Breaking News

27 January, 2012

[Ibu-Ibu Narsis] Pendar Kekaguman Itu


[Ibu-Ibu Narsis] Pendar Kekaguman Itu
By Yuni Bara (Wahyuni Suryaningrum)
Aku lahir dan besar sebagai anak sulung dari empat bersaudara dan satu-satunya perempuan. Dari kecil semua menganggapku anak yang berprestasi yang dapat mengharumkan nama kedua orang tuaku. Langganan rangking 1 di sekolah. Pernah lomba juara penyanyi cilik dan menghibur di acara Hari Anak Nasional di Taman Mini. Selalu terpilih untuk tampil menari di Hari Budaya di Taman Mini sampai kelas 3 SMP. Ikut berbagai kegiatan ekstrakurikuler dari Science Club, Silat sampai Basket. Mengikuti berbagai lomba mulai Lomba MTQ, Lomba Pidato sampai  Lomba Puisi. Lulus SMP pun dengan nilai yang memuaskan. Kisah di SMA pun hampir serupa. Selalu rangking, ikut berbagai lomba, dan lagi-lagi lulus menjadi 3 besar.

 Lulus dari SMA, tahun-tahun pertama aku diundang oleh guru ke sekolah untuk memberikan ceramah motivasi ke SMA karena keberhasilanku lolos ujian ke STT Telkom, STAN dan Universitas Indonesia Jurusan Teknik Elektro yang pada tahun itu memiliki gred tertinggi untuk kemasukan UMPTN. Kuliah pun kulalui dengan mulus. Lulus tepat waktu empat tahun dengan IPK di atas 3, setelah juga banyak terlibat di keorganisasian kampus, tawaran kerja banyak berdatangan ke arahku. Ketika akhirnya aku mengambil tawaran sebuah perusahaan konsultan bisnis multinasional, banyak yang menyatakan kekaguman kepadaku karena perusahaan ini tidak mudah ditembus untuk seorang fresh graduate seperti aku, dan gajinya pun juga sangat lumayan.

Dalam usia semuda itu aku sudah memiliki supir pribadi untuk mengantarkanku pulang pergi kantor dan pergi wira-wiri ke klien. Namun sesungguhnya bukan hanya karena berlebih aku memiliki supir pribadi, tapi karena kondisi badanku yang lemah. Ya, dibalik segala prestasiku sebenarnya badanku agak lemah. Penyakit kambuhanku adalah gastritis yang cukup parah. Perlahan namun pasti, kondisi kerjaku yang selalu di bawah tekanan membawa penyakitku semakin memarah. Ketika tugas mengharuskanku untuk menyebrang samudra melintasi benua, aku terkapar parah selama seminggu di negri orang karena tidak bisa menyesuaikan lambungku dengan makanan setempat. Orang tuaku kadang khawatir dengan kondisiku. Di saat seperti itulah, seakan menjawab doa orang tuaku, seorang pemuda tampan yang sholeh dan baik hati menyatakan keinginannya untuk menjagaku for the rest of my life dengan izinNya.
                                           
Bak gayung bersambut, kamipun menikah. Namun kondisi badanku semakin memprihatinkan. Ketika mengandung anak pertama, aku sempat bolak-balik masuk rumah sakit. Permintaanku untuk mengambil cuti di awal kehamilan tidak didukung oleh perusahaan. Akhirnya suami dan aku mengambil opsi yang terasa berat untukku. Aku harus berhenti bekerja. Saat itu jujur aku bingung apa yang harus kulakukan. Dari  yang tadinya sangat aktif, tiba-tiba aku harus stay at home. Memang aku juga kadang pergi ke pengajian dan mengisi kajian di beberapa tempat. Tapi terasa ada yang kurang dengan keadaanku yang tak memiliki penghasilan. Banyak hal yang coba kulakoni. Mulai dari berjualan kerudung dan baju muslimah, ikut MLM, bahkan menjadi sales buku pendidikan anak. Hal itu kulakukan di tengah kondisi kesehatanku yang turun naik. Bahkan setelah kelahiran anak keduaku, aku sempat menjalani terapi darah tinggi selama setahun dan banyak bedrest sehingga memaksa kami memiliki dua orang pembantu. Satu untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga dan satu lagi untuk mengurusi anak-anakku yang masih kecil.

