Breaking News

27 January, 2012

Dua Orang Sahabat


Dua orang sahabat, Fay dan May mendapat tugas dari gurunya untuk mendaki sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Sang guru meminta mereka berangkat dari bawah kaki gunung pada pagi hari dan diberikan kesempatan hingga pukul lima sore hari untuk tiba kembali di tempat semula, dimana mereka berangkat pada awalnya.

Pada pukul delapan pagi, kedua orang sahabat ini dilepas oleh sang guru untuk berangkat. Fay yang berpembawaan tenang, kalem, dan sabar mulai berjalan dengan perlahan. Sementara May yang tidak sabaran langsung melesat menaiki gunung dengan berlari. May berfikir bahwa jika ia ingin tiba di bawah kembali pada waktu yang ditentukan maka ia harus secepat mungkin mendaki gunung itu. Setidaknya, dengan mendaki gunung dengan kecepatan semaksimal mungkin maka ia akan menghemat waktu yang cukup lumayan untuk tiba kembali di bawah. Itu artinya bahwa makin banyak waktu yang bisa ia pakai untuk hal-hal lain nantinya. Sebuah pemikiran yang taktis dan efektif.

Sementara Fay ingin melakukan pendakian dengan tenang, dan benar-benar menikmatinya. Baginya tak masalah sejauh mana yang ia bisa daki, yang pasti ia akan membagi dua waktu yang dimilikinya untuk mendaki pulang pergi. Jika mereka start mendaki pada pukul 8 pagi dan harus tiba kembali di tempat semula pukul 5 sore, itu artinya Fay memiliki waktu selama 9 jam. Jadi, ia memiliki 4,5 jam untuk mendaki dan 4,5 jam untuk kembali ke start.

Maka, berpisahlah kedua sahabat itu di garis start. May yang melesat berlari meninggalkan Fay yang memilih untuk melakukan perjalanan dengan santai. Kedua sahabat itu menjalankan takdirnya sendiri-sendiri hingga kelak mereka kembali ke tempat yang sama.

Fay mulai melakukan pendakian dari sisi sebelah kiri. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang memanjang sambil terus memperhatikan sekeliling. Tak ingin ia melepas satu kesempatan pun untuk dapat menikmati apapun yang ia bisa  tangkap dari pemandangan disekelilingnya. Ia menghirup udara gunung yang sejuk dengan penuh semangat, menarik nafas panjang, tersenyum pada bunga-bunga liar  yang bermekaran.

Pada satu ketika, ia melihat sepasang kupu-kupu cantik dengan sayap berwarna-warni terbang dari satu bunga ke bunga lain. Dengan mengendap-endap ia menghampiri kupu-kupu itu dan berusaha untuk meraihnya lembut, namun sayang, kupu-kupu itu lebih gesit. Mereka langsung terbang seketika begitu Fay mengulurkan tangan untuk meraihnya. Sedikit menyesal ia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Dikesempatan lain, ia menemukan beberapa rumah yang ternyata ada di kaki gunung tersebut. Rumah-rumah tersebut dihuni oleh para petani yang menggarap kebun-kebun serta sawah yang ada di sana. Dengan riang, Fay mencoba menyapa mereka dan ia mendapat sambutan yang hangat dari para penghuni rumah itu. Sejenak, Fay menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan mereka. Begitu banyak pelajaran berharga yang dapat ia petik dari percakapan singkat tersebut. Tentang kehidupan, tentang kesederhanaan, tentang keikhlasan menjalani hidup apa adanya. Dan ketika ia pamit mundur untuk meneruskan perjalanan, penduduk di sana menghadiahinya bermacam-macam makanan enak hasil kebun mereka. Tak lupa sebotol besar air segar pegunungan mereka masukkan ke dalam kantong tas Fay untuk mengobati rasa dahaga.

May, yang berangkat dari sisi sebelah kanan gunung, memulai pendakian dengan berlari secepat kilat. Tujuannya hanya satu, ia ingin segera sampai di puncak dan segera turun kembali agar dapat menjadi yang nomor satu di garis finish. Sebelum mulai berlari, kepalanya mendongak memperhatikan puncak gunung yang menjulang tak seberapa tinggi. Aaah, kecil ! aku pasti bisa mendakinya dalam waktu secepat kilat, begitu pikiran May. Ia mencari sesuatu yang bisa ia jadikan patokan dalam mendaki, dan ketika ia menemukan sebuah batu besar yang terlihat di puncak gunung, ia menjadikan batu itu sebagai patokan dan mulailah ia berlari.

Seperempat jalan, May berhenti sejenak dengan nafas memburu. Ia menengok arlojinya, waktunya masih sangat banyak. Namun ia tak mau menyia-nyiakan waktu dengan bersantai. Ia harus kembali berlari kalau ingin jadi orang yang pertama kali berhasil   memenuhi tugas sang guru. Sebelum nafasnya kembali normal, ia mulai berlari kembali. Berlari terus hingga sedikit demi sedikit batu besar di puncak gunung makin kelihatan bentuknya.

