Breaking News

30 January, 2012

Hujan Kemis Pagi__ by: Sikuncung Shyshycat


Turun sudah jawaban untuk mendung yang menggelayut sedari lepas subuh. Padahal pagi ini sudah kuniatkan mengajak anakmu mengitari kompleks rumah neneknya, memperdengarkan siul centil stengah lusin love-birds dlm sangkar pd sebuah rumah dekat kantor kelurahan, menjawab setiap sapa ibu2 yang berpapasan dan pastinya melemparkan senyum untuk kalimat langganan "lucu bgt.. Ndut ya.. Brp kilo?".

Hujan yg seperti ini rasanya selalu membuatku berfikir tentang tirai dan selimut.. Juga kau tentunya.
Tentang hujan lebat kelabu mengguyur minggu pagi yang memaksa kita tak beranjak dari dipan, tentang selimut yang siap kita tarik lagi selepas solat subuh kesiangan, tentang tengkuk yang menyerah saat dipeluk perlahan.

Satu jam sudah aku mendengar jutaan hujamnya di atas genteng, berderap laksana sepatu lars tentara menginjak-injak telinga, memaksa melena khayal tentang pagi minggu dingin kelabu.
Kau, katamu tak kau lihat gerombolan sepatu lars itu.
Ya ya, kita memandang kelabu yang berbeda.
Perempuan di stasiun tv tempatmu bekerja berbicara tentang air bah yang akan menenggelamkan jalan-jalan jakarta.
Fyuh.., kecil kemungkinan ada selimut dalam fikiranmu, dan tirai untuk kau pandangi sebagai kelabu yang syahdu, tak pula tengkuk untuk dipeluk.

Bagaimanapun juga, hujan seperti ini selalu menggumamkan pesan-pesan untukku; tentang mengikat asa dengan simpul mati, tentang memeluk rasa dalam ketiadaan raga.
Lalu janji selalu bersamapun akan tertunaikan, bukan dalam larik yang terlalu indah dan seirama, namun dalam doa, harmoni senyap, spasi, dan kejelian kita memangkas sangsi-sangsi.

Kembali kutarik selimut kita sampai bahu.
Langit menggelegar, didadaku subur rindu seperti anak dara merindui pacar.


140111












0 komentar:

Post a Comment