Breaking News

31 January, 2012

[ Ibu-Ibu Narsis] Aku Bangga Jadi Ibu


Tidak pernah terlintas dibenakku akan jadi seorang ibu sejati, tidak bekerja dan hanya mengurusi rumah tangga. Aku tidak terlahir dari keluarga kaya, tapi aku tidak pernah menyentuh dapur. Ayah Ibuku bekerja, otomatis urusan cuci,nyapu,nyetrika dibebankan ke asisten rumah tangga.Terkadang makan pun aku pesan di warung. Akhirnya, aku hanya tahu masak nasi,air, mie, kadang nasi pun gosong. Memalukan ? ya, aku malu di depan keluarga, setiap ada acara hanya aku yang tidak menyumbang tenaga. Karena semua takut aku merusak masakan atau apapun itu. Jadi, aku hanya bisa diam dipojokan.
Kemudian, terjadilah. Aku sudah SMU kelas satu, mau tidak mau aku harus belajar urusan rumah tangga. Jadilah omelan ibuku keluar masuk telingaku. Untuk urusan masak, terkadang ibu memasak sendiri di sela-sela hari liburnya. Susah payah belajar, yang aku bisa hanyalah memasak nasi,sayur bening dan telur.Benar-benar masakan sederhana. Yang paling kutakutkan adalah bila aku menikah, siapa yang mau punya istri ga bisa masak? Kupikir tidak ada satu pria pun yang bisa menerima kekuranganku yang ampun-ampun deh menjengkelkan ibuku. Tapi ternyata. Tuhan selalu menyediakan satu orang untuk orang lainnya, sesuai kebutuhannya. Aku keras kepala, mau menang sendiri, manja gak bisa masak pula. Tapi dia, begitu gigih memperjuangkan ku. Dia siap terima aku apa adanya diriku. Kubilang aku ga pinter masak, di balas kan bisa belajar pelan-pelan. Kalau memang berat, beli saja di warung. Benar-benar tipe lelaki impianku.
Menikah dengannya (walaupun sudah 4 tahun pacaran), tetaplah butuh penyesuaian. Hampir 3 tahun kami serumah dengan orang tua ku. Hidup masih aman dan lancar, ga perlu ribet mikirin masakan. Cuci baju pake mesin, nyetrika di laundry. Kecuali itu, semua ku kerjakan sendiri. Sampai akhirnya, waktu itu tiba juga. Ayah Ibu pindah ke kampung, supaya bisa mengurus nenek dan kakek, orang tua Ibu.Awalnya masih santai, lalu tiba-tiba aku mulai merasakan beratnya hidup terpisah. Aku harus bisa masak, semua pekerjaan rumah harus dikerjakan sendiri, ditambah mengurus 2 putri yang masih balita. Ya Tuhan, baru nyadar kalau ternyata Ibuku itu Wonder Woman. Walau pun beliau bekerja, tapi beliau masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Rasanya seperti semua dosa dan kesalahanku pada Ibu terpampang di depan mata, seperti film kehidupan diputar utuk direnungi. Cambuk awal buatku berbenah diri.
Apakah sampai disitu saja? Ternyata tidak. Setelah kelahiran putri ketiga kami, suami mendapat beasiswa melanjutkan kuliah S3 di Malang. Oh my God, live far away from home, can I? Mau atau tidak, suka atau tidak, harus mengikuti suami kemana pun dia melangkah. AKhirnya, aku mantap mengikuti suami, plus memboyong ketiga putri kami.Karena aku tidak bekerja, jadi semua terasa ringan.Bukan tidak mau bekerja, awal menikah Ibuku mau aku bekerja seperti halnya Ibu. Agar aku tidak tergantung suami. Awalnya aku mengiyakan, tapi menunggu hingga anak-anak cukup besar, menjadi alasan ku menunda mencari pekerjaan. Lalu kemudian Tuhan memberi lebih dari yang kami harapkan. Rejeki yang cukup, membuat aku dan suami memutuskan aku tidak perlu kerja di luar rumah.Kalau mau, aku bisa berjualan dari rumah. Tidak perlu meninggalkan rumah, agar anak-anak tidak terbengkalai.
Komunikasi yang terbuka antara aku dan suami, memang membuat kami lebih nyaman. Jauh dari kampung halaman, semua kukerjakan sendiri. Aku bangga menjadi Ibu rumah Tangga. Kebanggaanku juga kebanggaan perempuan lain yang memutuskan hal yang sama seperti diriku. Sekarang aku lumayan lihai memasak (merujuk ucapan suami, lebih enak, Alhamdulillah). Jauh lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak, berkat menjadi Ibu Rumah Tangga.
Aku juga selalu mendorong teman-teman yang merasa minder dengan status IRT. Ini adalah pekerjaan seumur hidup, yang jenjang kariernya paling tinggi, dan gajinya Surga (InsyaAllah).Jadi, be proud of your self.Make your family proud of you.



















1 komentar:

jogja said...

semoga selalu bahagia mba :)

Post a Comment