Ketika May betul-betul sampai di puncak gunung dan duduk di atas batu besar, nafasnya sudah sangat memburu, tenaganya terkuras habis. Kedua kakinya terasa sakit dan sangat pegal. Sementara bekal air minum dan makanan yang tadi dibawanya sudah habis sejak setengah perjalanan karena energi yang ia keluarkan begitu besar. Rasa haus dan lapar yang menyerangnya, ditambah hari yang sudah surup senja membuat May memaksa dirinya untuk turun kembali. Kali ini tidak dengan kecepatan super seperti tadi mendaki. Ia memilih untuk berjalan cepat, karena May tak mau waktunya habis di jalan. Sepanjang perjalanan turun, ia sibuk meredakan nafasnya yang masih kencang, sebentar-sebentar berhenti untuk memijit-mijit kakinya yang makin nyeri, dan lihat, handuknya sudah basah kuyup oleh keringat.

Tepat pukul 5 sore, May tiba kembali di tempat semula. Dilihatnya di sana sang guru sedang menunggu. Bersama Fay di sampingnya. Mata May melotot. Ia gagal menjadi orang pertama. Padahal ia sudah berjuang mati-matian untuk sampai di puncak dengan cepat. May pun menghampiri guru dan Fay dengan lemas.

“Fay dan May, kalian telah berhasil melaksanakan tugas dariku dengan baik sekali. Aku tak akan menilai siapa pemenangnya, siapa yang lebih dulu sampai dan siapa yang paling belakangan tiba di sini”, Ujar Sang Guru.

May menarik nafas lega. Itu artinya, ia masih belum kalah dari Fay.

“Tapi aku hanya akan bertanya 2 hal pada kalian : pertama, ceritakan apa yang kalian lihat dan kalian alami sepanjang pendakian. Dan kedua, apa hikmah yang bisa kalian petik dari pendakian kalian tersebut ?” sambung Sang Guru lagi. May pun mendapat giliran pertama untuk bercerita.

“Guru, sebelum mulai mendaki, aku melihat ke puncak gunung dan mencari-cari apa yang bisa aku jadikan patokan selama proses pendakian agar aku tak tersesat. Aku menemukan sebuah batu besar yang bisa aku lihat dengan jelas dari kaki gunung, batu itulah yang aku jadikan patokan. Dan aku mulai berlari, memang melelahkan. Tapi aku punya tujuan yang sangat jelas, bahwa aku harus bisa menyelesaikan tugas dari guru dengan sebaik-baiknya dan secepat mungkin. Oleh karena itu aku harus menggunakan waktu seefisien mungkin dan tidak menyia-nyiakannya dengan hal-hal yang tidak perlu yang hanya akan menghambat proses pendakianku menuju puncak.

Aku tidak melihat hal lain sepanjang pendakian kecuali batu itu. Pandanganku aku fokuskan ke sana, aku tidak melihat ke kiri dan ke kanan, tak peduli gangguan di sekitarku, karena tujuanku jelas, puncak gunung. Ketika ada batu-batu kecil menghalangi langkahku, aku tendang batu-batu itu agar tak mengganggu pendakianku. Sempat aku terjatuh karena tersandung ranting-ranting pohon yang begitu mengganggu, namun ranting itu aku patahkan hingga tak lagi menghalangiku.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari tugas Guru adalah, mendaki gunung hingga ke puncak memang sangat melelahkan. Namun aku punya target dan aku harus bisa mencapai target itu dengan segala cara, sebisaku, apapun yang terjadi. Tak peduli keadaan sekeliling seperti apa, aku harus bisa ada di puncak dan kembali turun pada waktu yang telah ditentukan.” May mengakhiri uraian panjang lebarnya dengan senyum puas. Tak dihiraukannya rasa nyeri yang menusuk di kakinya.

Sang Guru tersenyum bijak. Ia mengangguk-angguk dan kemudian memandang Fay, menunggunya bercerita.

Fay berdehem dan memulai ceritanya pelan-pelan.

“Aku mulai mendaki pada pukul 8 pagi. Guru memintaku kembali ke sini tepat pukul 5  sore. Artinya aku punya 9 jam untuk menikmati perjalananku. Aku berasumsi, aku punya 4,5 jam untuk mendaki dan 4,5 jam untuk turun kembali. Maka mulailah aku berjalan. Seingatku, Guru tak memintaku HARUS sampai di puncak gunung. Guru hanya memerintahkan untuk mendaki dan kembali sore hari.

Karenanya, aku nikmati perjalanan itu pelan-pelan. Aku melihat dan menikmati banyak hal sepanjang perjalananku. Pertama, aku melihat begitu banyak bunga-bunga cantik yang tumbuh liar dan bermekaran di sepanjang jalan. Berwarna warni, indah sekali. Sebenarnya aku ingin memetik sebagian dan menyerahkannya untuk Guru, tapi aku tak tega. Aku tak ingin merusak bunga-bunga itu. Biarlah mereka tumbuh subur dan liar tanpa dirusak oleh tangan-tangan manusia.

