Breaking News

25 January, 2012

Hanya fiksi


Berbekal tekad,harapan dan impian masa depan...dia pergi juga walau tanpa restu keluarga.Tak dihiraukannya jarak yang teramat jauh dengan orang-orang yang menyayanginya,tak dipedulikannya jenis pekerjaan yang akan dijalaninya.Senyumnya tetap merekah saat kuucap selamat jalan. Binar matanya  begitu bersinar bahagia karena akhirnya dia dapat pergi juga setelah menunggu hampir 9 bulan di penampungan,menunggu visa turun, katanya.
Aku sempat terheran-heran dengan semangatnya yang tak surut walau harus hidup terpenjara dalam penampungannya tanpa diperbolehkan pulang. Hanya aku,sahabatnya dan anggota keluarganya yang sesekali dapat menjenguknya ke sana.Ah, aku miris melihat keadaannya saat itu.Makan seadanya, mandi rame-rame,bangun dini hari, dan harus bekerja juga di penampungan itu tanpa bayaran.Sempat juga pihak keluarga memintanya untuk pulang. Tapi dia bilang, tidak bisa. Paspor sudah dibuat. Kalau batal,pihak keluarga harus membayar.Haa?aku tak banyak tahu tentang itu.Tapi,sampai hampir 9 bulan??kalau ibu hamil,sudah saatnya bersiap untuk bersalin.Dan aku ikut gembira saat kutahu dia akan berangkat naik pesawat pagi itu.Aku tak dapat menolak hati kecilku yang ingin melepasnya di bandara sebagai wujud kepedulianku padanya.
Lama tak terdengar kabarnya setelah kepergiannya menuju tempat impiannya.Hampir 3 tahun.Ya,tak terasa 3 tahun aku tak tahu tentangnya karena tenggelam dengan kesibukanku..Tiba-tiba saja, aku ingin sekali menanyakan kabarnya pada keluarganya. Adakah dia masih di sana ataukah sudah kembali di tengah keluarga tercinta?
Ibunya menangis hampir meraung saat kutanya kabarnya.Lalu beliau membawaku ke salah satu kamar yang letaknya di belakang rumah.Ya Allah..sahabatku kini memandangku dengan tatapan kosong..ada senyum di sana,tapi bukan senyumnya yang selama ini aku kenal.Badannya jauh lebih kurus dan tak terurus.Aku tak percaya dengan apa yang aku saksikan.Ada rasa sakit dan sedih teramat dalam menyeruak dalam hatiku..Siapa yang tega melihatnya seperti ini?Tak terasa air mataku mengalir deras mengiringi ingatanku satu waktu dulu saat dia bercerita tentang harapannya,impiannya,cita-citanya...Dia ingin membahagiakan ibunya walau harus berkorban untuk jauh dari ibunya. Untuk sementara,katanya. Tapi siapa sangka kini dia malah membuat ibunya bersedih setiap hari...

0 komentar:

Post a Comment