Breaking News

30 January, 2012

Gemblong Mama



Dini hari, kala kami masih terlelap mama telah siap sedia mengolah racikan yang telah disiapkan kemarin sore, 3 liter beras ketan yang telah di rendam, Gula merah, dan kebutuhan lainnya sudah menemani mama didapur. Dandang hitam, pengorengan tebal dan kompor karatan adalah saksi dan teman mama dalam pemperjuangkan kebutuhan kami untuk membantu Bapak membiayai kebutuhan bersekolah. Sedangkan kelapa parut adalah hasil tanam dari kebon kami yang telah menghasilkan banyak kelapa. Dua pohon kelapa tersebut adalah pemberian pemerintah daerah yang diberikan untuk mama bagi kader PKK yang telah membantu mensukseskan program keluarga berencanam (KB) dipelosok desa, dan mama adalah satu diantaranya. Inilah pembuktian mama, selain mengurus rumah tangga masih menyempatkan diri untuk bergabung dalam kebutuhan sosial sebagai kader yang peduli untuk memfasilitasi pemerintah memberikan training dan memperkenalkan KB.

Mama mengerti sekali keletihan kami meski  hanya bermain, belajar dan membantu seadanya tapi mama tidak mengharapkan kami turut serta membantu didapur dari awal. Ketika olahan telah siap sedia dan sebelum kurun waktu  30 menit menjadi makanan, tibalah saatnya mama membangunkan aku dari 7 bersaudara… yaa… kamilah marketingnya sedangkan mama yang menjadikan bahan menjadi olahan dan siap saji untuk dijual. “Anik, ayo bangun” pinta mama padaku, dengan sigap kuhapus ngantukku dan berusaha membuka lebar kedua bola mataku hingga terlihat wajah mama yang tersenyum di antara redupan dan sinaran lampu kuning dengan watt kecil yang menyinari di antara wajah kami. “mama, udah jam berapa sekarang mah….?” Tanyaku. “Sekarang jam 4 pagi ayo siap-siap dan mandi sebelum adik-adikmu bangun lebih dahulu dan jangan lupa sikat gigi”. Aku lah anak pertama dari 7 bersaudara, dengan usiaku 15 tahun memiliki 7 adik laki-laki dan perempuan.  Papa masih bekerja dimalam hari dan akan pulang dini hari kisaran jam 5 pagi. Sebagai anak pertama aku diminta mama memawakilinya dalam mengatur adik-adik. “mama, apa aku sudah boleh bangunkan adik sekarang”, sambil benahi meja makan agar kami berkumpul duduk disana. “boleh, bangukanlah”, seru mama. 

Kulihat jam telah menunjukan jam 4.20pagi, satu persatu adik-adik kubangunkan, terutama laki-laki terlebih dahulu agar mereka dapat membantuku mengurusi kebutuhan kami sebelum berjualan. Terlihat dari kejauhan mama telah membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil sedang …. Yaaa gemblong favorit kami telah di olah….gemlong itulah yang akan kami jual keliling dan ditawarkan pada lingkungan sekitar kadang kampung sebelah.  Semuanya telah berkumpul dan telah siap sebagian dari kami membantu mama mengoreng gemblong, dan adik-adikku lainnya ada yang mempersiapkan sarapan pagi teh hangat manis dan singkong rebusan ditemani nasi goreng sisa nasi kemaren juga menu favorit kami. “maaf yaa, kalo nasinya udah agak dingin tadi mama masaknya agak awal”, berbarengan kami bersahutan: “nga apa mah, enak kok, heem makasih mah”. 

3 tampah di isi masing-masing dengan sekitar 35 gemblong dalam sekali olah mama dapat menghasilkan sekitar 110  gemblong yang siap saji, kami berjualan berpasangan dan aku diminta mama membawa kedua adik kecilku agar mereka dapat terjaga dengan baik, sedang Mia dan Adi serta Rama dan Lani. Setelah kami telah siap sedia, doa dan cium tangan mama tak pernah kami lupakan berangkatlah kami ketujuh dengan arah yang berbeda. Kepergian kami berjualan bukan waktu untuk mama peristirahat tetapi mama manfaatkan untuk berbenah dan mengurus kebutuhan kami kala tiba. Sekitar jam 6 pagi kami telah hilang dari pandangan mama. Ada cerita dari masing-masing kami kala pulang dan berkumpul untuk menyerahkan hasil jualan. “maaf, mah tadi ada yang hutang katanya nga punya uang untuk bayar katanya dia janji mau bayar besok kalo pepayanya dah kejual dipasar” kata Adi yang berpasangan dengan Mia. “Ngak apa kasihan mereka juga pengen sarapan” sambut mama. “mah, tadi aku sedih karena dijalan ada yang manggil anaknya tukang gemplong karena ngomongnya kasar sambil mengejek aku”. Mama terdiam sejenak dan kembali katakana: “ngak apa sayang, buat mama yang penting kita dalam kebersamaan dan berusaha dan tidak merugikan orang lain”. Mama begitu tabah menjalani semuanya, meski kadang ada keluh dari raut wajahnya, tetapi tidak pernah di ungkapkan lewat kata-kata. Yang kutahu dan selalu ku ingat mama mengajarkan bagi kami untuk mandiri dan berusaha dan tidak banyak menuntut atas sesuatu yang sulit untuk didapat dalam kondisi yang tidak memungkinkan.

Kini mama kukenang sebagai guruku dalam mengajarkan tabiat ikhlas dalam penerimaan dan pemberian Tuhan. Serta menjadikan aku sebagai pemimpin dalam menjalankan suatu tugas penting.

penulis: levina nyt

0 komentar:

Post a Comment