Breaking News

30 January, 2012

GOOOL....MUSYAFFA!


dari berbagai sudut pandang kukoleksi dalam sebuah buku.  Sayang buku itu sudah lama hilang.  Tetapi ada salah satu kalimat bijak dari seorang Kahlil Gibran yang begitu dikenal para orang-tua yang selalu kuingat: "....Engkau ibarat sebuah busur dan anak-anakmu adalah anak panahnya.  Engkau bisa mengarahkan mereka saat melepasnya, tetapi engkau tidak berhak memutuskan tujuan akhir mereka....".
Memang kalimat yang begitu indah....
Karena kalimat ini begitu "laris" dikutip sebagai kalimat bijak, saya berasumsi tentulah banyak yang sepaham dengan pemikiran Kahlil Gibran.  Namun sayangnya, seringkali kesepahaman kita ini tidak diikuti oleh konsekuensi dan konsistensi kita secara praktis di kehidupan nyata.
Kita masih terlalu sering menggunakan otoritas kita sebagai orang-tua dengan derajat yang bervariasi.  Sebagai busur, kita kerap dengan begitu berkuasanya berusaha menghambat laju anak panah yang kita lepaskan sendiri.  Bahkan di level yang paling ekstrim, kita memilih untuk tidak melepaskan anak panah itu ketika mereka sudah berani menyuarakan arah mana yang ingin mereka tuju. 

Bungsuku, Muhammad Musyaffa', seorang lelaki kecil berusia tiga tahun.  Menurut "orang pintar", di usia ini, anak-anak mulai menunjukkan "keakuannya".  Mereka cenderung egosentris dan berkeras dalam bersikap.  Yah, rupanya Musyaffa' pun seperti itu.  Hanya ada sebuah catatan spesial, ia termasuk anak yang mengalami "delayed-speech".  Di usia tiga tahun lebih dua bulan ini, ia masih cadel sekali dan belum komunikatif.  Keistimewaannya yang satu ini kadang membuat kami "lupa" bahwa dia "sudah besar", "bukan bayi lagi", dan sudah punya kemauan sendiri.  Karena kata-kata yang diucapkannya belum jelas, seringkali kami salah memahami. Musyaffa' pun jadi sering uring-uringan (maafkan kami, Sayang....).  Tetapi kadang-kadang "dengan sengaja" kami mengambil keputusan sepihak karena ia belum bisa mengungkapkan keinginannya secara verbal (maafkan kami lagi, Honey....).  Tak heran akhirnya Musyaffa' menggunakan teknik egosentrisnya untuk mengungkapkan kemauannya.

Seperti sebuah "kasus" yang satu ini:  "Baju Bola". 
Abi (ayah)nya Musyaffa' termasuk salah satu penggemar bola.  Di liga yang mencuatkan nama Irfan Bachdim lalu, ia membeli beberapa potong seragam bola aneka warna untuk Musyaffa'.  Awalnya Musyaffa' enggan mengenakan baju bola itu.  Abinya pun dengan semangat merayunya untuk mau mencoba memakainya.  Aku pun ikut-ikutan semangat merayu.  Habis, senang juga kalau melihat anak kecil pakai baju bola...kiuuut!
Untuk memompa semangat Musyaffa', kami sekalian memberinya beberapa kata-kata baru: "Keren", "Ganteng", "Cakep", disertai acungan jempol dan ciuman mesra,
"Wahh....kalau Musyaffa' pakai baju ini keren lhoo....coba tirukan umi: Ke-ren..."
"Keee....yen!"sahut Musyaffa'.
"Pakai yang warna merah ini, Musyaffa jadi ganteng, ya...ganteng....apa?"
"Gaaannn....teng!"Musyaffa' menirukan.
Kami pun bertepuk-tangan dan memeluk-menciumnya.
Anak mana yang tidak tergoda oleh 'provokasi' ini.  Akhirnya Musyaffa' pun mau mengenakan baju bola berwarna merah a la MU itu.
Ternyata respon lingkungan juga positif.  Para tetangga banyak yang menyukai kelucuannya saat memakai baju bola.  Anak-anak lain pun banyak yang memakai baju bola.  Musyaffa' pun semakin menyukai baju bola.  Abinya sangat senang sehingga membelikan beberapa baju bola lagi.  Bahkan ketika pulang dari dinas luar-kota pun, oleh-olehnya baju bola!

Akan tetapi perkembangan selanjutnya jadi heboh.  Musyaffa' tidak mau memakai baju yang lain selain baju bola, terutama yang berwarna merah dan biru favoritnya.  Seiring berlalunya liga AFF, berbulan kemudian, orang sudah agak jemu dengan "suasana bola".  Demikian juga kami.  Tetapi tidak demikian dengan Musyaffa'.  Dia betul-betul tidak mau mengenakan baju yang lain.
Begitu pun, ia cuma mau memakai yang berwarna merah atau kuning.  Cuci-kering-pakai, cuci-kering-pakai....sampai dekil sekali!
Semakin gigih kami merayu ia memakai baju yang lain, semakin "keukeuh" juga ia menolaknya.
Pernah, kusembunyikan semua baju bolanya.  Ketika membuka lemarinya, Musyaffa' pun bertanya,
"Ju...Ya...nNa?" (Baju bola mana?)
"Wah,mana ya? belum disetrika ya, mbak?" aku berlagak blo'on.
"Belum kering semua!"sahut pengasuhnya (Astaghfirullah, bohong berjama'ah nih!).
"A-mauuu....a-mauuu...ju-ya!" (Nggak mau, nggak mau, baju bola!).
Aku pun merayunya dengan mengeluarkan beberapa baju lain.  Ada yang bergambar Ipin-Upin, Bernard Bear, Sponge Bob....itu semua kartun yang suka ditontonnya.  Tetapi tidak ada yang kena di hatinya.  Ia sempat memakai baju Ipin-Upin, tak lama...
"Pas...yepass...." (lepas, lepas...)
Ganti baju Bernard Bear,
"Pas...yepass...."
Tiga baju yang lain,
"Pas...yepass...."
Akhirnya ia memilih baju masa bayinya, kaus kutung oranye dan celana biru yang sudah kumal sekali.  Halaaah.....aku lemas deh.
Dengan lunglai dan berkeringat, diam-diam kukeluarkan baju bola dari tempat persembunyiannya, 
"Ini dia, ternyata ada...." (bohong lagi!)
"Yee....Yaa!!!!" (horee, bola!)
Kutatap mbak pengasuh yang memakaikan baju bola pada Musyaffa' yang tampak senang sekali.
Menang telak! GOOOL.....MUSYAFFA'!

Begitulah gambaran ketidakkonsistensi dan ketidakkoknsekuensian kami sebagai orang-tua.  Kami sendiri yang mengenalkan sesuatu hal berikut memprovokasikan kebaikan hal tersebut pada anak, kami juga yang berusaha mereduksinya.  Kami lupa tindakan kami ini bisa membuat anak mengalami kebingungan.  Untunglah kekuatan Musyaffa' mempertahankan kemauannya kali ini bisa mengalahkan ego kami.  Kami pun harus mengalah dan menahan berbagai perasaan saat kemana pun kami pergi bersamanya, ia selalu memakai baju bola.  Ke mall, ke mushola, ke sekolah play-groupnya (untung tidak ada aturan seragam!), juga ke hajatan.  Umi-abi pakai batik sarimbit, Musyaffa' pakai baju bola dekil! Nah lo....

Ar Royyan, 10 Mei 2011
by Sofia Sinta Wardani

PS: Mohon koreksi ibu-ibu hebat!






















0 komentar:

Post a Comment