Breaking News

31 January, 2012

Fawaz..anakku juga

 
“Fawaz, mau ya tinggal di   uwa…………” aku mengajak anak itu.
 “Ga mau….,”jawabnya ,sambil tidak menatap wajahku
“Kenapa…..”
“Fawaz ……ingin  di sini saja"
“Kalo di sini kan Fawaz   cuma sama kakek……, kalo di rumah uwa…ada  AA Fauzan, Teh Farah dan de Faras,  trus Fawaz     boleh kok minta jajan, minta ditemenin main, minta  dibelikan mainan sama minta diajak jalan jalan…..sama  uwa…
 “Ga mau ……..”ucapnya sambil memainkan  mobil mobilannya.
Setiap kali aku bertemu dengan anak itu……aku selalu berusaha  membujuk  untuk  tinggal bersamaku, tapi setiap kali aku mengajaknya …Fawaz selalu menolaknya.
Hari minggu anak anakku  mau berenang. Aku ingin mengajak  Fawazz . Ternyata Fawazz kelihatan  senang sekali  dengan ajakanku. Fawazz menuju lemari dan  memasukkan  baju ke dalam tas yang tergeletak di kamarnya.
Sesampainya di kolam renang, aku melihat  Fawazz  begitu ceria sekali.Dia juga sudah mulai mendekatiku….dan mengajakku tersenyum .Aku juga melihat  Fawazz sudah mulai berbaur dengan anak anakku…..mereka tampak kompak .  Bahagia mengalir di  dalam hatiku
Tiba tiba  fikiranku menerawang pada  kisah 5 tahun yang lalu. Aku mendapat khabar dari adikku, Rivan  kalau dia ingin menikah dengan  pilihan hatinya.  Aku  bahagia karena akhirnya dia menemukan pasangan hidupnya. Aku dan adikku memang dekat . Apapun yang dia alami selalu curhat padaku. Kalau dia ada keperluan , dia paling berani kepadaku dibanding kakakku yang lain . Mungkin jarak kami yang  dekat yaitu selisih 3 tahun. Meskipun ketika kecil..kami sering bertengkar, namanya waktu anak-anak tapi kami teramat dekat.
Setelah pernikahannya, aku mendapat khabar kalo  Risa hamil  .Senang banget rasanya, adiku mau jadi bapak  dan aku berharap dia bertambah dewasa.
Keluarga mengadakan syukuran 4 bulanan, agar  Risa  diberi kemudahan, kelancaran dalam melahirkan dan anak yang ada dalam kandungan semoga menjadi anak yang sholeh, sehat dan berguna .semua keluarga datang.
Hari itu seharusnya adalah hari bahagia buat Rivan, tapi saat itu  raut bahagia ... tidak kutemukan  .Rivan  tampak kelihatan tidak bersemangat dan lebih banyak diam. Karena kesibukanku  memasak dan menyiapkan  snack - snack kecil  , perhatianku terhadap nya   jadi sedikit teralihkan.
“Aku cuma bilang….selamat ya adikku sayang …sebentar lagi mau jadi Bapak……”
Rivan  hanya tersenyum dan tidak menjawab ucapanku.
“Tidak biasanya  .,” bisikku dalam hati
Biasanya dia selalu ekspresif menceritakan hal hal yang mebuatnya bahagia atau sedih.Semua tanda tanya  itu hanya aku simpan dalam hati saja.
Suatu hari sepulang kerja aku melewati gang menuju  rumah ibuku. Tiba tiba ada perasaan tidak enak menyelimuti hatiku. Inginnya mampir ..tapi  teringat anak anakku yang pasti sudah menunggu.Menuju rumah , perasaan tidak enak terus menghantui.Sambil naik motor, pandangan mataku  menoleh ke arah rumah ku. Seperti ada sesuatu yang memanggil  harus ke rumah ibuku, dimana  adikku  tinggal ,tapi karena aku teringat anak anak…….kuurungkan niat itu.
Sesampainya di rumah, disambut   celotehannya   anakku yang paling besar, Fauzan. Belum juga selesai cerita, tiba tiba ada telp yang isinya mengatakan aku harus ke rumah ibu sekarang juga. Perasaan yang tadi tidak enak…semakin bertambah….., ada apa ini…….lirihku dalam hati.
Aku  telp suamiku dan segera berkemas, katanya dia akan menyusul ke rumah ibuku.  Sesampainya di rumah ibu , aku kaget rumah ibu sudah dipenuhi banyak orang. Seketika itu juga kakiku rasanya lemas untuk berjalan….ada apa ini…sesuatu yang buruk telah terjadi……aku tidak kuat lagi melangkah ke dalam. …kakakku langsung menghampiriku dan mengatakan kalau  adikkku telah berpulang ke rahmatullah. Tiba tiba aku merasakan kursi , meja terbalik dan pandanganku menjadi kabur……aku tak sadarkan diri……….Aku tersadar ketika aku sudah berada di kamar…..dan  aku langsung menghampiri ruang tengah…dimana  jenazah  adikku berada .
Setelah agak tenang…baru aku mendapat penjelasan kalau adikku pagi pagi merasakan dadanya sakit dan ketika di bawa ke dokter …nyawa adikku sudah tidak tertolong lagi…., adikku terkena serangan jantung mendadak….
Rasanya tidak mungkin…..adikku yang begitu sehat…dan tidak tampak sakit   harus meninggalkan ku secepat itu……

