Breaking News

31 January, 2012

Fragments from The Past - The Story


1994 – 1995 (1 SMA)

Pagi ini aku belum melihatmu. Celingak-celinguk memutari kelasmu beberapa kali belum juga ada. Mau bertanya pada yang lain, malu juga. Setelah lewat jam pelajaran pertama, dalam perjalanan ke kamar kecil, baru cengiran khasmu kudapati.

“Telat nih, dihukum dulu deh tadi …” aku tersenyum. Khas banget kamu.

Kita mengobrol berdua seperjalanan kembali ke kelas. Hatiku sudah menghangat lagi. Jika sehari saja aku tak menjumpaimu, rasanya seperti mau mati saja.

Menurut temanku kamu tidak istimewa. Standar saja. Satu kelebihanmu, kamu membawa keceriaan di setiap harimu. Dekat denganmu berarti tawa berderai-derai dan mata berair karna terlalu banyak tertawa. Kamu supel, temanmu banyak. Prestasimu tidak menonjol tapi semua orang di sekolah ini rasanya mengenal kamu.

Aku suka sama kamu. Meski beberapa kali beberapa temanku menertawakan kekonyolanmu, aku tak peduli (lagian aku ga berani bilang sama siapapun kalau aku suka kamu). Bagiku, kamu tuh keren. Kamu punya style sendiri. Kamu tuh ajeg, orang mau condong ke tren ini, itu tapi kamu engga. Aku suka cara kamu membetulkan rambut yang terjatuh ke dahi macam superman itu (yah sebenarnya engga juga, abis kamu kerempeng ga berotot kayak dia).

Aku suka cara kamu tertawa lepas. Aku suka binar bola matamu. Tak peduli lagi musim ulangan, atau guru-guru lagi terkena syndrome marah-marah, kamu ceria terus. Pas sama aku. Aku juga sukanya haha hihi. Jadi deh kita pasangan teman yang suka bikin heboh sendiri.

Sayangnya, aku ga suka hanya jadi temanmu.

1995 – 1996 (2 SMA)

“Kenapa?” tanyaku.

“Ga sih, ga kenapa-napa,” jawabmu.

“Kok murung?, ke kantin yuuk” ajakku. Kamu menggeleng.

“Trus mau apa?”

“Mau cerita aja.”

Aku ngedeprok menunggu ceritamu. Kamu pun bercerita dan aku pun perih. Pertamanya aku perih karena matamu sedih. Yang kedua, aku perih karena kamu bilang kamu menderita, you were dying. Yang ketiga, aku perih karena kamu sekarat karena cinta. Terakhir, aku semakin perih karena sekaratmu karena seseorang … yang bukan aku.

“Apa lagi yang bisa aku lakukan? Sudah semua cara aku coba …” kamu meremas-remas rambut. Ow, baru aku tahu bahwa gadis itu sudah menolakmu untuk ketiga kalinya. Aku sudah lupa kamu pernah cerita tentang dia. Kupikir kamu sudah lupa. Setiap hari kita bersama, kupikir sudah teralihkan hatimu darinya. Aku salah. Kamu tetap menginginkannya.

Aku ikut-ikutan meremas-remas tangan. Serba salah. Kubayangkan wajah si gadis. Dasar bego! Kutukku dalam hati. Lagian kenapa juga kamu ngotot terus, toh sudah jelas si gadis sering terlihat berduaan sama cowok lain kelas. Apa sih yang kamu lihat darinya? Perasaanku sih biasa aja. Ga popular, ga gaul, engga-lah pokoknya. Tuuh kan, aku jadi ngomelin orang tanpa alasan.

Pelan-pelan aku mencoba menghiburmu. Aku bilang, sudahlah kan masih banyak gadis yang lain. Kalau kamu ngotot gitu, bisa-bisa terjadi perang Baratayuda antara kamu dan cowok-nya si gadis itu. Lagian, malu-maluin sih, gara-gara cewek berantem. Kamu mengangguk-angguk. Perlahan cengiranmu balik lagi. Aku senang melihatnya.

“Thanks ya, aku senang deh punya teman kayak kamu.” Kamu tersenyum.

Hari-hari pun berlalu. Kita tetap bersama, berdua. Organisasi bareng, nongkrong bareng. Semua berjalan seperti biasa. Kamu masih tetap cengar-cengir, aku masih tetap haha hihi.

Aku juga masih sama.

Menunggu kamu.

1996-1997 (3 SMA)

Seorang teman menggamitku, “Jangan pulang dulu, ntar bakal ada alumni dateng,”

“Ngapain?”  tanyaku.

