Breaking News

31 January, 2012

Hari Bermain Nasional


Anak sulungku, Rizki, senang sekali bermain. Namun begitu, ia juga gemar membaca dan rajin belajar. Meski baru kelas dua SD, aku sudah menerapkan sistem “play hard, study hard” padanya. Dalam istilahku, anak perlu bermain sebanyak-banyaknya, dalam berbagai bentuk kegiatan, sekali pun saat belajar. Belajar bisa sambil bermain, dan bermain bisa sambil belajar. Oleh karena itu, tak heran, di lap top ku, bukan hanya berisi tulisan atau proposal pekerjaan, tetapi juga permainan-permainan matematika atau bahasa inggris yang aku unduh secara gratis atau membeli dari internet.

Hari Sabtu, tanggal 1 Mei lalu, aku dan anak-anakku duduk di depan televisi. Khusus Sabtu dan Minggu, kuperbolehkan anak-anak menonton televisi siaran Nasional. Di hari-hari kerja, selama satu jam, mereka hanya kuperbolehkan menonton televisi siaran luar negeri seperti Play House DisneyCartoon Network, dan Boomerang. Program luar negeri pun hanya program anak-anak, seperti BEN-10Upin-Ipin dan Scooby Doo. Untuk hari Sabtu-Minggu, mereka boleh menonton televisi selama 2 jam, untuk saluran luar negeri mau pun nasional. Khusus program siaran nasional, mereka hanya kuperbolehkan menonton program “Jika Aku Menjadi….”, dan kebetulan mereka suka.

Sore itu, usai ikut menyaksikan acara kesukaan mereka, giliranku menonton program berita di salah satu stasiun televisi nasional yang menayangkan isu seputar Hari Buruh Se-dunia (MayDay). Di layar televisi terlihat gelombang massa buruh memadati Bundaran HI. Jalan sekitar Sudirman-Thamrin terlihat macet. Ribuan Polisi berjaga-jaga. Ratusan Pedagang asongan, memanfaatkan momen itu untuk mengais rezeki.
Melihat tayangan itu, anakku Rizki bertanya: “Ma, hari Buruh itu apa?”.
“Oh….itu hari libur yang digunakan untuk menghormati para buruh”.
“Buruh itu, apa sih, Ma?”, tanya Rizki lagi.
“Buruh itu orang yang bekerja untuk mendapat upah. Biasanya orang-orang yang bekerja di pabrik, ladang, pertambangan, dan pelabuhan,” jawabku.
“Kenapa mereka berparade ke jalan-jalan, Ma?”, tanyanya lagi.
“Mmm….”, aku berpikir, mencari kata-kata yang mudah untuk menjelaskan tuntutan buruh kepada anakku yang masih berusia 8 tahun. “Mereka itu berkumpul untuk saling bertemu dengan semua buruh di Indonesia. Supaya mereka bisa meminta apa yang mereka butuhkan kepada pemerintah”, jawabku akhirnya.

Anakku diam sejenak, lalu ia bertanya lagi: “Memangnya, mereka mau minta apa sama pemerintah?”. Aku berpikir sejenak…..hm…bingung juga aku!
“Ya pasti mau minta supaya upahnya lebih banyak!”, jawabku sekenanya.
“Ma, pemerintah itu yang memerintah Indonesia kan? Yang memerintah Indonesia kan Presiden. Berarti mereka minta upah banyak ke Pak Presiden ya Ma?,” Rizki mulai menganalisa. Aku cuma mengiyakan, sambil membesarkan volume televisi dan berlagak simuk menyimak tayangannya.

“Ma….ma!”, tiba-tiba Rizki kembali bersuara. “Aku punya ide!”, katanya dengan wajah gembira. “Bagaimana kalau kita usulkan ke Pemerintah buatkan hari libur untuk bermain. Jadi, anak-anak di seluruh Indonesia bisa berkumpul untuk bermain….! Lalu, kita minta sama Presiden untuk menyediakan mainan….sebanyaaaakkkkk-banyaknya!”.

Aku melongo, tapi takjub dengan pemikirannya. Kalau dipikir lagi, iya juga ya? Lahan bermain anak-anak saat ini kan sudah tidak ada. Di kota-kota besar, sulit menemui anak-anak bermain layang-layang, petak umpet, dan duyung bulan. Jadi tak ada salahnya, jika Pemerintah mengadakan suatu kegiatan bermain yang bermanfaat bagi anak yang diadakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Memang, kesannya berlebihan….tetapi itu keinginan seorang anak, yang ingin bermain bersama teman-temannya dari seluruh Indonesia. Dan, siapa tahu….beberapa tahun ke depan….keinginan itu bisa terpenuhi? (Fey, 8 Mei 2011).





0 komentar:

Post a Comment