Aku melihat  Risa, sedang menangis .Aku merasakan bahkan sangat merasakan  ….dia pasti lebih sedih daripada aku. Pernikahan yang baru berjalan 4 bulan sudah diuji sedemikian berat…belum lagi  Risa sedang mengandung . Aku berusaha  tegar … padahal hatiku saat itu juga sedang sedih sekali . Aku telah kehilangan adikku yang kucintai.Lalu aku melihat ibuku  yang sedang  terdiam di sudut kamar. Aku tak kuasa menahan tangis yang dari tadi ingin membludak…tapi aku harus kuat….aku g boleh cengeng…aku harus menguatkan  Risa  dan ibuku………
Di sela  sela air mataku yang  hampir jatuh jatuh…aku jadi teringat kata – kata Rivan  ketika   
 main ke rumahku 3 hari yang lalu dan mengatakan ….
“Teh  Vanya,  nitip  Risa   dan bayi  yang ada di dalam kandungannya ya…”
Aku sama sekali tidak peka dengan ucapannya…aku malah  bilang…
“ya iya lah …….”  dan Rivan  hanya tersenyum saja.Aku baru sadar….inilah saat terakhir  bersama adikku……..yah  Rivan , adiku  yang kucintai dan kusayangi.
 Sepeninggal  adikku. Aku berusaha memenuhi segala keperluan Risa semampuku. Tentunya aku juga minta ijin sama suamiku. Alhamdulillah dia memberiku support  untuk membantu Risa. Aku bersyukur punya suami yang mengerti keadaan keluargaku.
Di samping  memenuhi kebutuhgan Risa, aku juga  harus  member i  semangat    agar  Risa tidak down dan teringat dengan almarhum adikku.. Aku saja  sebagai kakaknya merasa sangat kehilangan apalagi  Risa .Apalagi sekarang dia sedang mengandung. Ahh..membayangkan bebannya saja aku tak sanggup. Tapi aku harus  kuat……agar orang orang di sekelilingku juga terbawa kuat.

Sejak adikku meninggal, Risa pun pulang lagi ke rumah orang tuanya. Ibunya Risa sudah lama meninggal.Suatu hari  ketika aku main ke rumah Risa un tuk mengantarkan keperluan bayi yang kelak akan lahir, aku melihatnya menangsi tersedu.sedu……hatiku benar benar teriris.
 Aku berkata
“Sabar ya  Risa….Allah lebih sayang sama Rivan. Kesediahan tidak ada gunanya,. yang penting kita mendoakan agar almarhum  Riivan diterima  amal ibadahnya dan diampuni  dosa dosanya. Yang sekarang diharapkan  hanya doa…doa .Kamu boleh menagis tapi jangan sampai sedih berkepanjangan  …..tidak baik .Sekarang kita doakan bayi yang ada dalam kandunganmu ,Risa…….ibu hamil g boleh stress loh……,” Risa  mulai tersenyum…
Tak terasa  9 bulan sudah berlalu. Risa telp  katanya perutnya sudah  terasa mulas. Saat itu aku sedang di kantor , aku minta ijin dulu sama atasanku. Aku bergegas  ke rumahnya. Aku membawanya ke klinik  bersalin terdekat. Sebelum melahirkan , kandungannya diperiksa  dulu. Ternyata dari jam 12 mulas sampai jam 4  sore belum ada bukaan. Dokter yang menangani Risa mengusulkan  agar Risa diinduksi Bukaaan lahir pun mulai ada. Akhirnya saat yang dinantikan  tiba…..seorang bayi mungil  telah lahir ke dunia… Aku memberi  nama bayi itu Fawazz  Fauzia Ramdhani