“Buat ngurusin acara itu …” temanku menjelaskan. Oh, tentu saja. Aku lupa. Sudah lama kami mengontak para alumni untuk dimintai pendapat soal keberlangsungan sebuah acara. Sekalian reunian. Bergegas aku mencari anggota yang lain, jangan-jangan mereka juga lupa. Aku sekarang ingat.

Yang aku lupa adalah, kamu mungkin akan datang, karena kamu memang lebih duluan lulus daripada aku.

Dan memang kamu ada di sana.

Jantungku masih melonjak, padahal telah setahun berlalu. Aku juga sudah pasrah. Sampai akhir, tak juga ada perubahan status antara kita.

Selama acara pertemuan, beberapa kali kamu mencuri pandang ke arahku. Aku dag dig dug jadinya. Ingin kusuruh jantungku supaya tenang, tak usah pake lari marathon segala, tapi susah ternyata.

Di akhir acara, kamu mendekat. Aku memasang tampang polos dan senyumku mengembang.

“Apa kabar?” kita berjabat tangan.

“Kuliah dimana sih? Sombong amat, ga pernah ke sini …” aku berbasa-basi.

Kamu terbahak. Matamu masih berbinar. Ceritamu masih tetap heboh. Untuk beberapa saat kita ketawa ketiwi lagi. Seperti dulu.

Hingga kau mengeluarkan dompet dari saku belakang celanamu.

“Waah .. mau ngasih apaan nih?? Ga usah .. ga usah ..” aku cengar-cengir.

“Geer amat …, nih aku mau kasih liat ini” tanganmu mengulurkan sepotong foto.

Hatiku mencelos. Itu fotoku, yang dulu kukasih padamu karena sebelum berpisah kamu memaksa ingin tukeran foto.

“Kenapa memangnya? Sukses buat nakutin tikus?” aku tergelak.

Matamu melembut.

“Bukan bodoh … foto ini selalu aku liatin ke orang-orang kalo ada yang tanya, apa aku udah punya pacar atau belum”

Aku terkesiap.

“Maafin yah, mungkin udah dari dulu harusnya aku … maksudnya, kamu orang terdekat aku, dan aku bodoh slama ini ga sadar kalo kamulah yang paling ngerti aku … ” aku menunduk.

Tak perlu menunggumu menyelesaikan kalimat, aku sudah tahu.

Aku sudah tahu dan aku sedih.

Andaikan kamu mengucapkannya setahun lalu, mungkin aku akan tersipu, aku akan merasa jengah dan tak cengar cengir.

Sayangnya kamu baru datang sekarang. Di saat aku sudah mulai menyembuh.

Di saat hatiku sudah kubuka untuk senyuman yang lain.

Kamu terdiam.

“Aku tahu, aku sudah terlambat …” keluhmu.

Aku juga terdiam.

2005

Hujan gerimis. Agak malas aku menaiki angkot yang berhenti di depanku. Hari ini aku tak bawa motor. Brr … hujannya tak besar tapi dinginnya menusuk. Aku sibuk membenahi tasku di pangkuan hingga tak menyadari seseorang yang berdehem keras di depanku.

Aku mendongak dan mendapatimu.

What a surprise …

“Haaiii … apa kabar??”

Obrolan ngalor ngidul mengalir sepanjang perjalanan. Cerita tentang si anu yang kerja di sana, si anu yang sudah jadi pejabat bla .. bla .. bla. Hingga kau bertanya,

“Kamu masih tinggal di …??”

Aku menggeleng.

“Setelah nikah aku sempat tinggal di … trus pindah lagi ke … terakhir di daerah …” aku menjelaskan.

Aku terdiam karena mendapatimu kaget.

“Kamu sudah nikah??” tuntutmu.

Tunggu dulu … jangan bilang kamu menyangka aku masih melajang setelah bertahun-tahun ini. Berapa tahun sih? Aku sampai lupa menghitung. Lihatlah aku teman, aku sudah berubah pasti, aku sudah ibu-ibu.

Kuteliti kamu. “Kamu udah nikah?” tanyaku balik.

Kamu tersenyum saja. Tak pernah kau jawab hingga kau turun duluan sebelum aku.

“Kamu … kenangan dari masa lalu …” kamu menggeleng dan berpamitan untuk turun.

Aku terpaku.

Maksudnya??

2010

Kutemukan kamu di jejaring Facebook. Berkali aku say hi di wall kamu tapi tak juga kau balas.

Ah sudahlah, mungkin kamu bukan jenis orang yang terlalu senang FB-an (seperti aku)

Tapi kuharap kamu baik-baik saja.

Karena kamu masih jadi salah satu teman masa remajaku yang paling menyenangkan.



































0 komentar:

Post a Comment