Breaking News

25 January, 2012

Ibu adalah Idola Anaknya


(Mau ikut nimrung nich!.. ku tunggu kripik dari ibu2 yg manis2... eh…kritik, biar saya anggap kripik aja dech biar enak…hehe) IBU ADALAH  IDOLA  ANAKNYA
Oleh: Eunis Khoerunnisa, “Mama, mama  ich… kayak  barbie!..” syakira memujiku sambil tersenyum melihatku yang lagi ganti baju. suamiku yang saat itu ada disana tersenyum mendengar si kecil memuji mamanya ‘kayak barbie’, akupun ikut tersenyum mendengar pujian anakku yang masih polos itu. Ada beberapa kemungkinan kenapa syakira  memujiku dengan mengatakan “mama ich kayak barbie,” pertama karena aku lagi ganti baju…syakira sering main barbie dan selalu mengganti baju barbienya itu, dan yang kedua karena aku  ibunya, sejelek apapun  seorang ibu (terutama fisiknya), tapi aku yakin seorang akan selalu jadi idola buat anak-anaknya. Dari peristiwa itu aku bener-bener yakin bahwa ibu adalah idola bagi anaknya. Oleh karena itu seorang ibu harus bener-bener menjaga perkataan dan sikap di depan anak-anaknya, karena sekecil apapun gerak gerik  ibu akan selalu ditiru oleh anaknya, karena anak itu adalah sang peniru yang ulung. Benar menurut agama “ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya”. Mereka tahu mana mata, mana telinga mana hidung,  dan lain sebagainya dari ibu, mereka bisa bilang mam, papa, diajari oleh ibu, diajari cara makan, cara minum, cara buang hajat dan hal hal yang lainnya, yang pertama kali mengajarkan adalah ibu. Maka pantaslah dalam suatu riwayat di ceritakan ada sahabat Nabi yang bertanya “Ya Rasulalloh, siapakah yang patut aku mulyakan di dunia ini?” Nabi menjawab “ibumu!” “ibumu!” dan “ibumu!” sampai tiga kali baru “ayahmu!”. Seperti ibu rumah tangga kebanyakan setiap hari aku melakukan rutinitas di rumah dari mulai bangun jam 3.00, kadang kadang aku bangun dari jam 2.00, sebagai seorang muslimah aku selalu berusaha meluangkan waktu untuk menghadap Alloh pada waktu malam hari, selain melaksanakan perintahNYA untuk bangun di malam hari alasan lainnya adalah karena di siang hari aku tidak bisa beribadah bener bener khusuk seperti di malam hari, karena anakku kembar dan usianya baru 3,7 tahun dan aku mengurus mereka sendiri tanpa ada khodimat (pembantu), suami pun jarang ada di rumah, kalaupun ada di rumah tidak bisa membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, atau sekedar mengajak main nak-anak, karena suamiku kerja malam berdagang di pasar induk caringin, jadi walaupun ada di rumah dia istirahat (tidur). kadang-kadang sebelum adzan subuh aku sudah mulai mengerjakan pekerjaan rumah seperti beres-beres rumah, ngepel atau ngerendem cucian. Adzan subuh pun berkumandang, akupun bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan solat,  baru selesai salam beres solat, ”mama… mama dimana?” ternyata anakku sajida sudah bangun, “mama di musolla nak…” yang namanya anak kecil selalu mencari ibu ketika dia bangun. “Mama…mau mimi… tapi mama bobo!” sajida minta dibikinin mimi juga minta ditemenin mimi sambil bobo. “Dah pagi nak, bangun yuk!!!...” matahari sudah menampakkan dirinya aktivitas selanjutnya mandiin anak kembarku sajida dan syakira trus bikin sarapan buat mereka sebelum mereka diantar ke sekolah. Setelah mengantar mereka ke sekolah saya harus mencuci dan masak, selang beberapa saat datang ibu ibu yang mau privat Al-Qur’an, setelah selesai mengajar ibu ibu sayapun langsung jemput si kembar ke sekolah. Disela sela kesibukanku mengerjakan pekerjaan rumah yang padat banget dari mulai bangun di malam hari sampai menina bobokan anak-anakku, aku selalu menyempatkan diri untuk mengajak  mereka belajar mengaji Al-Qur’an, menghafal asma’ul husna, mengenal nama-nama Nabi, nama-nama malaikat, bernyanyi dan lain lain, supaya mereka tahu tentang agama  sejak kecil, karena suamiku bercita-cita mengirim mereka ke pesantren sejak mereka usia SD, jd aku harus benar-benar memanfaatkan waktu untuk membimbing mereka dan mengenalkan agama kepada mereka sebelum dikirim ke pesantren yang jauh, dan supaya mereka terbiasa dengan kegiatan belajar, karena kegiatan di pesantren terus terus dan terus belajar. Sebagai seorang ibu rumah tangga biasa aku tidak mau melewatkan waktu sedikitpun untuk berleha leha, aku harus semangat dan menjadi tauladan bagi anak-anakku, aku selalu mengkuti pengajian ke majlis-majlis ta’lim yang ada di sekitar rumahku, walaupun rada ribet bawa dua anak yang masih berusia 3,6 tahun, harus bawa minum, makanan, dan lain lain, dan tidak jarang lagi enak-enak duduk dengerin ceramah anakku nangis minta dianterin jajan, tapi tekadku bulat aku mau menuntut ilmu dan mengenalkan ilmu-ilmu agama kepada anak-anakku, karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya dari mulai ada dalam buaian seorang ibu sampai liang lahat (mati). Kadang-kadang pada waktu solat aku mengajak mereka melaksanakan solat berjamaah, selesai solat aku selalu mendo’akan mereka sembari memeluknya satu persatu, ku elus –elus punggungnya sampai tulang ekornya, karena Nabi pun mencontohkan seperti itu. Selain mendo’akan mereka ku coba juga membuat jejak cinta  buat anak-anakku, karena kebiasaan seorang ibu atau ayah akan selalu diingat oleh anak-anaknya sampai kapanpun, apakah itu perlakuan baik seorang ibu atau sebaliknya, tergantung kita menginginkan seperti apa anak-anak  mengingat kita dikemudian hari, dan aku yakin tidak ada satupun orang tua yang menginginkan anaknya mengingat kebiasaan buruk mereka. Oleh karena itu buatlah jejak cinta buat mereka. Jadilah ibu yang selalu diidolakan oleh anak-anaknya.












0 komentar:

Post a Comment