Breaking News

25 January, 2012

Hadiah Hari Ibu Iqbal


"Bu..Iqbal buka kaus kaki yaa..jagain..iqbal mau sholat " ujar Iqbal siswa kelas wortel di Rumah Autis Tangerang. Anak laki laki berumur 14 tahun dengan Hendaya Perkembangan Mental sedang itu kemudian melangkah menuju kamar mandi. Segera saja saya memuji dia dengan dua jempol dan senyum termanis yang saya punya karena Iqbal mau shalat dzuhur tanpa disuruh.

Tak lama kemudian iqbal keluar dari ruang kelasnya seusai sholat dengan wajah yang kuyu. " Bu Iqbal baca doa buat mama ". " Baca doa ? Doa apa ? " tanya saya. " Allahumma bariklana.." jawabnya lugu. Saya tertawa miris, saya pun merubah pertanyaan " Iqbal doanya biar mama apa ? ". Segaris senyum di wajah polos itu sebelum ia menjawab " Biar mama sembuh ". Seperti dikomando beberapa terapis yang ada di ruang SI pun menarik napas. Kami semua menahan sesak yang tiba tiba membuncah di dada. Iqbal ingin mamanya sembuh bukan karena ibunya sakit parah tapi ibunya baru saja menjadi korban kekerasan ayah iqbal pada hari Minggu lalu. Dahinya bocor dan mendapat sepuluh jahitan karena dipukul oleh ayah iqbal. Tindak penganiayaan itu berlangsung di depan mata Iqbal.

Menurut cerita bu Ana guru pendamping kelas wortel hari selasa kemarin, dua hari sesudah kejadian iqbal terus meracau sepanjang belajar, Ceritanya memang tidak runut karena daya analisa dan nalar yang terbatas membuatnya sulit bercerita runut. Yang berhasil kami tangkap adalah kepala ibunya berdarah karena dipukul ayahnya. Ocehan Iqbal pun semakin menyesakkan dada. Seolah ingin menumpahkan seluruh rasa takut dan amarahnya iqbal meracau bahwa ayahnya sudah mati, atau beberapa saat kemudian ia bilang ayahnya ditangkap polisi. Kami tak bisa menyimpulkan kronologis kejadiannya karena kecuali kepala ibunya berdarah dipukul ayahnya dan kemudian ayahnya kabur.

Terdorong rasa penasaran saya pun menunggui Iqbal hingga ibunya datang menjemput. Dari mulut ibunyalah saya mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Ternyata  ayah Iqbal selingkuh, ia membawa pulang seorang perempuan asing ke rumah mereka. Sebagai seorang istri tentu saja mama Iqbal marah. Alih alih ia mendapat permohonan maaf, mama Iqbal malah mendapatkan pukulan bertubi tubi hingga dahinya luka dalam dan tulang tengkoraknya terlihat. Seluruh peristiwa itu berlangsung di depan mata Iqbal dan Nabila adiknya yang baru berusia 3 tahun. Melihat ibunya bersimbah darah anak laki laki dengan IQ 50 itu segera merangkul ibunya dan menuntun adik kecilnya keluar rumah. Tak ayal ia pun mendapat hantaman di tengkuk dan dadanya tapi Iqbal terus melangkah keluar rumah menyelamatkan ibunya menuju rumah bibinya. Anak dengan kendala tumbuh kembang itu menjadi Pahlawan yang sesungguhnya.

Andai saja Iqbal belum aqil baligh ingin rasanya saya memeluk iqbal dan merengkuh semua dukanya. Namun Iqbal sudah remaja, pasti ia akan bingung bila saya memeluknya sementara dikelas ia diajarkan batasan bergaul laki laki dan perempuan. Akhirnya saya hanya bisa mengatakan pada Iqbal " Ibu Risris Sayang Iqbal " dengan tatapan mata berkabut. Senyum lugunya mengembang kemudian ia berkata " Bu nanti dirumah Iqbal Sholat lagi yaa..Iqbal doain mama lagi yaa…" Saya pun mengangguk kuat kuat. Ya sayang..kamu boleh sholat sesering apapun. Adukan semua dukamu pada Sang Maha Adil.


*Teringat catatan seorang teman tadi pagi. Hari Ibu diperingati sebagai tonggak bersatunya seluruh organisasi perempuan pada tahun 1928 untuk memperjuangkan kesetaraan laki laki dan perempuan serta menghapus penzaliman terhadap perempuan dan anak anak. Sebuah Ironi yang masih terjadi hingga delapan puluh tahun kemudian.







0 komentar:

Post a Comment