Ketika  akan membayar  biaya persalinan ,dokter yang menangani persalinan Risa  bertanya padaku  mana ayah dari bayi ini. Mungkin dia heran…dari tadi siang hanya aku yang menunggunya  . Aku jelaskan kalau bapak bayi ini  sudah meninggal. Dokter  itu berkata lagi.
“Bu , ini baru penawaran dari saya……, apabila keluarga ibu tidak keberatan..saya mempunyai temen seorang dokter…ingin sekali punya anak laki……., dia dokter yang baik dan  punya perhatian terhadap anak anak.
Aku mengerti kemana arah pembicaraan dokter  itu.
Aku terdiam ….Risa pun terdiam….sesaaat susasana hening.Di  dalam fikiranku berkecamuk segala hal.Apakah aku sanggup menghidupi anak ini, apakah  aku sanggup membiayai sekolahnya sampai selesai, apakah aku sanggup memberi   perhatian  dan kasih sayang terhadap anak ini…di saat aku juga punya balita 3 orang yang masih kecil kecil….
Aku teringat perekonomianku yang sedang tidak menentu….., selama ini aku membantu Risa pun sebenarnya bukan karena ada..tapi aku berusaha meminjam ke sana ke sini….., meskipun aku dan suami sama sama bekerja…tapi kami tidak punya sampingan lagi…jadi gaji kamipun habis untuk  memenuhi kebutuhan sehari hari dan anak anak sekolah.Tapi aku g mau  Risa tahu……
Dan tawaran dokter  ini…seperti memberikan secercah  kebahagiaan  untuk Fawaz…. dari semua kesulitan yang  sedang aku aku hadapi. Risa..kelihatannya pasrah…bingung …g tahu harus bagaimana….
Di tengah   bekecamuknya hatiku , aku mengingat kembali  setiap hal yang sudah terjadi . Setiap aku merasa kesulitan ….saat itu Allah selalu memberi  jalan kemudahan……, setiap aku berusaha…..selalu  ada jalan untuk mendapatkan rejeki……ntah dari mana….Allah sudah mengatur rejeki manusia…..dalam hati aku menguatkan diri………aku sanggup membiayai  anak ini. Aku sanggup mebesarkan anak ini. Aku tidak mau menjauhkan dia dari keluargaku……..Fawaz   adalah penganti…almarhum adiku….aku harus bisa…..bisa..bisa…bisa…
Aku segera bilang
“Terimakasih dokter atas semua perhatiannya, tapi insya Allah saya juga masih sanggup”
“Tidak apa apa kalau begitu….., saya bantu ibu doa…

Fawaz, bayi mungil itu tinggal bersama Risa, dan aku secara rutin membiayai anak itu. Sampai usaia dua tahun aku  mendapat khabar, suamiku dimutasikan ke luar daerah. Aku sekekuarga harus pindah. Aku bilang sama Risa, biar aku membawa sekalian Fawazz tapi saat itu Risa tidak mau…akupun mengerti….ibu mana yang melepaskan anaknya.Jarak yang jauh membuat aku tidak bisa terus menerus mengikuti perkembangan Fawaaz. Sampai usia 3 tahun , aku mendapat khabar Risa menikah lagi.Aku ikut bahagia…kalau Risa menemukan pelabuhan hatinya. Tapi sayang…..ternyata suaminya tidak menerima kehadiran  Fawaaz di sisinya. Aku menyayangkan kenapa Risa tidak memilih suami yang menerima kehadiran  anaknya. RIsa memilih tinggal di suaminya yang baru, sementara Fawaaz di kakeknya.
Ntah…siapa yang harus dipersalahkan…….haruskah aku menyalahkan Risa….yang mebiarkan Fawazz sendiri bersama kakeknya . Aku melihat saat ini Fawazz memang ingin sama kakeknya…..tidak mau tinggal bersamaku mungkin karena  dari bayi tinggal bersama kakek dan ibunya. Aku tidak mau memaksanya. Pernah suatu hari, aku memaksanya tidur di rumahku tapi 4 jam pertama kelihatan senang…selebihnya Fawaz menangis ingin pulang ke rumah kakeknya…….

Memang aku akui…….  anak akan merasa dekat kalau kita sering berinteraksi dengannya lewat sentuhan atau sering terlibat dalam permainannya atau peka terhadap kebutuhannya. Sementara aku hanya datang sesekali , tidak bisa setiap saat mendampinginya……itu semua karena keadaan ..
Aku pernah bertanya sama anak anak….
“Fauzan, Farah, Faris….bolehkah Fawazz tinggal bersama kita”
Anak anakku menjawab….
“boleh buu….”
Aku seneng sekali mendengar jawaban itu.
Mungkin waktu yang menjawab…….suatu saat Fawazz mau tinggal bersamaku…ingin aku mendidiknya…., menjaganya, merawatnya  dan memberinya kebahagiaan…….karena Fawazz ….anakku juga…….

Lamunanku terbuyarkan dengan suara  Fawazz……
“Uwa..Fawaz     pengen miih……,”
Boeh sayang…….
Ya Allah …mudah mudahan suatu saat nanti….Fawazz mau berkumpul denganku….

0 komentar:

Post a Comment