Namun begitu suami selalu bersikap positif akan keadaanku. Dia selalu memompa harapanku bahwa dibalik segala peristiwa ini pasti ada rahasia Allah yang dipersiapkan untuk kami. Ketika akhirnya kami membeli tanah dan membangun rumah, aku ikut berpartisipasi dalam pembangunannya dan berhubung dengan kontraktor dan tukang sehingga rumah mungil kamipun selesai dalam waktu relatif singkat. Ide-ide desain minimalis yang kutuangkan pada rumah baru kami dan pembagian ruangan yang efektif selalu menjadi topik pembicaraan orang-orang yang  melihat rumah kami. Suamiku pun dengan bangga menyebutkan bahwa ini adalah karya orisinilku. Apalagi ketika aku kemudian memenuhi beranda depan dengan tanaman-tanaman cantik hasil buruanku meminta tanaman anakan kepada saudara-saudara kami. Kreatifitaskupun kembali dipuji suami karena tanaman-tanaman cantik yang tentunya mahal kalau dibeli membuat rumah mungil kami kelihatan cantik tanpa biaya yang tinggi. Bahkan sampai sekarangpun anak pertama kami yang masih memiliki kenangan tinggal di rumah itu selalu merindukan untuk tinggal disana lagi walaupun saat ini kami sudah tinggal di rumah sewa bertingkat dua yang cukup luas.

Sampai kemudian suamiku ditugaskan ke Malaysia, negri jiran yang menyimpan banyak harapan. Kamipun berangkat dengan keyakinan yang tinggi akan kehidupan yang lebih baik, walaupun diiringi kecemasan kedua orang tuaku dengan kondisi kesehatanku yang tanpa bantuan disana. Belum lama di Malaysia aku kembali hamil anak ketiga. Keluarga gempar dan panik, mengingat kondisi kehamilanku yang sebelum-sebelumnya.  Kamipun memutuskan untuk mengambil pembantu. Alhamdulillah selama kehamilan ketiga ini kesehatanku malahan semakin membaik. Akupun bisa menunaikan amanah-amanah dakwah yang dibebankan kepadaku. Selain itu, karena ingin punya penghasilan sendiri aku kembali berjualan kerudung dan busana muslimah di rumah. Pembantu hanya kuserahkan urusan rumah tangga dan kularang keras membantuku untuk urusan anak-anak.

Walaupun statusku hanya ibu rumah tangga, namun anehnya suami kadang selalu mempercayakanku untuk segala sesuatu hal yang berhubungan dengan menulis dalam bahasa Inggris, mulai dari pemilihan diksi kata, gaya bahasa, bahkan sampai susunan kalimat.  Tak peduli apakah itu resume pekerjaannya, perbaruan CVnya atau bahkan sekedar membalas email bosnya, dia selalu meminta pendapatku. Selain itu akulah pembimbing fashionnya. Jangan harap ia mau membeli bahkan hanya sehelai kaos untuk tidur tanpa keterlibatanku untuk memilihkannya. Begitu juga untuk keperluan pribadinya yang lain termasuk merk pencuci muka, sepatu, parfum sampai minyak rambutnya. Dan kadang yang paling membuatku haru adalah kepercayaannya untuk ikut menentukan keputusan-keputusan besar dalam kehidupan kami. Contohnya, ketika anak kedua kami lahir sebenarnya suami sudah ditawarkan untuk kerja di Malaysia. Tapi karena aku berkeras untuk menolak, maka ia pun menolaknya. Dan ketika anak kedua kami sudah dua tahun, dan tawaran itu untuk kesekian kalinya datang, dan aku mengizinkan, ia pun menerimanya.

Kadang suami tak selalu menyatakannya padaku, tapi kadang kutangkap pendar aneh di matanya. Pendar lembutnya yang mampir di pantulan mataku tatkala aku menyuguhkan  ayam bakar untuk hidangan santap malam, ketika kami berdiri menatap rumah mungil pertama milik kami sendiri, atau ketika melihat anak-anak yang manis dan bertutur kata lembut, atau ketika ia melihatku pulang kelelahan karena membawa seplastik besar barang jualan dari tetangga sebelah, ketika dalam keadaan hamil besar dan susah berjalan aku tetap pergi mengisi pengajian,  bahkan setiap kali aku menyusui anak-anakku dengan ASI ekslusif, ketika aku masih punya tenaga untuk memijit betisnya yang lelah di malam hari setelah kegiatan mengurus rumah tangga yang seakan tak ada habisnya, bahkan juga ketika aku bertahan untuk tidak memakai epidural pada persalinan anak-anak kami dan menggantinya dengan zikir, juga ketika aku harus bolak-balik cek darah, atau ketika dokter berkali-kali menyuntik kedua lututku dengan suntik besar untuk mengambil sampel cairan dalam penantian terapiku. Pendar itu selalu ada. Seiring dengan perjalanan cinta kami yang semakin menguat, semakin kusadari bahwa pendar itu adalah kekaguman. Entah apa yang ia kagumi dariku, pestasikukah? Kesabarankukah? namun aku yakin pendar itu jugalah salah satu yang membuatku bertahan menghadapi segala kondisi.

