Breaking News

01 February, 2012

DILEMA CINTA (PART. 1)

 
Muda, berenergi, penuh semangat. Kukira itu cukup untuk bekal menapaki hidup setelah bisa mandiri selepas sekolah kejuruan. Bertekad untuk bisa mengabdi pada orang tua dan masyarakat, lalu mungkin dikaruniai jodoh terindah di dunia. Impian itu terasa begitu indah, saat mulai mengenal sosok tampan, tinggi dan hitam manis yang penuh canda dan terkesan kharismatik. Semua larangan orang tua dan ketakutan keluarga tidak kuindahkan atas nama cinta. Saat itu semua terkesan nyaman, aman dan benar. Perbedaan keyakinan pun tidak jadi penghalang, lagi-lagi atas nama cinta. Walaupun baru berkenalan, kuputuskan untuk menerima lamarannya. Awal pernikahan yang terasa bahagia, hanya awalnya saja. Baru saja mengecap indahnya bulan madu, petir itu datang. Dia sudah menikah, bahkan punya anak dari istrinya. Seorang anak laki-laki,yang sungguh kukasihan padanya. Hidupnya seperti kapas, mengambang kemana angin membawa. Kedua orang tuanya seperti tidak menginginkan kehadirannya. Aku mungkin terlahir dengan hati yang dipenuhi kepasrahan luar biasa. Aku diam, tangisan itu kupendam dalam hati. Dia tidak memberi pembelaan apapun, hanya segera menceraikan perempuan yang sudah tidak lagi hidup bersamanya. Aku merasa dibohongi, tapi apa dayaku karena nasi sudah jadi bubur. Terlambat untuk mundur, dan tidak mungkin berpisah karena kami dikaruniai bayi perempuan mungil yang lucu dan menggoda hati. Aku bersabar demi putri kecil kami dan demi rumah tanggaku.

Tidak ada komunikasi yang lancar diantara kami. Tidak ada kata-kata atau diskusi kecil yang biasa terjadi dalam setiap rumah tangga normal. Aku harus bekerja dari pagi sampai siang, lalu dirumah masih harus mengurus anak dan suami. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja agar bisa merawat anak kami, aku juga tidak protes. Kuanggap keinginannya demi kebaikan si kecil. Karena setelah Naira, putri kami berumur setahun dan bisa kuajak ketempat kerja yang jaraknya hanya 2 rumah dari rumah kami, dia pun mulai kembali bekerja. Memang bukan kerja kantoran dan bergengsi, tapi tetap aku menghormati dia sebagai kepala rumah tangga. Berapapun yang dia berikan, kuterima dengan keihklasan utuh. Apa aku mengeluh? Tidak, aku bukan tidak mau, tapi aku tidak berani. Karena sedikit saja keluh kesahku,  pasti akan jadi bara api yang besar baginya. Aku terkejut dengan temperamennya yang emosional, tapi aku bersabar demi buah hatiku.

Ternyata kesabaranku masih diuji lagi. Dia selingkuh dengan perempuan penggoda yang masih satu kampung dengan kami. Aku malu, malu sampai keujung jari kakiku. Rasanya mau kusembunyikan wajahku,atau berlari sejauh mungkin. Tapi tak kuasa karena langkahku digayuti perempuan kecilku. Apa yang kurang dariku? Apa yang perempuan itu punya tapi tidak kumiliki? Apa karena dia lebih cantik dariku? Tuhan, apakah aku akan sanggup menelan pil pahit ini. Ternyata ajaib, aku memang sanggup menelannya. Terbukti setelah ayahku mengamuk dan menyerang rumah kami membabi buta karena tahu menantunya selingkuh, dia berhenti menemui perempuan itu dan kembali padaku dan Naira. Lagi-lagi kami tidak membicarakan permasalahan yang ada. Kami memilih untuk menguncinya di sebuah kotak, lalu menyimpan kotak itu dikolong ranjang. Seperti tidak terjadi apa-apa, kami tertawa lagi, walau dalam hati aku tahu, tawaku palsu. Bahagiaku semu, senangku sementara.

*Bersambung*