Breaking News

30 January, 2012

Empat Celoteh Anak


Yang Sudah Besar dan Masih Kecil
Oleh : Pida Siswanti

Nailah, gadis cilik 4.5 tahunku, cukup mudah jika dimintai bantuan untuk mengurus adiknya, Farraas yang belum genap 2 tahun. Seperti memakaikan sepatu atau bahkan menggantikan celana. Jika Nailah terlihat sedikit malas, aku punya jurus ampuh, “Mama minta tolong, Nak? Nailah kan sudah besar, sudah bisa bantuin Mama.” Dibilang “sudah besar” biasanya langsung menyulut semangatnya melakukan permintaanku.

Kala ia bertanya mengapa ia harus berangkat sekolah, aku menjawab, “Karena Nailah sudah besar, sudah empat tahun.” Nailah mengangguk-angguk, sangat bangga karena “sudah besar”.

Suatu siang, aku sedang memotong-motong sayuran di lantai untuk masak sore. Aku beranjak membuka kulkas sebentar dan ketika kembali, kulihat Nailah sedang memegang pisau dan bergaya seolah memotong sesuatu. Reflek, aku larang dia.

“Nai. Lepas pisaunya, Nak! Anak kecil belum boleh pakai pisau!” sergahku.

Nailah langsung melepas pisaunya, tapi wajahnya manyun tak setuju,” “Nailah bukan anak kecil, Ma! Nailah udah besar!”

“Nailah masih kecil, sayang! Tuh, lihat belum sebesar Mama, kan?” ujarku memberi pengertian.

“Bukan, Mama! Nailah udah besar!” pekik Nailah tertahan, “Kan kemarin Mama bilang Nailah udah besar. Udah empat tahun. Udah sekolah. Mama lupa, ya?”

Aku tertegun. Kupikir urusan “sudah besar” dan “masih kecil” ini bisa runyam jika dibiarkan. Bisa-bisa gadis cilik itu menilaiku tidak konsisten. Padahal, konsisten kan sangat penting dalam mendidik anak. Aku jadi ingat beberapa kali kami berdebat karena aku melarangnya dengan alasan ia masih kecil, tapi dilain waktu aku menyuruhnya dengan rayuan ia sudah besar. Kurasa kami harus mengganti istilah “sudah besar” dan “masih kecil” ini segera.

“Iya, deh. Mama lupa. Maaf ya, Kak?” ketika kulihat Nailah mengangguk-angguk puas, aku melanjutkan, “Kak, Kak Nailah itu masih kecil, namanya anak-anak. Kalau sudah besar kayak Mama, namanya dewasa.”

“Kalau Adek? Anak-anak juga?”

“Adek masih bayi, nanti kalau sudah lancar ngomongnya, baru deh jadi anak-anak.”

“Ooo, Habis anak-anak nanti, Nailah dewasa? Kayak Mama?”

“Urutannya begini, bayi dulu, terus anak-anak, terus remaja, baru deh dewasa.”

Kulihat Nailah lebih puas dengan istilah baru ini. Memahami jenjang pertumbuhan dengan urutan bayi-anak-remaja-dewasa ternyata lebih mengena. Sejak saat itu, perdebatan karena “sudah besar” dan “masih kecil”, tak pernah terjadi lagi. Jika melarang, aku cukup beralasan “Karena Nailah masih anak-anak”. Jika merayu, aku katakan “Karena Nailah sudah anak-anak, bukan bayi lagi”.

***

Kera(h) Alvin
Oleh : Pida Siswanti

Field Trip keluarga hari Minggu ini ke kebun binatang Ragunan. Project Nailah adalah menggambar binatang. Nailah sudah menggambar zebra, gajah dan rusa. Binatang terakhir pilihan gadis cilik 4.5 tahun itu adalah burung merak.