Ketika sudah dua tahun kontrak pembantu habis dan anak ketiga kami berusia setahun, aku dan suami memutuskan untuk tidak memperpanjangnya. Alhamdulillah saat ini aku hanya mengandalkan tenaga mingguan yang datang setiap minggu untuk bersih-bersih. Seluruh urusan rumah tangga selanjutnya kukerjakan, berikut juga tugas merawat dan mendidik anak-anak. Paling bahagia kalau mendengar anak-anak dengan kejujurannya menyatakan kekaguman mereka ketika aku selalu membantu menjawab PR sekolah mereka. “Wah, Ummi pandai ya kayak teacher”, kata mereka. Ketika anak pertama dan keduaku berdiskusi dan mereka bertanya-tanya tentang suatu topik, segera si sulungku berusul, “Tanya Ummi aja, Ummi kan tahu segala hal”. Atau ketika mengajari mereka menggambar orang. “Duh, aku mau deh menggambar wajah secantik gambar ummi”, komentar mereka terkagum-kagum.”Ummi, ajarain aku main piano seperti ummi, dong”, pinta mereka manja ketika aku selesai menuntaskan satu lagu. “Pudingnya enak banget, Mi. Makasih ya, Ummi. Nanti ajarin aku cara buatnya ya”,harap mereka sambil menyuap habis pudingnya. “Wah, Ummi cantik sekali, deh. Aku seneng deh punya Ummi cantik”, goda mereka ketika kami bersiap pergi suatu sore. Sambil mengatakan kalimat-kalimat itu, pendar kekaguman dari mata polos mereka akan menyapa bola mataku lembut, membuatku serasa bahagia karena merasa berharga di mata anak-anakku sendiri.   

Setahun yang lalu aku mendapat tawaran untuk bekerja secara online part time sebagai konsultan IT di sebuah perusahaan lokal yang langsung kusambut dengan antusias, tentunya dengan izin dan dukungan suami dan anak-anakku. Baru 6 bulan aku bekerja, aku sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi Person In Charge di salah satu bagian dan menjadi Trainer untuk para pegawai baru. Hal itu menurutku adalah sebuah amanah besar mengingat aku sebelumnya mengalami kevakuman pekerjaan selama hampir 7 tahun di bidang itu.  Alhamdulillah, semua itu dapat kucapai tanpa harus meninggalkan rumah dan anak-anak. Dan yang paling membahagiakanku adalah ketika aku bisa naik tingkat menjadi muzakki (pembayar zakat) dengan penghasilanku saat ini.

Amanah dakwah yang tengah kuemban sekarang adalah menjadi Ketua Umum FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia), sebuah komunitas dengan anggota yang cukup banyak yang tersebar di beberapa negara bagian di Malaysia dengan aktifitas yang seabrek, mulai dari pelatihan, kajian bulanan, jalan-jalan bersama, kunjungan ke kilang-kilang (pabrik-pabrik) untuk menemui TKI, menjalin hubungan dengan KBRI dan organisasi lain, rapat pengurus, sampai seminar. Seminar FOKMA yang terakhir melibatkan 300 lebih peserta, yang sebagiannya adalah para TKI yang bekerja di pabrik. Dan ini adalah tahun ketigaku terlibat menjadi Tim Redaksi Buletin dan administrator website FOKMA. Selain itu bakatku dalam menyanyi membawaku untuk diundang sebagai munsyidah di beberapa pertemuan terbatas khusus muslimah beserta saudari-saudariku yang tergabung dalam kelompok nasyid Yasmin. Jangan salah, kami dibayar lho…hehe

Sekarang aku tengah mengandung anak keempat, dan kemungkinan ada sedikit gangguan kesehatan dalam perjalananku mengandungnya. Tapi insya Allah kali ini seperti sebelum-sebelumnya akan dapat kulalui karena aku percaya akan kemampuan yang Allah berikan kepada hambaNya untuk dapat melalui ujianNya.

Sampai sekarangpun pendar-pendar kekaguman itu pun masih kujumpai. Walau kadang ia tak selalu berujung pada untaian kata, tapi sungguh pendar mata itu sudah cukup bagiku untuk mengatakan, ‘I’m so proud of you, Ummi, no matter what…’

Bandar Baru Bangi yang sunyi…
Memasuki hari pernikahan kami yang ke 9 tahun
I’m also proud of you, Abi and the girls….




















0 komentar:

Post a Comment