Kedua, aku menemukan sepasang kupu-kupu yang sangat indah. Corak sayapnya begitu unik dan belum pernah aku lihat di manapun. Aku terpesona oleh kecantikan sayap kupu-kupu itu dan menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengamati mereka hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain untuk menghirup sarinya. Mereka terbang bersisian, tak pernah terpisah. Mengajarkan aku satu hal : tentang kesetiaan. Sempat aku berusaha menangkapnya, tapi mereka lebih gesit dan keburu terbang hinggap ke bunga yang lain. Aku tak ingin mengganggunya dan memilih untuk kembali berjalan.

Tak berapa jauh aku beranjak dari padang kembang tersebut, aku menemukan beberapa rumah. Aku sempat kaget karena kupikir gunung itu tak ada penduduknya. Ternyata ada juga orang-orang yang tinggal dan hidup di sana. Aku menyempatkan diri untuk mampir dan berkenalan dengan mereka.

Ternyata, mereka adalah penduduk asli di sana. Mereka hidup dari bertani dan berkebun. Mereka tak pernah turun ke kota karena seluruh kebutuhan hidup mereka tercukupi dari hasil kebun dan sawahnya. Anak-anak mereka bersekolah di sekolah kecamatan yang terletak jauh dari tempat tinggal mereka. Mereka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer.

Di sana, aku banyak belajar tentang hidup, Guru. Mereka begitu sederhana menyikapi kehidupan ini. Keikhlasan mereka membuatku sadar, bahwa sesungguhnya hidup itu memang untuk disyukuri bukan untuk dijalani dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Ketika aku pamit untuk melanjutkan perjalanan, mereka membekaliku dengan banyak makanan hasil kebun juga air yang cukup untuk aku minum sepanjang jalan. Bekal dari mereka itulah yang membuatku kuat dan tidak merasa lapar.

Guru, karena terlalu asyik bercakap dengan penduduk itu, aku sampai lupa waktu. Ternyata waktu 4,5 jam ku untuk mendaki sudah habis, sementara perjalananku baru sampai di tengah, masih jauh menuju puncak. Tapi karena aku tak ingin terlambat, aku memutuskan untuk memutar arah dan kembali ke bawah. Kali ini aku melewati rute yang berbeda dari rute awal.

Aku melewati sebuah anak sungai yang airnya sangat jernih dan berbatu. Aku beristirahat di sana, sambil membuka bekal dan menikmati udara segar. Udara pegunungan yang sangat jarang aku temui di kota, kicauan burung yang sahut menyahut, angin yang bertiup sepoi-sepoi, membuatku merasa begitu segar dan siap kembali melanjutkan langkah.

Guru, ada sangat banyak hikmah yang bisa kupetik dari perjalanan ini. Tentang bagaimana aku harus menyikapi hidupku dengan penuh syukur, ikhlas, dan pelajaran kesetiaan dari sepasang kupu-kupu itu, tentang bagaimana aku harus menjalani hidup tidak dengan penuh ambisi yang menghalalkan berbagai cara. Ah, Guru, terima kasih banyak karena engkau telah memintaku melakukan tugas ini. Terima kasih,” Fay mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Setelah mendengar cerita mereka berdua, Sang Guru akhirnya berkomentar.

“Fay dan May, kalian telah melaksanakan tugas dariku dengan baik. Kalian punya tujuan masing-masing dan menjalaninya dengan strategi masing-masing pula. Itu bagus. Tapi benar kata Fay, aku tidak meminta kalian untuk sampai di puncak. Aku hanya meminta kalian untuk mendaki dan tiba kembali di sini sore hari. Itu artinya, kalian bebas mendaki sampai di mana saja. Entah setengah jalan ataupun menyempurnakan sampai ke puncak.

May, mungkin punya target harus mendaki sampai puncak. Tapi May lupa, bahwa kita boleh memiliki target tapi jangan sampai target kita itu membuat kita lupa bagaimana menikmati hidup sebaik-baiknya. May tak punya banyak waktu untuk mengamati sekeliling, hingga ketika sampai di puncak gunung, ia hanya akan merasakan kelelahan yang amat sangat dan satu-satunya tujuannya adalah turun kembali sesegera mungkin.

Sesungguhnya, May kehilangan sangat banyak pelajaran di sana. Kehilangan banyak waktu berharga yang harusnya bisa dinikmati sepanjang jalan. Dan Fay menemukan itu. Ingat, bukan berapa lama kita sampai ke puncak atau berhasil tidaknya kita sampai ke sana. Tapi yang terpenting adalah, berapa banyak pelajaran hidup dan hikmah yang dapat kita petik selama perjalanan kita itu. Menyerap seluruh pelajaran itu untuk bekal kita di kemudian hari.” 

Namun, menjadi seperti Fay atau May kah kita, tetap hidup adalah pilihan Keduanya tak ada yang salah selama kita mempunyai argument yang tetap untuk apapun yang kita pilih dalam hidup.




Bandung, 10 November 2010

0 komentar:

Post a Comment