Banyak pengunjung mengerubungi kandang burung Merak. Sebagian mereka, terutama anak-anak, melingkari Nailah yang asyik menggambar. Beberapa tertawa, karena gambar Nailah memang jauh dari mirip.

Tiba-tiba, terdengar suara wanita mengumumkan sesuatu. Berita anak hilang. “Mohon perhatian, telah ditemukan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, mengaku bernama Alvin, dengan ciri-ciri memakai baju berkerah bergaris-garis oranye. Kepada orang tua yang kehilangan harap menghubungi pusat informasi.”

Selang beberapa lama, pengumuman yang sama diulang. Selama kami menemani Nailah menggambar di dekat kandang burung merak itu, ada sekitar lima kali pengumuman itu diulang. Barangkali orang tua si anak hilang ini tak kunjung datang.

“Alvinnya di mana, Ma?” tanya Nailah tiba-tiba. Pengumuman berulang-ulang itu rupanya menarik perhatiannya. Apalagi beberapa pengunjung lain di sekitar kami berkomentar tentang orang tua Alvin yang tak kunjung menjemput anaknya.

“Di pusat informasi. Tuh, di situ!” aku menunjuk gedung yang bertuliskan pusat informasi, ternyata gedung itu berada tepat di seberang kanan kandang burung merak.

Nailah melongok, lalu mengeja tulisan besar itu, “Pu..sa..t…in..for..ma..si.”

Usai menggambar burung merak, kami beristirahat dan makan bekal di taman dekat kandang burung merak itu, di bawah pohon yang teduh.

“Ma, Nailah mau lihat kera yang bergaris-garis oranye.” pinta Nailah, mulutnya mengudap.

Aku mengernyitkan alis,”Kera bergaris-garis oranye? Memang ada? Nailah lihat di mana?” setahuku tak ada kera bergaris-garis oranye. Kera itu berwarna antara coklat dan abu-abu.

“Itu di situ.” Nailah menunjuk gedung pusat informasi.

“Itu pusat informasi, Kak. Ngga ada kera di situ.” sahutku.

“Itu tadi, Mba itu bilang, di situ ada kera bergaris-garis oranye. Nailah mau lihat.” rajuknya lagi.Aku diam mencerna penjelasannya. Melihatku kebingungan, Nailah berbisik di telingaku, “Namanya Alvin, Ma.”

Mendengar bisikannya, aku langsung terbahak. Ketika kuceritakan pada suamiku, dia juga ikut tertawa. Tapi Nailah manyum, wajahnya cemberut. Aku buru-buru memberi penjelasan, kalau Alvin itu bukan kera tapi anak-anak. Kera itu maksudnya bajunya berkerah, sambil menekankah huruf H dan menunju kerah baju ayahnya memberi contoh, jadi Alvin adalah anak-anak yang memakai baju berkerah, warna bajunya oranye dan ada garis-garis di bajunya itu. Nailah tersipu-sipu mendengar penjelasanku.

***

Unta Tidak Tinggal Di Gurun
Oleh : Pida Siswanti

Ketika melewati kandang unta, Nailah senang tak kepalang. Ia pun bernyanyi,

“Di gurun yang panas, unta emas tinggal.
Ia minum banyak air, dan disimpan di punuknya.
Agar tidak jatuh saat menungganginya.
Aku pegang erat punuknyaaaaaa…..”

Jalan-jalan ke kebun binatang memang kesukaan gadis cilik berusia 4.5 tahun itu, putri pertamaku.

Tiba-tiba, Nailah menggamit tanganku, “Mama bohong!”

Nah! Tak ada angin, tak ada hujan, aku dibilang bohong. “Kok Mama bohong?” tanyaku menyelidik.

“Iya, Mama bohong. Unta tidak tinggal di gurun, Ma! Di sini juga ada! Tuh, untanya!” Nailah menunjuk unta yang tengah dilihatnya.

Aku terkekeh, “Unta itu tadinya tinggal di gurun, sayang!” sahutku, “Dia datang ke sini naik pesawat, atau mungkin naik kapal laut.”

