Breaking News

31 January, 2012

Empat tahun kagum itu...




Ia memberikan banyak motivasi untuk bertahan. Meski tak pernah membicarakan banyak hal, tapi semua itu hanya dalam diam. Entah apa yang membuatnya terasa berbeda. Cintakah ini? Ya, ini hanya cinta biasa. Karena aku sangat tahu siapa diriku. Tak mungkin semua akan berjalan sesuai dengan yang kuinginkan, karena Ia-lah Yang Maha Berkuasa.

Hari-hari terjalani dengan baik. Meski kagum itu tersembunyi. Tapi, aku merasa tak sanggup jika berada di dekatnya saat ada aktivitas itu. Aku berusaha menjauh meski sulit. Aku berdo’a sejak tahun pertemuan dengannya kala itu, semoga Allah perkenankan tentang cinta. Tapi sekali lagi aku tak berani.
Ini hanya mimpi...

Akhirnya aku berhasil jauh darinya. Ia sibuk dengan beberapa urusannya, begitu pula aku. Kami masih bertemu meski tidak sesering seperti dulu.

Ia tetap ramah dan ia tetap tidak tahu tentang aku. Dari kata-katanya atau cerita yang mengalir darinya, seolah-olah...
Ups, tak boleh demikian. Allah sungguh melarang perihal ini. Kisah bertepuk sebelah tangan yang juga malah menyakiti diri sendiri.
Bukannya udah harus membuang jauh-jauh...

Akhirnya waktu terus berjalan. Aku tak lagi banyak berkomunikasi darinya, dan kuharapkan bisa menjauh pula dari memikirkannya meski hanya selenting saja.

Hingga akhirnya karena tidak dapat menahan cerita sendiri, aku mencoba membincangkan dengan teman terpercaya. Bisakah membantuku tapi tetap memegang cerita ini dari yang lain. Ia pun dapat berjanji. Karena aku tahu... aku mengenalnya dengan baik.

Jika hari itu aku bercerita pada temanku, legalah hati terasa. Esoknya, seorang teman lain mengajak untuk bertemu. Aku pun menemuinya di tempat yang ia tunjuk itu.
Belum selesai kendara roda duaku tersandar, ia bercerita bahwa orang yang telah kucoba ceritakan pada teman tadi, minggu depan akan walimah.
Aku terdiam hanya mendengarkan kisahnya. Tidak mampu menangis atau tertawa. Hanya diam antara percaya dan tidak percaya.
Ya, orang yang kuanggap sudah seperti abangku itu... akan walimah minggu depan. Ia bahkan belum memberitahuku, tetapi orang lainlah yang telah lebih dulu memberitahu.

Setelah pertemuan itu, aku menelepon teman yang terberi cerita tadi. Ia hanya memberiku pesan yang harus aku terima dengan lapang. Bahwa semua akan indah pada masanya, meski bukan dengannya. Tapi percayalah...

Akhirnya... aku bisa meredam gemuruh kecamuk di dalam diri. Kemudian berdo’a panjang. Yah, empat tahun kagum itu bertumpuk dan inilah akhirnya...
Sungguh indah nian semua terjalani...
Meski... oh tidak... tidak ada meski...
Semuanya telah terencana dengan baik oleh-Nya. Aku tak berhak membela diri sendiri atau marah pada-Nya. Semua adalah karena cinta yang sudah seharusnya.
Istrinya kelak pasti juga bisa kusebut sebagai kakak. Itulah tujuan akhirnya kini. Bukan lagi berharap untuk bersamanya lagi.

Allahu Akbar...
Aku pasti bisa menjalin ukhuwah lebih indah daripada sekedar kisah ini. Akan kutorehkan pada dunia, bahwa semua kucinta karena-Nya jua. Tak lain karena sesuatu.

Andai cinta adalah karena sesuatu pada seseorang itu, bagaimana jika sesuatu itu hilang, lalu apakah akan berhenti mencintainya?
Cinta tidak bersyarat... karena hanya cinta pada-Nya jua.

Dua hari berlalu sudah, tiba-tiba ia sudah berada di depanku. Membelikan aku makanan, karena sedari siang memang belum makan apapun kecuali minum saja.
Ia bercerita panjang tentang rencana walimahnya hingga malam menjelang. Semua hal rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari yang lain.

Aku hanya tersenyum dan kadang memberi motivasi. Bahwa semoga ia mendapatkan yang terbaik. Aku turut membantunya untuk menyebar undangan pada kawan-kawan yang lain. Serta ia memintaku untuk menjadi salah satu panitia jika tidak berkeberatan.
Aku diam sejenak... tapi kemudian langsung meng-iya-kan sepenuh hati. Aku diberi nomor telepon calon istrinya, bahwa aku bisa membantu dimana nanti.

Ia melarangku untuk melihat akad nikah, karena aku pasti akan mengoloknya karena ucapannya yang agak aneh itu. Ada-ada saja.
Aku bingung... apa yang bisa kuberikan untuknya. Akhirnya kutemukan buku berjudul, “Barakallahu laka...” dengan penulis Salim A. Fillah.

Hari itu tiba. Hari yang juga merupakan miladku di bulan April.

Seharian ampe sore aku di acara itu, sedang teman yang lain datang pas akadnya. Sebelum beranjak pulang selepas acara, ia memanggilku dan istrinya itu... rupanya ia telah bercerita pada istrinya tentang namaku. Kami berfoto sejenak. Lalu aku segera pamit pulang.
Benarkah aku telah plong dengan perasaanku.
Ya Allah, hindarkan aku dari godaan syetan yang terkutuk...

Tiga hari berlalu sejak acara walimahnya. Ia datang bersama istrinya ke tempat kerjaku. Kembali ia membelikan makanan di malam itu. Kami ngobrol ngalor ngidul tak tentu.

Tapi di akhir cerita ini... ia tetap kupanggil abang, dan istrinya kupanggil mbak. Serta istrinya itu tidak berkata apapun selain bercerita hal lain yang membuatku menarik untuk mendengarkannya. Dan hingga kini, tiga tahun terlewati... kami tetap bersaudara...
Tetap bertanya kabar. Tapi bukan dia yang kini kuberi cerita, sekarang aku lebih akrab dengan istrinya. Yah...

Semoga saudaraku-saudaraku kini... itu... selalu dalam naungan Allah SWT.
Maafkan aku yang telah pernah bertanya-tanya pada diri tentang rasa. Alhamdulillah, Allah menjauhkan aku dari semua keburukan.

Maka aku turut berbahagia selamanya...
  
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu...
(Muhasabah cinta by Edcoustic)




*Sebuah kisah kecil di tahun-tahun yang pernah terlewati.
Sebuah kisah yang begitu penting untuk belajar...
(bongkar2 tulisan lama...)