil terus mengucurkan air mata ia berucap betapa ia bahagia berada di tengah-tengah keluarga kami, di tengah anak-anak yang diasuhnya.  “Keun barudak mah ku Anah..” katanya pelan, seperti janji seorang abdi kepada rajanya.  Hingga kini aku masih bertanya-tanya, imbalan serupa apa yang diterimanya yang membuat ia membaktikan dirinya kepada nenek hingga sedemikian.

Lalu lahirlah generasi ketiga, bayi-bayi kami, yang selalu ditanyakan setiap kami datang menengoknya.   Ia masih juga menggendong dan meninabobokan mereka seperti dulu meninabobokan kami.  Walaupun ia tak lagi menyodorkan masi hangat dan the manis untuk dinikmati, ia masih menyapa anak-anak kami  dengan senyum dan sorot mata kemilaunya.  Maka anak-anak kami pun betah berakrab-akrab dengannya, tak memasalahkan keriput kulitnya atau putih rambutnya atau punggung bungkuknya.  Mereka  seperti tersihir oleh aura kasih sayang yang terpancar dari sosoknya.

Banyak saudara-saudara kami yang takjub dengan sosok Mak Anah kami, karena ia menapaki usia sepuh dengan baik-baik saja, jarang sakit dan masih mengingat dengan baik nama orang-orang yang pernah dikenalnya.  Ia mengisi hari-harinya dengan menyetrika pakaian, pekerjaan yang disukainya, sambil mendengarkan radio, benda yang diakrabinya sejak zaman dulu, saat  cerita radio masih menjadi satu-satunya hiburan.

Lalu, berpulanglah ayahku, generasi pertama yang tumbuh dalam asuhannya.  Ia menangis seperti ibu yang menangisi kematian anaknya sendiri.  Berulang-ulang ia meratap dengan lirih sambil mengusap jenazah almarhum. “Dang..Dang..kunaon  miheulaan emak..” Ratapan yang melemparkan kami pada kenangan di masa silam

Hari itu ia duduk diam sambil memandang ke luar jendela.  Saat aku datang, senyumnya terkembang.  Dimintanya aku duduk di sampingnya.  Aku mencium bau kain batik, mencium bau kasih sayang yang terus menguar dari sosoknya, sejak dulu hingga kini.  Airmataku pun mengalir.  Bergegas kucium punggung tangannya, kudoakan dirinya.  Ia bukan orang lain, ia adalah ibu keluarga kami.

0 komentar:

Post a Comment