Breaking News

24 January, 2012

DUA JANDA



Aku memanggil beliau Emak. Kata Emak, aku ditinggal bapak  ke rahmatullah kala aku masih berada dalam kandungan. Sehingga ketika aku lahir, hanya kami berdua yang tinggal dalam rumah geribik bertemankan lampu telpok. Itu pun hanya dapat untuk tidur dan memasak. Untuk mandi, kami menumpang di tetangga kanan kiri.

Untuk makan kami sehari-hari, Emak berjualan jajanan anak di sebuah SD seperti kue randakemul, kue kojek, kue kamir, dan lain-lain. Itu jajanan khas di daerah kami. Kalau anak sekolah sudah pulang, Emak menjualnya dengan keliling kampung. Meski kaki Emak cacat karena digigit ular sewaktu masih muda, Emak tak kenal lelah mengais rejeki.

Sedang untuk sekolah, Alhamdulillah aku bisa sekolah di SD INPRES, kalau sekarang namanya sekolah negeri. Saat itu biaya sekolah tidak semahal sekarang. Biaya BP3 atau yang sekarang dikenal dengan SPP, hanya lima ratus rupiah.

Namun, mungkin karena selama dalam kandungan aku kurang gizi lantaran kemiskinan, kata orang aku terlahir agak  terbelakang, cenderung idiot. Dan mungkin benar juga kata mereka, karena aku selalu tidak naik kelas. Akhirnya Emak terpaksa menyuruhku untuk berhenti sekolah, cukup sampai kelas tiga. Aku pun menurut saja.

Dalam keseharian aku di rumah, terkadang ikut Emak ke pasar, atau turut berjualan di sekolah dan berkeliling. Hingga beranjak dewasa, aku mulai berusaha mencari pekerjaan demi membantu Emak. Apalagi rumah geribik kami mulai keropos dan atap pun pada bocor.

Menjadi pembantu dari rumah ke rumah aku lakoni. Ke Jakarta pun sempat aku rambah sebagai pembantu di salah satu warteg. Namun karena semenjak kecil selalu bersama Emak, aku merasa kasihan meninggalkan Emak sebatang kara. Akhirnya aku pun pulang dari rantau. Dan aku memutuskan untuk selalu menemani Emak.

Suatu malam saat bercengkrama menikmati remang-remang lampu teplok, Emak bertanya,

“Nok, apakah apakah kamu tidak ingin menikah? Emak perhatikan kamu tidak pernah sama skali membahas mengenai pria maupun pernikahan. Kalau ingin dijodohkan, pasti Emak carikan.” Nok adalah panggilan kesayangan bagi anak perempuan di daerahku.

“Mak, Mak, laki-laki mana yang bakal suka sama aku, perempuan gendut yang miskin. Sekolah pun tidak tamat SD,” entah mengapa, kalimat itu begitu cepat keluar dari mulutku.

Emak yang mendengarkan itu menampakkan raut kesedihan. Suasana pun semakin hening. Lampu teplok pun semakin meredup dibarengi dengan redupnya mata yang tak kuat lagi untuk membuka. Kami pun terlelap di atas tempat tidur kayu tanpa kasur, hanya beralaskan tikar. Alhamdulillah ada bantal kapuk yang membuat tidur kami terasa lebih nikmat.

Suatu hari, dalam usiaku yang tidak lagi muda, ada lelaki yang berhasrat untuk meminangku. Karena alasan usiaku yang menginjak kepala tiga, aku memutuskan tanpa ba-bi-bu. Aku menerimanya. Pesta sangat sederhana pun mengiringi rasa bahagiaku.

Aku mulai membayangkan hari-hari kami tidak akan sepi lagi ketika ada penghuni baru dalam rumah kami. Dan aku pun berani bermimpi untuk menimang bayi mungil yang akan memanggilku ‘Emak’ dan ‘Embah’ ke Emakku.

Namun mungkin inilah yang telah Allah tuliskan dalam lauhil mahfuz tentang hidupku. Mimpi-mimpiku itu hanya bagai bola kristal yang mengelinding lalu pecah, “praankk…” dan menjadi kepingan-kepingan yang tak dapat disatukan lagi. Tiga hari setelah pernikahan, suamiku raib entah kemana. Tiada kabar berita maupun sepatah kata darinya. Aku berusaha mencari tahu ke orangtua dan semua kerabatnya. Namun hasilnya nihil, mereka pun tak tahu, bahkan menyalahkanku.

Hingga kini, aku tinggal berdua lagi bersama Emak. Kini tidak lagi satu janda, namun dua janda yang menempati gubuk itu, Emak dan aku. Entah untuk sampai kapan. Mungkin sampai ajal menjemput. Hanya Allah yang Maha Tahu.

(cerita ini diambil dari kisah nyata seseorang yang aku kenal)













0 komentar:

Post a Comment