Nailah menatapku, matanya berbinar, “Dia naik pesawat sendirian? Teman-temannya masih tinggal di gurun?”

Aku mengangguk, “Dia naik pesawat ditemani penjaganya. Teman-temannya yang lain, masih tinggal di gurun. Buanyaaaakkk…..”

“Ooo…, Kenapa dia datang ke sini, Ma? Ngga sama teman-temannya saja? Kan di sini jadi sendirian, kesepian ngga punya teman.” tanya Nailah lagi.

“Supaya dia bisa bertemu Nailah hari ini!” sahutku sambil mengelus rambut gadis itu.

Nailah mengangguk-angguk, hidungnya kembang kempis. Kurasa ia sangat senang mendengar unta itu datang jauh-jauh dari gurun naik pesawat, khusus untuk bertemu dengannya. Celotehnya mengingatkanku kembali untuk selalu berhati-hati berucap atau memilih kata-kata saat berbicara dengannya. Anak-anak adalah pengingat yang ulung.

***

Karena Kita Bersaudara
Oleh: Pida Siswanti

Nailah si 4 tahun, dan adiknya, Farraas si 2 tahun, sedang bermain senter. Tak lama, terjadilah saling rebut senter antara Nailah dan adiknya. Farraas menangis ingin minta senter itu dari tangan kakaknya, sementara Nailah bersikeras menolak memberi. “Jem…jem…,” rengek Farraas. Maksudnya pinjem.

“Nailah, Adikmu kan sudah bilang baik-baik, kenapa Nailah ngga mau minjemin senternya? Nailah jadi anak pelit sekarang?” tanyaku membujuk.

Nailah sedikit memberengut, “Tadi Nailah masih pengin main sama senternya, Ma. Jadi pelitnya banyak,” tangan mungilnya memberikan senter itu ke Farraas, “Tapi sekarang, pelitnya sedikit kok, Ma. Tuh, Nailah udah kasih Adek.”

Aku tersenyum mendengar istilah pelitnya banyak dan pelitnya sedikit. Itu memang istilah khas Nailah mengatakan sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang berada di antara, sesuatu yang sedang-sedang saja, banyak dan sedikit. “Begitu, dong! Sama saudara itu harus saling menyayangi,” aku memuji.

“Nailah sama Dek Farraas itu saudara emang?” tanya Nailah. Melihatku mengangguk, ia melanjutkan, “Karena Nailah sama Adek sama sama dari perut Mama?” Aku mengangguk lagi dan Nailah buru-buru bertanya memastikan,”Waktu belum ada di perut Mama. Nailah masih sama Allah di luar bumi?”

Aku sedikit terperangah. Tak menduga gadis cilik itu masih sangat ingat percakapan kami berbulan-bulan lalu.

“Waktu masih sama Allah, Nailah disayang Allah?” Nailah.

“Sekarang juga Allah masih sayang.” Aku.

“Kenapa?” Nailah.

“Karena Allah Maha Penyayang. Kan setiap hari Nailah berdoa Bismillahirrohmanirrohim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Aku

“Maha itu apa? Pengasih itu apa?” masih Nailah.

“Pengasih itu temennya penyayang. Kalau sayang di temenin sama kasih, artinya lebih lebih sayang lagi. Ditambah Maha, kasih sama sayangnya jadi tambah tambah banyak lagi.” Aku. Meminjam istilah khas Nailah.

“Allah juga kasih sayang sama Adek Farraas?” Nailah.

“Iya.” Aku.

“Karena Nailah sama Adek Farraas saudara? Jadi kalau Allah sayang sama Nailah. Allah juga sayang sama Adek Farraas?” Nailah.

Melihatku tersenyum mengangguk, Nailah merasa puas. Ia pun mengajak Farraas kembali bermain.













0 komentar:

Post a Comment